<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-7551881</id><updated>2011-04-21T11:27:22.591-07:00</updated><title type='text'>colors</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://stanley-o.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7551881/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://stanley-o.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>stanley-O</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13041152574806417870</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>41</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7551881.post-109289797481965592</id><published>2004-08-18T23:44:00.000-07:00</published><updated>2004-08-18T23:46:14.820-07:00</updated><title type='text'>ada luka</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#33cc00;"&gt;Sungai tak selalu mengalir di arus yang dipenuhi batu-batu sungai yang hitam, indah, licin, dangkal dan mengundang kita untuk merasakan sejuknya. Ada arus sungai yang lain yang harus kau lihat. Arus sungai di mana hutan juga tak begitu bersahabat. Binatang-binatang dongeng yang begitu kelihatan senang hidup di dunianya takkan mau meminum airnya. Sungainya dangkal, tapi batu-batu di dalamnya tidak seperti pada arus sungai sebelumnya. Batu-batunya hitam, mengkilap, dan tajam. Mampu menggores telapakmu. Meninggalkan luka yang membekas selama hidup. Rasa sakit yang selalu kau ingat. Dan ketakutan untuk kembali ke sana. Sungai seperti itu yang harus kau hindari. Semua yang ada di sungai itu penuh peringatan yang harus kau ingat. Tak seperti arus sungai dengan batu-batu tumpul yang tidak melukai kakimu, dan airnya begitu bening dan mengundang binatang-binatang manja meminum airnya, yang memberi jiwamu tenang, tanpa ketakutan akan terluka. Air sungai ini hangat. Tak begitu dingin. Cocok untuk kakimu yang ingin beristirahat dari penat. Kau pasti betah berlama-lama merendam letih kakimu dalam arusnya.Arus sungai yang kelam itu tidak baik. Agak kabur dan kusam. Bisa saja kau melihat sungai itu penuh batu-batu indah yang memanggilmu untuk menyentuhnya. Tapi saat kau masuk ke dalam sungai itu dan merendam kakimu, kau akan rasakan tusukan di sana sini, kau akan temukan sakit dari kepalsuan yang mereka biaskan ke permukaan. Batu-batu itu pembohong munafik yang hanya bisa menunjukan sisi manis mereka dalam remang, semua ketidakjelasan yang menipu. Dan terus seperti itu.tak pernah tahu apa yang mereka inginkan. Dan karena mereka batu, mereka tak akan pernah perduli bahwa mereka telah melukaimu. Parahnya mereka akan terus melukaimu jika kau tak pergi dari situ, menghindari mereka. Mereka sudah terlalu dingin dengan semua kemunafikan. Selama hidupnya yang terkutuk direndam oleh air dingin sungai itu yang mematikan perasaannya. Membuat mereka tak mampu berpikir sehat. Pikiran mereka mungkin mati. Bila kau tetap mencoba melalui tempat itupun. Masih juga berusaha melewati sungai itu, naikilah sampan, perahu, batang kayu, atau apa saja yang bisa membuatmu terhindar dari batu-batu sungai yang tajam dan dingin itu. Karena saat kau melewati sungai itu pada musim dingin akan lebih terasa kematian di arusnya.terlebih dengan kesunyian musim. Di saat semua mahluk tertidur, dan tak ada yang bermain di bawah langit dan di atas jagad. Semuanya hilang dari pandangan. Sejauh mata memandang hanya ada putih.Tak ada yang tahu apakah ada penyihir jahat bernaung di balik gelapnya hutan yang dilalui arus kelabu sungai itu. Di antara angin ada nyanyi gagak yang sembilu, menyayat hati, seakan jauh di sana ada jiwa yang dengan sedih harus menghentikan hidup. tak semua jiwa bersahabat. tak semua jiwa punya cinta.&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7551881-109289797481965592?l=stanley-o.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://stanley-o.blogspot.com/feeds/109289797481965592/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7551881&amp;postID=109289797481965592' title='9 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7551881/posts/default/109289797481965592'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7551881/posts/default/109289797481965592'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://stanley-o.blogspot.com/2004/08/ada-luka.html' title='ada luka'/><author><name>stanley-O</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13041152574806417870</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>9</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7551881.post-109289784692914236</id><published>2004-08-18T23:42:00.000-07:00</published><updated>2004-08-18T23:44:06.930-07:00</updated><title type='text'>ada kisah</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#6600cc;"&gt;Seumur hidupmu kau mencari alasan kenapa kau harus hidup. Harus bekerja. Harus lahir. Harus makan. Harus bekerja. Kemudian harus dipecat. Harus tidur. Dan harus melakukan semuanya seperti itu saja. Harus melewati semuanya dengan seperti itu. Dan kau tak pernah tahu apa hidupmu akan berakhir dengan mutiara lautan memenuhi tempat tidur tuamu. Atau berakhir dengan senyuman orang-orang yang singgah, datang dan pergi dalam hidupmu. Ada jawaban yang harus dicari. Dan ada perjuangan yang panjang, dan pasti menyakitkan. Harus, harus mencari jawaban dari semua rantai kejadian. Dari saat kau lahir. Mencari jawaban dengan keringat, dan mungkin dengan perasaan tak sanggup lagi dengan semuanya. Ada perjuangan yang panjang. Sampai kau melihat pintu jawaban bersinar emas, ungu, kuning itu menyambutmu. Semua rasa curigamu akan sesuatu yang lebih kuat, lebih berkuasa, lebih megah yang selama ini kau bayangkan.Sudah pernah menghitung berapa kali tubuhmu jatuh, dan terluka di sana-sini, lalu kau putuskan untuk bangkit lagi? Tubuhmu jatuh, dan semuanya jadi kacau, dan tak pernah ada yang begitu kacau saat kau jatuh.Ada sungai yang belum pernah kau lalui. Kebenaran yang belum kau sentuh kitabnya. Kepedihan yang belum  pernah kau rasakan. Semua itu punya harga. Harga yang harus kau bayar untuk meraih semua kebijaksanaan hidup. Kesabaran akan penantian dan perjuangan yang kau lakukan. Hidup ini menjadi pecah dalam dimensi-dimensi yang harus kau jalani tiap harinya. Pahit. Saat harus melepaskan semuanya. Dan mungkin bahagia saat kau menerima semua kembali. Bunyi-bunyian dari hutan yang memanggilmu berlari di antara pohon-pohon yang hidup di dalam dan di antaranya. Apakah hidupmu pernah begitu berkhayal, bertemu dengan orang-orang yang bisa bercerita padamu tentang kisah yang begitu indah. Membuatmu mencintai mereka karena cerita mereka begitu indah. Begitu indah. Lebih indah dari