Wednesday, August 18, 2004

ada luka

Sungai tak selalu mengalir di arus yang dipenuhi batu-batu sungai yang hitam, indah, licin, dangkal dan mengundang kita untuk merasakan sejuknya. Ada arus sungai yang lain yang harus kau lihat. Arus sungai di mana hutan juga tak begitu bersahabat. Binatang-binatang dongeng yang begitu kelihatan senang hidup di dunianya takkan mau meminum airnya. Sungainya dangkal, tapi batu-batu di dalamnya tidak seperti pada arus sungai sebelumnya. Batu-batunya hitam, mengkilap, dan tajam. Mampu menggores telapakmu. Meninggalkan luka yang membekas selama hidup. Rasa sakit yang selalu kau ingat. Dan ketakutan untuk kembali ke sana. Sungai seperti itu yang harus kau hindari. Semua yang ada di sungai itu penuh peringatan yang harus kau ingat. Tak seperti arus sungai dengan batu-batu tumpul yang tidak melukai kakimu, dan airnya begitu bening dan mengundang binatang-binatang manja meminum airnya, yang memberi jiwamu tenang, tanpa ketakutan akan terluka. Air sungai ini hangat. Tak begitu dingin. Cocok untuk kakimu yang ingin beristirahat dari penat. Kau pasti betah berlama-lama merendam letih kakimu dalam arusnya.Arus sungai yang kelam itu tidak baik. Agak kabur dan kusam. Bisa saja kau melihat sungai itu penuh batu-batu indah yang memanggilmu untuk menyentuhnya. Tapi saat kau masuk ke dalam sungai itu dan merendam kakimu, kau akan rasakan tusukan di sana sini, kau akan temukan sakit dari kepalsuan yang mereka biaskan ke permukaan. Batu-batu itu pembohong munafik yang hanya bisa menunjukan sisi manis mereka dalam remang, semua ketidakjelasan yang menipu. Dan terus seperti itu.tak pernah tahu apa yang mereka inginkan. Dan karena mereka batu, mereka tak akan pernah perduli bahwa mereka telah melukaimu. Parahnya mereka akan terus melukaimu jika kau tak pergi dari situ, menghindari mereka. Mereka sudah terlalu dingin dengan semua kemunafikan. Selama hidupnya yang terkutuk direndam oleh air dingin sungai itu yang mematikan perasaannya. Membuat mereka tak mampu berpikir sehat. Pikiran mereka mungkin mati. Bila kau tetap mencoba melalui tempat itupun. Masih juga berusaha melewati sungai itu, naikilah sampan, perahu, batang kayu, atau apa saja yang bisa membuatmu terhindar dari batu-batu sungai yang tajam dan dingin itu. Karena saat kau melewati sungai itu pada musim dingin akan lebih terasa kematian di arusnya.terlebih dengan kesunyian musim. Di saat semua mahluk tertidur, dan tak ada yang bermain di bawah langit dan di atas jagad. Semuanya hilang dari pandangan. Sejauh mata memandang hanya ada putih.Tak ada yang tahu apakah ada penyihir jahat bernaung di balik gelapnya hutan yang dilalui arus kelabu sungai itu. Di antara angin ada nyanyi gagak yang sembilu, menyayat hati, seakan jauh di sana ada jiwa yang dengan sedih harus menghentikan hidup. tak semua jiwa bersahabat. tak semua jiwa punya cinta.