mimpi buruk manapun. Dia menceritakan khayal yang ia ceritakan pada banyak orang, termasuk kau. Kau mencintai orang-orang yang menjual kisah indah. Apa yang terjadi bila ia ternyata menceritakan kisah indah yang ternyata memang betul ada, dan kau hanya terlalu tidak berani untuk menerima kenyataan bahwa kau sudah kehilangan perasaanmu akan keindahan dunia. Kau sudah tidak terlalu bijak untuk menerima dunia saat masih begitu indah buatmu. Hidupmu mulai penuh perhitungan dan ambisi, amarah, dan tetap terus berjuang. Saat semua orang membencimu karena kau berubah dari anak kecil yang lugu menjadi pialang saham dari neraka yang mencibir kekalahan saingannya, dunia tetap mencintai tukang cerita itu. Tukang cerita yang menjual mimpi dan menceritakan kisah indah yang sudah penuh dengan mimpi-mimpi dan tambahan sana-sini. Membuat kisah indah menjadi semakin indah. Lalu kau membenci dirimu, karena tak bisa mencintai pencerita itu dan cerita yang ia ceritakan untukmu.Bagaimana kau berusaha bercerita dalam kegembiraan, padahal dulu kau seperti burung yang dengan gampangnya mengumbar kesedihan yang ia rasakan. Melompat ke dahan yang satu, ke dahan yang lain. Menceritakan kesedihan dan mengangisi dunia yang tak pernah baik kepadamu, membuatmu harus menerima permainan yang ia pancangkan sebelum semesta bahkan dimulai.Kau duduk di balkon itu tiap senja dalam hidupmu. Merengungi kesendirian dan haris esok yang menanti saat jam menjelang. Ada kisah di sana. Ada kisah.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7551881-109289784692914236?l=stanley-o.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://stanley-o.blogspot.com/feeds/109289784692914236/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7551881&amp;postID=109289784692914236' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7551881/posts/default/109289784692914236'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7551881/posts/default/109289784692914236'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://stanley-o.blogspot.com/2004/08/ada-kisah.html' title='ada kisah'/><author><name>stanley-O</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13041152574806417870</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7551881.post-109289771111369186</id><published>2004-08-18T23:39:00.000-07:00</published><updated>2004-08-18T23:41:51.113-07:00</updated><title type='text'>ada awal</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#9999ff;"&gt;Aku percaya bahwa hidup itu penuh dengan keseimbangan. Ada elemen-elemen yang membuat semuanya setara. Seperti halnya timbangan yang bagian kiri dan kanannya tidak ada yang lebih berat dari yang lain. Saat semua terasa hitam, tanpa harapan, tak ada cahaya yang cukup jelas untuk kau lihat dan kau gunakan untuk terangmu-yang rasanya seperti neraka (dan kau bahkan belum pernah menjadi bagian dari siksaan tiada akhir itu), kini semuanya berubah. Kini, dalam momentum waktu yang terasa begitu tepat. Tepat untuk semuanya. Tepat untukmu memancarkan sinarmu. Melukiskan senyum, yang dulu sempat tertahan dalam sakit dan penjara kesendirian jiwamu. Ini saatnya tersenyum. Membuka jendela kesedihan, mengizinkan sedikit sinar keyakinan dan ketidakpedulian akan badai hidup yang menghadang. Kau mencoba menerima semuanya, dengan cahaya kecil yang mulai tumbuh dalam dirimu. Mulai menjadi bagian dari sebuah jiwa baru yang menggeliat dalam darahmu. Mungkin semuanya hanya bagian dari misteri hidup buat jiwa-jiwa yang masih berjalan dalam hidup fana. Tapi ada awal dari sebuah akhir kesakitan. Tak ada sungai penderitaan yang begitu panjang sampai kau tidak diizinkan untuk tersenyum. Apakah ada kepercayaan yang percaya bahwa garis tangan seseorang telah dicap untuk menderita selama hidupnya. Bahkan saat ia lahir kembali. Apakah leluhurnya melakukan kesalahan amat sangat, begitu berat, sampai keturunannya tak diizinkan untuk melangkah dengan sedikit sinar di matanya yang terus mengeluh.&lt;br /&gt;Ada awal. Ada permulaan yang baru. Langkah-langkah tertatih, masih baru belajar. Melihat dunia ini dengan sudut pandang baru. Melihat dunia sebagai rumah besar penuh misteri, tapi kali ini begitu terang, tak ada kecurigaan akan kejahatan hidup dan semua malam yang meracuni kesendirian dan memaksa mu untuk menyerah dan membenci semua. Masih ada lilin, kunang-kunang, pelita, yang bisa menemani jalanmu. Ada awal yang baru buatmu, buatku, buat jiwa-jiwa yang ingin agar awal itu ada lagi buat mereka. Ini bukan buku yang baru. Masih kitab yang lama. Tapi kita akan menulisnya dengan pena yang baru. Pena yang baru. Yang isinya masih segar. Tintanya masih pekat dan menebarkan aroma semangat dalam tiap kalimat yang akan ia tuliskan di tiap lembar kitab ini. Semua tanda-tanda baca harus dimengerti ulang. Agar kita tidak salah mengerti. Agar kita benar-benar bisa membacanya. Agar kita bisa menulis kalimat yang cocok di atas tiap lembar halaman kitab ini. Mungkin halaman terakhir yang kita tulis dengan tinta lama itu harus dilipat. Supaya kita selalu ingat bahwa mereka pernah ada di sana. Tulisan-tulisan yang sudah menguning di halaman-halaman itu. Tinta yang sudah menua, membuat lembar kitab menjadi usang, dan berbau debu. Fragmen-fragmen kertas yang mulai membaur dengan usia. Semuanya termakan waktu.&lt;br /&gt;Tapi saat ini ada halaman kitab yang baru. Mereka masih kosong. Menanti untuk kita menuliskan kalimat-kalimat dari kisah-kisah penuh perjuangan dari jiwa-jiwa. Tak ada yang tau apakah kisah-kisah lama akan terulang. Mudah-mudahan tulisan-tulisan itu tidak banyak berubah. Walaupun kita harus mengulang beberapa. Tapi harus ada beberapa bagian yang membuat kita tersenyum dan berapi-api saat kita menuliskannya.&lt;br /&gt;Halaman tua itu harus dilipat. Supaya sewaktu-waktu kita dapat membacanya. Menuliskan sesuatu tentang mereka. Menuliskan sesuatu dengan pena baru ini, yang membawa kita ke sebuah awal. Awal yang baru. Yakinlah, akan ada sebuah awal yang baru. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7551881-109289771111369186?l=stanley-o.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://stanley-o.blogspot.com/feeds/109289771111369186/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7551881&amp;postID=109289771111369186' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7551881/posts/default/109289771111369186'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7551881/posts/default/109289771111369186'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://stanley-o.blogspot.com/2004/08/ada-awal.html' title='ada awal'/><author><name>stanley-O</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13041152574806417870</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7551881.post-108914221792066783</id><published>2004-07-06T12:29:00.000-07:00</published><updated>2004-07-06T12:30:17.920-07:00</updated><title type='text'>penyelesaian</title><content type='html'>Aku duduk di luar kamarku. Di balkon. Duduk di atas sini dan meluaskan pandanganku kepada dunia, dunia tempat aku hidup, bernapas, duduk, dan semuanya. Tak ada angin, tak ada hujan, yang ada panas, lembab, dan kering yang bertandang. Kulitku seperti dibasuh oleh minyak dan debu, dibalut oleh kering dan panas. Ingin rasanya kucari sebuah mata air, menggalinya, membukanya, mengungkap deras air untuk memandikan kulitku yang tak selesa ini. Di antara kering dan panas, di antara siang, kantuk, di antara kehilangan, kesepian, dan bahagia, di antara semuanya, aku duduk seperti orang bodoh. Dungu dan kehilangan akal akan apa yang seharusnya kupegang, kuperjuangkan, kusadari. Semuanya hilang saat aku melihat langit luas, yang biru, sekali lagi kutegaskan. Luas. Aku tahu aku baik-baik saja, selalu baik-baik saja, tapi aku tetap merasa ada yang hilang, ada yang kurang, dan aku tak pernah tahu itu apa. Di antara angin yang ada dan tidak ada itu, aku mendengar gemerincing daun. Daun tak bisa bergemerincing, aku tahu itu, tapi aku tak ingin dibatasi oleh rasio ku untuk dapat menikmati waktu ini. Waktu saat aku benar-benar, dan betul-betul sendiri, dan merasa aku ini begitu kecil di selmiut hamparan semesta. Tak pernah betul-betul bahagia, tak pernah betul-betul sedih, tak pernah betul-betul utuh, tak pernah betul-betul hancur. Tak pernah betul-betul mengerti semuanya, semua yang berlalu dan tersenyum padaku. Aku tak tahu aku ini apa, untuk apa, dan untuk siapa. Dalam darahku ada yang hilang. sesuatu yang hilang yang seharusnya membuat detak ini jadi lengkap. Tapi sekali lagi, aku tak tahu itu apa. Semuanya seperti agenda terjadwal kini buatku. Walaupun aku tahu masih ada kejutan-kejutan hidup di sana-sini buatku, buat jiwa-jiwa lain sepertiku. Jiwa yang tak pernah puas. Dan mempertanyakan ini, itu, hingga akhirnya kami menyerah kalah pada nasib dan terus ikut bermain dalam permainan hidup. Bumi sudah sangat tua, tapi bumi akan terus berputar, dan akan terus begitu. Akan terus begitu bila kita masih bisa menyayanginya, menjaganya, mengerti apa yang ia inginkan untuk kita lakukan. Sayangnya kita tak pernah betul-betul mendengar perkataannya.&lt;br /&gt;Aku ingat aku dulu pernah begini. Duduk di bawah langit, siang, kering, panas, minyak, melekat, debu, semuanya tak nyaman. Betul-betul perasaan yang tak diinginkan saat kau ingin merasa nyaman. Lalu tak ada angin yang membasuh dahaga kulitmu. Dan kau mulai membayangkan bahwa daun-daun bersuara, dan bernyanyi seperti lonceng-lonceng kecil. Dan kau, jiwamu, matamu menjadi sangat malas. Malas, dan tak ingin melakukan apapun. Duduk seperti orang dungu, dan kau hanya melihat langit luas berwarna biru. Hampa, tak bergerak, tak bersuara. Jika ia bisa bicara, dia akan bilang apa kira-kira. Aku termenung menatapnya. Menunggu sesuatu yang ajaib terjadi atas langit yang luas dan kosong itu. Berharap seketika di antara awan, dan kekosongan itu menyeruak keajaiban semesta yang belum pernah aku lihat sebelumnya, dan membuat aku sadar bahwa aku sudah begitu lama termenung, begitu lama kosong, begitu lama berhenti, dan hidup dalam masa lalu. Bahwa aku harus mulai bergerak, meninggalkan masa lalu itu yang penuh dengan mereka yang melupakan, meninggalkanku, dalam kesepian, kehampaan, dan ketidakpercayaan akan adanya hidup, harapan, dan esok.&lt;br /&gt;Aku masih duduk di sana, sendiri, kering, dan masih melihat ke hamparan biru langit, yang aku tak mengerti di mana habisnya. Apakah bila kuikuti semesta maka pencarianku akan kepenuhan akan selesai, dan aku tak perlu duduk di sini lagi. kering. Sendiri. Kosong. Dan diam. Apakah bila kulakukan itu, maka semua kesendirian ini akan berakhir dan pecahan kosong yang kucari sejak dulu itu akan kutemukan kembali.&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7551881-108914221792066783?l=stanley-o.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://stanley-o.blogspot.com/feeds/108914221792066783/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7551881&amp;postID=108914221792066783' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7551881/posts/default/108914221792066783'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7551881/posts/default/108914221792066783'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://stanley-o.blogspot.com/2004/07/penyelesaian.html' title='penyelesaian'/><author><name>stanley-O</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13041152574806417870</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7551881.post-108914205525675825</id><published>2004-07-06T12:26:00.000-07:00</published><updated>2004-07-06T12:27:35.256-07:00</updated><title type='text'>Tentang)malam,pasir,nyiur,kunang-kunang,dan ombak.</title><content type='html'>Tadi malam aku duduk di beranda depan rumahku, sendiri. Di rumah ini hanya ada aku. Rumah kayu yang kubangun dengan rancanganku sendiri, lukisan sebuah rumah yang kubuat bertahun lalu, rumah yang sangat kuidamkan, rumah tempat aku bisa mengingat semua yang telah kulupa dari hidupku yang pahit. Rumah yang selalu memanggilku pulang saat aku telah begitu lama hilang di ramainya dunia. Rumah yang penuh dengan hangatnya kasih yang selalu kurindu, hilang, tak bisa kuraih, dan ingin selalu kujaga. Rumah kayu yang kokoh. Sengaja tidak kuwarnai, agar rumahku bisa menyatu dengan alam ini, menjadi bagian dari kedamaian, ketenangan yang dulu selalu kuhayalkan.&lt;br /&gt;Kubangun rumahku di sisi pantai. Tak jauh dari pasir yang berpeluk dengan laut, yang setiap malam bernyanyi memanggil-manggil angin. Jutaan, mungkin milyaran butir pasir, seperti bintang di langit yang tak bisa kau hitung. Jutaan bintang di semesta sana, memenuhi langit malam yang biru gelap dan dingin. Semakin dingin saat angin dari samudera menjelang pesisir. Sejauh mata memandang hanya batas samudera yang tak tampak. Di  bawah garis langit, agak hitam, agak biru, agak kelam, di bawah malam. Lampu-lampu kecil perahu dan kapal nelayan bermain dengan ombak yang membawa kapal-kapal, perahu-perahu mereka semakin jauh dari daratan. Semakin jauh dari daratan, membawa mereka menuju samudera lepas, meraih nasib dengan mencari ikan-ikan, besar-kecil, kemudian dibawa pulang, lalu dijual, sebagian mereka makan, untuk anak, istri, untuk meraih hidup. Di bawah malam. Di bawah garis langit yang biru agak gelap, agak hitam, di bawah malam. Lampu-lampu mereka seperti kunang-kunang. Terbang kesana kemari, di bawah garis langit.