ada kisah

Seumur hidupmu kau mencari alasan kenapa kau harus hidup. Harus bekerja. Harus lahir. Harus makan. Harus bekerja. Kemudian harus dipecat. Harus tidur. Dan harus melakukan semuanya seperti itu saja. Harus melewati semuanya dengan seperti itu. Dan kau tak pernah tahu apa hidupmu akan berakhir dengan mutiara lautan memenuhi tempat tidur tuamu. Atau berakhir dengan senyuman orang-orang yang singgah, datang dan pergi dalam hidupmu. Ada jawaban yang harus dicari. Dan ada perjuangan yang panjang, dan pasti menyakitkan. Harus, harus mencari jawaban dari semua rantai kejadian. Dari saat kau lahir. Mencari jawaban dengan keringat, dan mungkin dengan perasaan tak sanggup lagi dengan semuanya. Ada perjuangan yang panjang. Sampai kau melihat pintu jawaban bersinar emas, ungu, kuning itu menyambutmu. Semua rasa curigamu akan sesuatu yang lebih kuat, lebih berkuasa, lebih megah yang selama ini kau bayangkan.Sudah pernah menghitung berapa kali tubuhmu jatuh, dan terluka di sana-sini, lalu kau putuskan untuk bangkit lagi? Tubuhmu jatuh, dan semuanya jadi kacau, dan tak pernah ada yang begitu kacau saat kau jatuh.Ada sungai yang belum pernah kau lalui. Kebenaran yang belum kau sentuh kitabnya. Kepedihan yang belum pernah kau rasakan. Semua itu punya harga. Harga yang harus kau bayar untuk meraih semua kebijaksanaan hidup. Kesabaran akan penantian dan perjuangan yang kau lakukan. Hidup ini menjadi pecah dalam dimensi-dimensi yang harus kau jalani tiap harinya. Pahit. Saat harus melepaskan semuanya. Dan mungkin bahagia saat kau menerima semua kembali. Bunyi-bunyian dari hutan yang memanggilmu berlari di antara pohon-pohon yang hidup di dalam dan di antaranya. Apakah hidupmu pernah begitu berkhayal, bertemu dengan orang-orang yang bisa bercerita padamu tentang kisah yang begitu indah. Membuatmu mencintai mereka karena cerita mereka begitu indah. Begitu indah. Lebih indah dari mimpi buruk manapun. Dia menceritakan khayal yang ia ceritakan pada banyak orang, termasuk kau. Kau mencintai orang-orang yang menjual kisah indah. Apa yang terjadi bila ia ternyata menceritakan kisah indah yang ternyata memang betul ada, dan kau hanya terlalu tidak berani untuk menerima kenyataan bahwa kau sudah kehilangan perasaanmu akan keindahan dunia. Kau sudah tidak terlalu bijak untuk menerima dunia saat masih begitu indah buatmu. Hidupmu mulai penuh perhitungan dan ambisi, amarah, dan tetap terus berjuang. Saat semua orang membencimu karena kau berubah dari anak kecil yang lugu menjadi pialang saham dari neraka yang mencibir kekalahan saingannya, dunia tetap mencintai tukang cerita itu. Tukang cerita yang menjual mimpi dan menceritakan kisah indah yang sudah penuh dengan mimpi-mimpi dan tambahan sana-sini. Membuat kisah indah menjadi semakin indah. Lalu kau membenci dirimu, karena tak bisa mencintai pencerita itu dan cerita yang ia ceritakan untukmu.Bagaimana kau berusaha bercerita dalam kegembiraan, padahal dulu kau seperti burung yang dengan gampangnya mengumbar kesedihan yang ia rasakan. Melompat ke dahan yang satu, ke dahan yang lain. Menceritakan kesedihan dan mengangisi dunia yang tak pernah baik kepadamu, membuatmu harus menerima permainan yang ia pancangkan sebelum semesta bahkan dimulai.Kau duduk di balkon itu tiap senja dalam hidupmu. Merengungi kesendirian dan haris esok yang menanti saat jam menjelang. Ada kisah di sana. Ada kisah.