&lt;br /&gt;Aku duduk di sini, di beranda depan rumahku. Sejuk oleh angin malam yang semilir. Dan rumah kayuku melindungi aku dari angin yang begitu dingin ini.&lt;br /&gt;Dari butiran pasir kudengar berisik langkah wanita rupawan berambut indah panjang menjurai. Ia memakai sarung, kebaya tua peninggalan ibunya, dan sebuah lampu minyak dalam genggaman, menemaninya melangkah pantai dalam gelap.&lt;br /&gt;Penglihatanku agak tak jelas saat malam datang. Kata orang rabun. Sepertinya aku memang harus memakai kaca mata, agar aku bisa melihat jelas dalam remang malam seperti ini, tapi nantilah.&lt;br /&gt;Aku masih melihat wanita ini melangkah pasir, tak jelas kemana arah kaki, ia terus melangkah dengan lampu minyak dalam genggaman. Kasihan mataku, aku tak bisa melihat raga ini dengan jelas. Tapi rasanya aku mengenalnya. Dari sosoknya yang berdiri, begitu khas dalam ingatanku. Rambutnya yang panjang tergerai, berombak, seperti laut, laut yang membawa kunang-kunang malam ini.&lt;br /&gt;Sesekali ia melihat ke arah laut lepas. Dan ia memandang laut dengan bisu yang tak terjelaskan. Aku bisa melihat itu dengan hatiku. Karena ia diam, dan matanya ikut diam dalam lamunan. Lampu minyak yang ia genggam menggeliat karena hembus angin. Bertahan untuk menemani tuannya yang tertegun dalam hayal, entah kemana, di mana. Bertahan agar jiwanya yang saat itu kelam, tak mati dalam tangis, tak hilang dalam sedih. Ada apa dengan wanita ini. Wanita yang dari pundaknya bisa kulihat semua jati diri, mandiri, perasaan halus seorang wanita, kokohnya jiwa, keteguhan. Bak batu karang, dengan semua atribut kewanitaan yang memang terlahir bersama dirinya.&lt;br /&gt;Dalam gelap, dengan selimut cahaya redup lampu minyak dalam genggaman kulihat ia mengusap matanya. Ia mengusap pipinya. Ia menangis? Apakah ia menangis? Apakah jiwanya dalam lara. Apakah napasnya mengisah duka. Apakah ada kematian bernyanyi atas jiwanya.&lt;br /&gt;Kasihan mataku, tak mampu melihatnya dengan jelas. Aku memang harus memakai kacamata, tapi nantilah. Aku tak mampu beranjak, aku ingin menghiburnya. Aku terdiam di sini, dalam penantianku akan tangisnya. Menanti apa yang akan ia lakukan nanti, saat ia sadar bahwa ia menangis, dan aku melihat ia menangis dari beranda depan rumahku.&lt;br /&gt;Dari jauh kudengar ombak, menangis, tertawa, tersedu, berteriak, bergumam, berbicara dengan malam, dan perahu-perahu layar. Rumahku berdekatan dengan beberapa rumah kayu lain yang juga dibangun di pesisir ini. Dari dulu memang banyak orang yang tertarik akan keindahan pantai ini, karena katanya siapa saja yang pernah datang ke tempat ini akan selalu rindu dengan kunang-kunang laut yang muncul di waktu malam. Aku tak pernah melihat kunang-kunang laut itu, tapi aku selalu rindu akan tempat ini. Tempat ini selalu membuatku rindu dengan rumah, yang dulu pernah kumiliki, lalu hancur diterpa badai, terpaksa kubangun lagi, di pesisir ini. Kutinggalkan semua di belakang, semuanya.&lt;br /&gt;Dari balik nyiur kulihat wanita itu berjalan ke pantai. Sesekali ia melihat sekeliling. Ada beberapa nelayan tak jauh darinya. Nelayan yang sedang membakar ikan hasil tangkapan bersama keluarganya. Anak-anak kecil bernyanyi riang. Aku di sini menanti, menanti keajaiban, keajaiban malam. Ratusan malam yang harus kuhabiskan sendiri. Terus bertanya apa rasanya malam bila dihabiskan dengan kekasih, adinda puteri kerinduanku tak habis bersama sepi.&lt;br /&gt;Malam ini langit sedang letih, begitu pikirku. Ia begitu tenang. Langit malam begitu bersih, seperti habis dicuci dengan letihnya oleh semesta dan Pencipta yang bernyanyi dengan riang saat cakrawala menjadi terang. Begitu biru, hanya ada sedikit gelap di sebelah barat. Tapi di samudera, di bawah garis langit, langit begitu tenang. Dengan kunang-kunang lampu minyak perahu nelayan.&lt;br /&gt;Wanita itu kemudian duduk di atas pasir. Ia letakan lampu minyaknya di atas pasir. Dan sang cahaya dari lampu menari kecil saat dicumbu oleh angin. Tergerak hatiku untuk bertandang dan mengucapkan salam. Seandainya sedihnya bisa tergerak oleh tawa. &lt;br /&gt;Kupergi ke kamar, kupakai sarung dan kuganti bajuku. Turun dari beranda, aku segera berjalan ke pantai. Tak kubawa lampu minyak, karena buatku semuanya masih cukup terang. Ia duduk di sana, tak jauh lagi dari beberapa langkahku.&lt;br /&gt;Kuucapkan salam, dan memuji langit serta jagad yang membawa jiwaku bertemu dengan wanita rupawan seperti dia. Sempat terlihat ia memalingkan muka dan mengusap matanya, ia memang menangis. Lalu di bawah cahaya lampu minyak ia melukis senyum di atas bibirnya dan mengucapkan salam padaku. Kutawarkan padanya untuk menemaninya duduk di atas pasir, melihat laut, sekedar berbicara dengan menghabiskan waktu sendiriku, lebih baik dengan seorang teman baru, walaupun jiwa kami masih terikat santun dan misteri akan kehidupan dan rahasia satu sama lain.&lt;br /&gt;Ia berkata bahwa ia tak pernah melihatku di kampung ini, karena wajahku tak begitu dikenalnya. Kukatakan bahwa aku memang orang baru di sini. Aku lari dari kota, berusaha sembunyi dari jahatnya dunia, dan mencari rahasia baru yang mungkin ditawarkan dunia di kampung nelayan ini. Kukatakan lagi padanya bahwa aku adalah penyair sengsara yang hanya bisa menulis tentang sepi, sendiri, sunyi, semua yang mampu membuatmu sedih saat kau berusaha melafalkan kisahnya. Ia tertawa kecil. Wanita rupawan yang menangis dan mengusap matanya di bawah cahaya minyak, kini tertawa dengan sepasang mata yang menyisakan sedih saat ku menatapnya. Angin menggerai rambutnya yang berombak. Ia seperti puteri sang raja samudera yang melarikan diri dari istana bawah laut, hendak mengetahui dunia, tinggal di daratan yang penuh keindahan, jauh dari semesta yang hanya berisi air, air, dan air.&lt;br /&gt;Ia katakan bahwa ia adalah guru di satu-satunya sekolah di kampung itu. Ia juga dulu datang dari kota, ia betah tinggal di sini, dan akhirnya menetap, di antara ombak, dan bau amis para nelayan yang pulang saat subuh dengan ikan-ikan hasil tangkapan. Kami sama-sama dari kota. Sudah hampir dua tahun ia menetap di kampung ini. Dan tiba-tiba ia merasakan sepi teramat sangat malam ini. Sepi dari semua yang dulu sempat menjadi bagian napasnya saat ia masih tinggal di kota. Maka ia datang ke pantai, mencoba mengusir itu semua. Mengusir sepi. Dan ia menangis. Ia menangis karena ia merasa begitu sepi. Ia tinggalkan semua yang pernah begitu ia sayangi di kota, memutuskan untuk meninggalkannya dan mencari damai sendiri yang begitu ia impikan sejak kecil. Menemukan kebebasan di bawah langit, di bawah jagad, di semesta yang putih, biru, hijau, bebas dari hitam, asap, gelap, dan keramaian.&lt;br /&gt;Malam semakin larut, dan langit barat semakin gelap dalam biru, angin semilir masih bermain di atas raga yang terjaga, anak-anak sudah pulang ke peraduan yang menantikan mereka dengan cerita-cerita Ibu menjelang tidur sesudah hari yang melelahkan, para orang tua menceritakan kesusahan kerja hari ini, angan-angan mereka akan masa depan buah hati yang tertidur lelap, dan kunang-kunang semakin menjauh dari pelupuk mata. Nelayan sudah pergi jauh, berpacu di antara ombak, meraih hidup bersama malam.&lt;br /&gt;Wanita itu berpamitan dari hadapku. Ia berikan senyum terakhir sebagai perpisahan. Ia melangkah butiran pasir yang ikut melihat ia menjauh, jauh, dan menjauh. Lampu minyak di genggamannya menari bersama angin malam, seperti tuannya ia tersenyum selamat malam, nampaknya ia juga begitu lelah. Nyala si lampu minyak semakin jauh, di balik malam, hilang di antara nyiur yang semakin rapat. Dan akhirnya betul-betul hilang. kapan aku bisa bertemu dengan wanita rupawan itu lagi.&lt;br /&gt;Pantai penuh dengan nelayan-nelayan bercengkerama di bawah malam, dengan perapian penghangat dari dinginnya angin, kadang senyum, kadang tenang, mencoba mengira-ngira bagaimana hidup esok setelah mereka bangun dari tidur malam ini.&lt;br /&gt;Wahai pasir, wahai pantai, apa yang kulakukan di sini, sendiri. Aku ada di tempat ini mencari sesuatu yang bahkan aku tak tahu apa itu. Duduk di antara angin, kau, asap perapian, perahu-perahu, dan aroma laut yang nilainya berjuta dalam insan yang dipenuhi kehidupan dan segenap bahagianya.&lt;br /&gt;Dari sini kulihat rumah kayuku. Berdiri dengan tenang di antara nyiur. Aku berdiri dan melangkah ke arah para nelayan di antara perapian yang menghangatkan malam ini. Apakah aku sembunyi dari sesuatu Tuanku? Apakah aku mengerti di mana malam menyembunyikan bintang, haruskah aku pulang dan beristirahat dari semuanya. Beristirahat di rumah kayuku. &lt;br /&gt;Mungkin ini akhir dari kisah ini. Akhir dari kisah ini, dan permulaan kisah baru. Kisah dari aku, yang memiliki hati kosong, seperti gelembung sabun, umurnya sangat singkat, bermain-main dengan napas, dan dilambungkan angin. Bila aku kuat aku akan terbang dan berayun-ayun bersama angin cukup lama, bila aku tak tahan maka habislah gelembung sabun. Habislah aku.&lt;br /&gt;Apakah ada manusia seperti aku. Bila terlalu lara maka aku mengumbar kata, bila terlalu bahagia maka menjadi mati rasa, lalu tak bisa berkata apa-apa. Dan aku bisu. Bila lara menjelang maka kawan, aku punya kisah untukmu. Bila aku agak bahagia, sedikit yang bisa kubagikan, sebab sisanya terbang dan hilang bersama angin. Agaknya sedih memakan habis bahagiaku saat ia hadir. Maka dari itulah sahabat, bahagiaku hanya bisa kurasa sendiri, untuk saat ini. Maafkan. Bukan maksudku tak ingin berbagi. Bukan maksudku aku menyimpannya sendiri. Bahagia itu tertahan di sana. Di dalam darahku, di dalam sadarku. Mungkin aku tak tahan menderita sehingga saat bahagia, saat lara semuanya adalah sama. Rasaku sudah terlanjur mati. Terlanjur kelu. Terlanjur mati. Kasihan Ibuku. Melahirkan, membesarkan, walaupun kemudian meninggalkan, aku menjadi manusia yang hanya kenal garis tangan yang melukiskan cobaan, derita, dan bahagia bagai merajut sarang laba-laba. Hanya bertahan semalam. Kubangun sesaat lalu esok sudah kuhancurkan. Tapi aku bukan anak durhaka kan bu? Sebab aku selalu menyayangimu, dan maafkan aku bila sepeninggalmu aku betul-betul hancur, menjadi manusia tak tahu malu. Memakai topeng, bernapas dalam topeng, dan mudah-mudahan sebelum mati topengku bisa kubuka. Aku ingin dunia melihat aku tanpa topeng. Aku jadi ingin tahu apakah ada mahluk, manusia, atau apalah di luar sana yang dari lahir sampai matinya ia memakai topeng. Pasti ia bukan seniman, karena setahuku seniman selalu melepas topengnya setelah pertunjukan, dan seniman adalah orang paling jujur di dunia. Wahai ibu, lahirkanlah seorang seniman dari rahimmu. Agar kelak ia tak menjadi durhaka, tak melupakan wejangan ibunya, agar kelak ia tak mati dengan topeng.&lt;br /&gt;Apakah aku sudah bahagia, seperti yang selalu kutuliskan. Apakah aku sudah bisa menahan ketidakpedulian semesta akan aku. Jiwaku yang hanya jentik di antara gelap bimasakti, galaksi. Apakah aku akan mati berdarah-darah, teracuni sendiri, dan hanya bisa melihat cinta dari jauh tanpa pernah merasakannya di atas kulitku, di depan mataku, di bibirku, di penisku. Apakah aku sudah cukup kelu untuk merasakan bahagia dalam jiwa, hingga saat ini aku seperti ini. Tak punya rasa, tak mengerti dengan keinginan malam, dan semuanya lewat, berlari, lalu hilang-begitu saja, hilang. ingin kutangkap tapi mereka keburu hilang.&lt;br /&gt;Apakah aku sudah begitu bahagia sampai dinginnya musim hanya membuatku kering, seperti daun yang ia matikan saat awal ia bertandang. Ia bunuh perlahan-lahan, ia cekik sang hijau, meminum sarinya, meludahkan racun hingga lembaran hidup itu menjadi kuning, agak busuk, mempunyai bercak-bercak coklat tak jelas, lalu napasnya tercekik, putus…putus…putus…dan lepas dari raganya. Terbuang dari raga, tergulai ke atas bumi, lalu membusuk. Itukah nasib bahagiaku. Hanya lewat sendiri. Rasanya kuingin musim cepat berganti, saat panas terasa indah namun saat dingin bersahabat, dan tak ada kulit yang terbakar oleh sengatan raja hari.&lt;br /&gt;Kamu mengerti akan ceritaku, jika ia bernyanyilah, jika tidak galilah lubang ketidakpahamanmu, cobalah duduk diam di sana, tidur, jongkok, tengkurap, atau apa saja, selama mungkin sampai kau mengerti aku. Aku hanya ingin itu. Mengerti aku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7551881-108914205525675825?l=stanley-o.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://stanley-o.blogspot.com/feeds/108914205525675825/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7551881&amp;postID=108914205525675825' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7551881/posts/default/108914205525675825'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7551881/posts/default/108914205525675825'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://stanley-o.blogspot.com/2004/07/tentangmalampasirnyiurkunang-kunangdan.html' title='Tentang)malam,pasir,nyiur,kunang-kunang,dan ombak.'