ada awal

Aku percaya bahwa hidup itu penuh dengan keseimbangan. Ada elemen-elemen yang membuat semuanya setara. Seperti halnya timbangan yang bagian kiri dan kanannya tidak ada yang lebih berat dari yang lain. Saat semua terasa hitam, tanpa harapan, tak ada cahaya yang cukup jelas untuk kau lihat dan kau gunakan untuk terangmu-yang rasanya seperti neraka (dan kau bahkan belum pernah menjadi bagian dari siksaan tiada akhir itu), kini semuanya berubah. Kini, dalam momentum waktu yang terasa begitu tepat. Tepat untuk semuanya. Tepat untukmu memancarkan sinarmu. Melukiskan senyum, yang dulu sempat tertahan dalam sakit dan penjara kesendirian jiwamu. Ini saatnya tersenyum. Membuka jendela kesedihan, mengizinkan sedikit sinar keyakinan dan ketidakpedulian akan badai hidup yang menghadang. Kau mencoba menerima semuanya, dengan cahaya kecil yang mulai tumbuh dalam dirimu. Mulai menjadi bagian dari sebuah jiwa baru yang menggeliat dalam darahmu. Mungkin semuanya hanya bagian dari misteri hidup buat jiwa-jiwa yang masih berjalan dalam hidup fana. Tapi ada awal dari sebuah akhir kesakitan. Tak ada sungai penderitaan yang begitu panjang sampai kau tidak diizinkan untuk tersenyum. Apakah ada kepercayaan yang percaya bahwa garis tangan seseorang telah dicap untuk menderita selama hidupnya. Bahkan saat ia lahir kembali. Apakah leluhurnya melakukan kesalahan amat sangat, begitu berat, sampai keturunannya tak diizinkan untuk melangkah dengan sedikit sinar di matanya yang terus mengeluh.
Ada awal. Ada permulaan yang baru. Langkah-langkah tertatih, masih baru belajar. Melihat dunia ini dengan sudut pandang baru. Melihat dunia sebagai rumah besar penuh misteri, tapi kali ini begitu terang, tak ada kecurigaan akan kejahatan hidup dan semua malam yang meracuni kesendirian dan memaksa mu untuk menyerah dan membenci semua. Masih ada lilin, kunang-kunang, pelita, yang bisa menemani jalanmu. Ada awal yang baru buatmu, buatku, buat jiwa-jiwa yang ingin agar awal itu ada lagi buat mereka. Ini bukan buku yang baru. Masih kitab yang lama. Tapi kita akan menulisnya dengan pena yang baru. Pena yang baru. Yang isinya masih segar. Tintanya masih pekat dan menebarkan aroma semangat dalam tiap kalimat yang akan ia tuliskan di tiap lembar kitab ini. Semua tanda-tanda baca harus dimengerti ulang. Agar kita tidak salah mengerti. Agar kita benar-benar bisa membacanya. Agar kita bisa menulis kalimat yang cocok di atas tiap lembar halaman kitab ini. Mungkin halaman terakhir yang kita tulis dengan tinta lama itu harus dilipat. Supaya kita selalu ingat bahwa mereka pernah ada di sana. Tulisan-tulisan yang sudah menguning di halaman-halaman itu. Tinta yang sudah menua, membuat lembar kitab menjadi usang, dan berbau debu. Fragmen-fragmen kertas yang mulai membaur dengan usia. Semuanya termakan waktu.
Tapi saat ini ada halaman kitab yang baru. Mereka masih kosong. Menanti untuk kita menuliskan kalimat-kalimat dari kisah-kisah penuh perjuangan dari jiwa-jiwa. Tak ada yang tau apakah kisah-kisah lama akan terulang. Mudah-mudahan tulisan-tulisan itu tidak banyak berubah. Walaupun kita harus mengulang beberapa. Tapi harus ada beberapa bagian yang membuat kita tersenyum dan berapi-api saat kita menuliskannya.
Halaman tua itu harus dilipat. Supaya sewaktu-waktu kita dapat membacanya. Menuliskan sesuatu tentang mereka. Menuliskan sesuatu dengan pena baru ini, yang membawa kita ke sebuah awal. Awal yang baru. Yakinlah, akan ada sebuah awal yang baru.