/><author><name>stanley-O</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13041152574806417870</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7551881.post-108914197067750368</id><published>2004-07-06T12:25:00.000-07:00</published><updated>2004-07-06T12:26:10.676-07:00</updated><title type='text'>tentang hilang...</title><content type='html'>Sekarang sudah subuh, jam 2 pagi, dan aku masih belum bisa tidur-seperti biasa. Kira-kira satu jam lalu aku sudah hampir menutup dua mata ini karena kantuk tak tertahan saat aku melihat sebuah film melalui CD ROM komputer ini. Tapi sekarang, kantuk tak merasuk lagi, hampir lenyap, yang ada kesadaran penuh dari raga ini untuk menulis, dan keringat yang mulai mengintip dari balik pori-pori kulitku. Kamarku tak memiliki kipas angin. Dulu aku punya, warisan dari sepupuku yang sekarang sudah lulus (dan aku tak mengerti kemana rimbanya, terakhir bertemu dia memelihara rambut seperti mereka yang menyanyikan musik-musik jamaika), sekarang sudah rusak dan harus diistirahatkan di atas lemariku yang berdebu dan penuh tumpukan kertas tak jelas (sebagian cukup jelas, mereka adalah bekas materi kuliahku saat semester-semester awal dulu). Kertas-kertas itu kusimpan karena aku ingin menjaga kenangan akan tahun-tahun awal itu, saat aku pertama melepaskan seragam dan mulai belajar dengan pakaian yang lebih manusiawi, bukan seragam yang mengekang kebebasan, penuh aturan, dan mahal itu. Siapa yang dulu menciptakan seragam. Bodoh.&lt;br /&gt;Dan sekarang aku menulis. Aku ingin menjadi penulis yang baik. Penulis yang punya hati, punya getaran, punya perasaan, punya kekhususan, punya cerita yang baik yang ingin ia sampaikan. Punya cerita, yang bila cerita itu tak mampu terbaca maka kau hanya perlu menutup matamu, membiarkan cerita itu bercerita sendiri kepadamu seperti alunan musik di atas padang hijau luas. Cerita yang membawa sebuah hidup di dalam hidup, nyanyian di dalam nyanyian si penulis, aku. Kata-kata yang mengalir seperti angin sejuk di sesak, pengap kamarku, dan membakar-memusnahkan panas, membawa semilir di tubuh ini. Di kamar ini. Kamar yang menyaksikan kejahatanku, kamar yang menyimpan semua rahasiaku, kamar yang paling mengerti seperti apa jiwaku, kamar yang menjadi pelengkap sunyi dan hidupku yang mengambang di atas napas. Selebihnya tak jelas.&lt;br /&gt;Kamarku seperti tempat pembuangan kertas bekas. Kamarku seperti gudang tak bertuan. Kamarku seperti ini, seperti kotak tak beroksigen dan aku adalah mahluk aneh yang bisa hidup tanpa oksigen. Aku adalah mahluk aneh, terdefinisikan, tak dimengerti.&lt;br /&gt;Pikiranku kelu, karena aku sedang membenci, memalingkan mukaku, menutup telinga ini, menghalangi akalku untuk orang yang mengaku dekat denganku. Dengan perbedaan kepentingan yang begitu besar aku menjadi membenci mereka, menganggap mereka tak pernah begitu mengerti aku, menyatakan ketidakpedulian mereka terhadap jiwaku, dan akhirnya aku putuskan untuk meninggalkan mereka. Karena aku sudah letih. Letih memikirkan mereka, karena mereka sama sekali tak memikirkan aku, begitulah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah berapa malam berlalu, berapa waktu tewas terkapar tak mampu menahan benciku, dan aku tak mampu berkisah. Benar, aku menjadi tak mampu menulis.&lt;br /&gt;Seperti penyakit, benci membuat mindaku kelu, bibirku membisu, hatiku membantu, tak tersentuh sadar yang merayuku untuk lebih lembut pada diriku. Agar aku tak menjadi budak atas benciku. Dan waktupun berlalu begitu saja tanpa aku pernah begitu sadar bahwa siang menjadi malam, dan malam menjemput pagi, dan aku masih terjaga dalam benci dan sejuta kekecewaan lain. Aku tak mampu memegang diriku, jiwaku, sepenuhnya terjaga atas sadarku, semua napas yang memenuhi raga ini, aku tak mampu.&lt;br /&gt;Aku tak mampu memotong sedikit egoku untuk menerima kesendirian, ke-terlupa-an ini. Seandainya aku bisa memotongnya, akankah aku lebih bahagia tanyaku. Akankah aku mampu terjaga saat malam menjemput pagi, dan semua yang terlupakan saat aku nati dalam raga. Raga yang kelu, bibir yang membisu, hati yang membatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7551881-108914197067750368?l=stanley-o.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://stanley-o.blogspot.com/feeds/108914197067750368/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7551881&amp;postID=108914197067750368' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7551881/posts/default/108914197067750368'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7551881/posts/default/108914197067750368'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://stanley-o.blogspot.com/2004/07/tentang-hilang.html' title='tentang hilang...'/><author><name>stanley-O</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13041152574806417870</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7551881.post-108914185556528567</id><published>2004-07-06T12:23:00.000-07:00</published><updated>2004-07-06T12:24:15.566-07:00</updated><title type='text'>tentang sakit itu...</title><content type='html'>Saat kau duduk di sebuah ruangan, matamu menerawang. Kau memesan makanan, perutmu memang lapar, tapi hatimu, jantungmu berdetak entah di ruangan mana, waktu yang mana, dan bagaikan terluka sadarmu teriris, sakit itu tak terjelaskan, tak terdekteksi. Tapi jiwamu, ragamu, hatimu, sepenuhnya sadar-sakit, sakit. Sakit yang bersarang di dalam sadar, seperti racun dari malam-malam sepi berwarna ungu kehitaman yang kau telan dalam sepi. Dalam sepi.&lt;br /&gt;Racun itu bersarang dalam napasmu. Bernyanyi-nyanyi dengan riangnya, dengan lagu yang ditulis oleh sakit, sakit, perlahan-lahan mencekik, kehabisan napas, dan mati. Racun itu berwarna ungu, mulanya ia terlihat seperti darah yang begitu kental, darah yang mengalir bersama darah lain di arterimu, venamu, membuatmu hidup&lt;br /&gt;Tapi saat kau tari napasmu dengan sedikit benci yang meradang itu, darah baru itu menjadi agak gelap, ia menjadi ungu, sangat berbeda dengan sebelumnya yang kau lihat. Ia menjadi ungu. Dadamu sesak, sakit. Kau ingin sakit itu keluar, tapi tak bisa. Tak ada dokter, tabib, ahli nujum, peramal yang akan mengerti sakit itu. Sakit itu hanya milikmu, jiwamu, napasmu, hanya kau yang tahu. Dan kau tahu sakit itu tak akan keluar.&lt;br /&gt;Sakit yang datang dari pikirmu, dari hayalmu, merasuk ke dalam sadar, meresap ke dalam darah, hidupmu, menjadi racun. Racun yang mulanya berwarna darah, dan kemudian menjadi ungu.&lt;br /&gt;Kau kesakitan. Kau pegang dadamu. Matamu mulai memerah, karena sakitnya semakin menjadi. Udara menjadi berkurang. Kau tak mengerti apakah kau kehabisan udara, ataukah emisi polutan semakin tebal dan kau tak cukup udara untuk bernapas dan membuang sakit itu. Tanganmu menjadi nyeri, otot-otot tubuhmu menegang, kakimu bergetar. Semua karena sakit itu, semua karena racun itu. Racun itu berwarna merah, dan sekarang menjadi semakin gelap, ia menjadi ungu. Begitu gelap.&lt;br /&gt;Kau duduk di situ. Berteman dengan bangku yang kosong. Kau duduk di sebuah kursi panjang yang dipisahkan sebuah meja hidangan besar di tengah. Dan ada sebuah kursi panjang lagi di sebelah meja itu. Ada empat bagian yang bisa diduduki. Hanya ada kau di situ. Kau duduk ditemani angin, dan anganmu yang berbicara. Kau berbicara dengan setan-setan sunyi yang menertawakan kesendirianmu. Tertawa-tertawalah kau setan. Kau menang. Kau menang.&lt;br /&gt;Darah itu menjadi semakin hitam. Kau harus tahu, bangun kawan, itu bukan darah. Itu racun. Racun dari benci yang selama ini kau pendam. Benci terhadap semua yang membuatmu terpuruk, kalah, sakit, sendiri. Lihatlah ke dalam matamu. Bagian putihnya menjadi abu-abu, itu akibat racun itu. Sebentar lagi itu akan menjadi hitam, dan semesta akan melihatmu sebagai manusia dengan mata yang hitam. Tak seperti manusia lain yang memiliki bagian mata yang putih, dan bola mata coklat, atau hitam, atau warna lain di tengahnya. Bisa kau rasakan racun itu mengalir di dalam tubuhmu. Membuat tubuhmu nyeri, seluruh tubuhmu bergetar dengan aneh. Sesuatu yang tak bisa dijelaskan secara medis. Kawan, tak lama lagi di sekeliling tubuhmu akan terlihat udara tak segar berwarna hiatm, seperti emisi yang kita bicarakan tadi. Itu datang dari racun itu juga sebelum udara aneh itu terlihat di sekitar tubuhmu kepalamu akan terasa sakit, sakit yang tak terjelaskan. Kepalamu akan sakit, sakit yang tak begitu sakit, namun tak tertahankan. Kau akan memegang dadamu karena kau pikir sakit itu datang dari sana. Tapi sakit itu bukan dari sana. Yakinlah. Sakit itu bukan dari sana. Sepertinya memang dari sana. Tapi sakit itu datang, lahir, muncul dari tempat lain. Hanya saja ia kemudian merasuk ke semua bagian tubuhmu di mana sadar, dan akal berkuasa, menggerakannya.&lt;br /&gt;Aku katakan kepadamu, jangan lihat sekeliling. Lihat saja meja hidangan itu. Lihat yang kau pesan untuk kau makan di situ. Jangan kau lihat sekeliling. Saat kau melihatnya racun di dalam tubuhmu akan semakin hebat. Semakin garang, mengganas, menggerogoti sadarmu, membuat tubuhmu semakin tersiksa, semakin sakit. Dan kau semakin tak mengerti kenapa racun ini begitu hebat. Jangan lihat sekelilingmu karena racun itu akan semakin berkuasa atas ragamu. Jangan kau anggap enteng racun yang satu ini. Karena ia seperti jenderal di medan perang yang siap memerintahkan prajurit-prajuritnya untuk membantai habis musuh. Ia memainkan tipu muslihat, ia menyebar isu, ia memainkan lawan, ia membakar api permusuhan, ia menebar isu kebencian, ia menumbuhkan iri dan dengki, ia menusuk dari belakang, ia merampas bahagia, damai dan ketenangan ragamu. Dan saat ini musuh itu adalah kau. Semua yang rentan akan hal yang kau rasakan saat ini.&lt;br /&gt;Aku tahu kau sempat melihat sekelilingmu tadi, saat pertama kau masuk ke ruangan ini. Dan racun itu langsung menyebar, merasuk dalam darahmu. Saat kau mulai berpikir, racun itu langsung tumbuh saat itu juga, seperti parasit yang menemukan indung yang tepat, dan dia tumbuh dengan cepat. Memainkan sulur-sulur mematikannya ke seluruh jaringan darahmu, ke otakmu, ke sadarmu, ke jiwamu. Dan kau sakit, kesakitan. Dengan racun paling mematikan yang pernah ada.&lt;br /&gt;Sekarang udara racun itu terlihat dari tubuhmu, begitu kontras. Warnanya tak jelas. Kadang terlihat seperti langit saat mendung, kadang ungu kehitaman, kadang sangat hitam. Kau semakin sakit. Matamu memerah, dan sedikit hitam. Napasmu menjadi sesak. Dadamu sakit. Bila ada pisau di situ, kau ingin merobek dadamu saat itu juga, dan mengeluarkan sakit itu. Sakit yang tak kelihatan itu, dan semuanya akan selesai, sakit itu akan hilang. tapi kau akan menyesal, karena saat kau robek dadamu dengan pisau itu, dan kau menjangkau ke dalam tubuhmu, kau tak akan temukan sakit itu. Kau hanya akan menemukan dadamu sudah robek begitu besar, darah menjadi selimut kulitmu, dan jaringan darahmu terkapar dalam sesak yang sesaat lagi membuatmu tewas. Sakit itu tak ada di situ kawan. Dan kau hanya merobek dadamu untuk sesuatu yang sia-sia. Kau hanya memainkan pisau itu untuk membedah ragamu. Dengarkan aku.&lt;br /&gt;Kau ingin segera mengeluarkan sakit itu, tapi kau tak mengerti bagaimana mengeluarkannya agar kau dapat bernapas dengan leluasa. Agar matamu dapat melihat dengan jernih. Agar bibirmu tak kelu untuk tersenyum. Agar kau tak membenci malam yang hingga kini tak mengerti kenapa kau begitu membencinya. Agar ragamu tak digerogoti sakit itu. Yang aku sendiri tak tahan melihatnya. Aku tak tahan melihat sakitmu kawan. Aku tak tahan karena aku tak bisa berbuat apa-apa. Apa ini ketidakadilan Tuhanmu. Apa ini satu ayat yang harus kau lalui, supaya akhirnya kau bisa bertemu dengan ayat bahagia, atau mungkin jalan lain, yaitu ayat mati, kalau kau tiba-tiba lelah, kemudian melupakan impianmu, lalu merobek venamu. Tersenyum dengan sakit itu, memeluk dadamu yang akhirnya lega, karena sakit itu sedikit demi sedikit hilang, walaupun kau meregang nyawa, dan akhirnya harus mati, dan selesailah tugasku.&lt;br /&gt;Kau seperti waktu yang tertahan sementara semesta terus berputar, dan kau terus bertanya kenapa kau harus membenci sepi, kenapa kau tak menikmati sendiri. Kenapa kau harus membenci mereka yang tertawa atas nama cinta, itu. Kenapa kau sakit karena tak pernah merasa menjadi bagian dari tawa, itu. Dan kau berjalan dengan jiwa kosong, saat hari berkuasa, saat malam tertawa.&lt;br /&gt;Kau duduk di situ dengan jiwa yang hilang berlabuh entah di sadar mana. Matamu melihat, dan kau melihat sesuatu yang tak ada, kau melihat sakit itu. Napasmu ada, tapi kau bernapas dengan sakit menahun. Sakit yang kau tahan bertahun lamanya, ribuan jam, ribuan malam.&lt;br /&gt;Adakah jiwa lain yang sepertimu. Tersenyum dengan separuh sadar, sementara separuhnya lagi duduk seperti mati di bawah hari, dengan sadar yang terbang menjauh. Adakah jiwa lain sepertimu, yang penuhnya dirampas, kemudian menjadi kosong, bersisa sakit, sendiri, gamang, dan bias. Dan menghabiskan seluruh hidupnya untuk membuang sakit itu, mencari penawar dari racun yang tak tampak itu. Menghabiskan seluruh hidupnya mencari penuh. Seumur hidupnya mencari yang hilang, mengisinya kembali-tepat di napasmu, ragamu, sadarmu-dan merasa penuh kembali.&lt;br /&gt;Adakah jiwa lain sepertimu yang dirantai siksa sakit dan tangis di dalam hatinya, namun yang keluar adalah lengkung senyum dengan darah yang tak tampak menetes dengan penuh sakit. Dirantai siksa sakit dan tangis dan harus mengucapkan kata-kata yang semuanya hanya membuat senyummu kelu. Dan rasanya kau tak pernah benar-benar memiliki sesuatu. Rasanya kau tak pernah benar-benar bahagia.&lt;br /&gt;Kau hanya berpura-pura, berpura-pura untuk tersenyum. Hidupmu tak lebih dari pura-pura. Kau bertanya mengapa pulang ke dalam ruangan kosong, dengan udara yang menyesakan dadamu, dan tak ada tangan penuh kasih di sana yang menyambut hadirmu, tak ada senyum penuh rindu yang mempertanyakan hidupmu seharian itu, tak ada jiwa yang benar-benar hidup di ruangan itu, selain dirimu. Sisanya debu, lampu neon yang panas menyengat, serangga yang bermain-main di sekitarnya, dan kamar bercat putih yang hanya mampu membawamu ke dunia jauh di mana mimpi bersemayam dan raga beristirahat saat pagi menyapa. Hanya cat putih, dan debu, dan semua yang ada di anganmu. Saat kau pergi keluar dan berusaha mencari jiwa untuk menemanimu kau hanya bertemu balkon kosong yang menyisakan langit malam untuk kau lihat. Bintang-bintang yang sangat jauh, yang tak mampu mendengarmu bila kau teriakan namanya. Lampu-lampu rumah bak kunang-kunang, dan jalan di sebelah rumah yang sepi. Kau duduk di balok itu dan melihat langit malam yang luas, dengan sepi yang bertahta. Kau lari dari sepi dan sudut kamarmu yang marti, dan kau bertemu dengan sepi yang lain, dengan tempat yang lebih luas buatmu menatap, mendengarkan, mengingat, dan menangis. Racun itu berubah menjadi hitam. Begitu hitam, dan bumi pun tak pernah tahu apakah itu akan menjadi putih kembali. Akan pernah menjadi putih kembali.&lt;br /&gt;Darahmu menjadi hitam, racun itu sudah menyebar ke seluruh tubuhmu, matamu mulai menghitam, dadamu menjadi sesak. Udara hitam sudah bermain-main di sekitar tubuhmu, dengan bau tak sedap yang membuat tak satupun jiwa mendekat. Sulur-sulur racun itu sudah terlihat di tubuhmu, menyeruak keluar dari pori-pori kulitmu yang sedikit demi sedikit berubah menjadi ungu. Dan kau menangis. &lt;br /&gt;Kau menangis. Air matamu tak lagi bening, air matamu sudah berubah menjadi ungu kehitaman. Syaraf tangis mu pun sudah dirasuki dan ditumbuhi sulur-sulur racun itu. Apakah kau bisa sembuh wahai jiwa. Apakah racun itu bisa dikeluarkan dari jiwamu yang sebenarnya indah ini. Apakah jiwa lain mampu menarik sulur-sulur itu dan membakarnya seperti sampah, karena racun itu mencekik dan membunuhmu sedikit demi sedikit sampai kau kehilangan akal seperti sekarang ini. Apakah kau bisa kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7551881-108914185556528567?l=stanley-o.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://stanley-o.blogspot.com/feeds/108914185556528567/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7551881&amp;postID=108914185556528567' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7551881/posts/default/108914185556528567'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7551881/posts/default/108914185556528567'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://stanley-o.blogspot.com/2004/07/tentang-sakit-itu.html' title='tentang sakit itu...'/><author><name>stanley-O</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13041152574806417870</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7551881.post-108914167920057517</id><published>2004-07-06T12:20:00.000-07:00</published><updated>2004-07-06T12:21:19.200-07:00</updated><title type='text'>tentang noni kecil.2</title><content type='html'>Kurasa kakakku adalah pria yang beruntung. Dia mencintai, dan dicintai oleh wanita yang tepat. Dia berbagi kasih dan detak jantungnya dengan seseorang, wanita, yang melihat ke dalam hatinya, memeluknya dengan sepenuh hati, mengucapkan selamat malam saat ia hendak menutup matanya. Dia berbagi kasih dengan wanita yang mau mengerti, memahami, dan berjuang dengan kekurangannya. Menutup sebelah matanya akan kabar-kabar buruk, dan membuka mata yang lain yang akan memberinya semangat untuk berjuang. Aku tahu mereka selalu berjuang. Berjuang untuk apa yang mereka punya dalam hati mereka, untuk satu sama lain, untuk tiap detak yang mereka bagi.&lt;br /&gt;Mungkin kisah tentang wanita ini menjadi bias dengan cinta yang ia bagikan untuk jiwa yang lain, tapi bukankah kau akan bisa melihat sosok sebuah jiwa yang damai saat ia berbagi kasih dengan jiwa yang lain? Jiwa yang lain, jiwa yang lain.&lt;br /&gt;Wanita ini adalah jiwa yang lain. Untukku. Tiap jiwa pasti berbagi detak dengan jiwa yang lain. Aku-pun membagi detak-ku untuknya. &lt;br /&gt;Mungkin kami bertambah tua, dan menjadi sedikit lebih dewasa, mungkin kami tahu bahwa sahabat itu seperti mutiara di lautan, sukar ditemukan di antara cangkangnya yang berjuta di selimut samudera. Mungkin kami sadar bahwa hanya sedikit jiwa yang bisa menangkapmu saat kau jatuh, mungkin sedikit jiwa yang betul-betul bisa menemanimu saat sepi membunuh napas di kala malam. Saat itu lah jiwamu dan detak yang kau miliki akan kau bagikan untuk jiwa lain.&lt;br /&gt;Jiwaku adalah jiwa yang tak tahan dengan sepi, jiwaku selalu membutuhkan jiwa yang lain untuk mendukungnya. Mungkin itu yang membedakan aku dengan dia. Aku dulu adalah petualang, perambah hutan rahasia hidupku. Dulu aku selalu berpindah-pindah, dan akhirnya tiba saat aku harus menetap, saat aku putuskan aku tidak mau menjelajah hutan rahasia hidupku hanya seorang diri. Seorang diri berbicara dengan angin, pohon, lumut, air, matahari yang sebenar-benarnya tak mengerti kisahmu. Mereka mungkin mendengarkan, tapi mereka akan selalu diam. Dan kau harus menerima kesunyian yang mereka berikan.&lt;br /&gt;Dan dia, wanita itu, terus menjadi petualang. Dia tak pernah betul-betul menetap. Tapi dia katakan  padaku suatu hari di senja yang ungu, bahwa dia tak ingin sendiri. Dia masih ingin menjelajah hutan rahasia. Terus berbicara dengan angin, pohon, lumut, air, dan matahari dan saat yang sama ia akan merangkul jiwa lain yang akan menemaninya dalam jelajah dan petualangannya. Saat ia putuskan untuk membiarkan semesta diam, maka ia berdoa memohon jiwa lain untuk menemaninya dalam jelajahnya. Mungkin dia sendiri tak sadar bahwa dia adalah jiwa yang sunyi, karena ia begitu bersahabat dengan sepi, ia bisa menerima kesunyian yang dilagukan semesta di tiap langkahnya yang sendiri. Mungkin saat itulah dia kemudian bertemu dengan pria itu. Dan mereka putuskan untuk saling memegang tangan satu sama lain dan kemudian melakukan perjalanan itu bersama-sama, agar kesunyian tetap menjadi kesunyian, tapi di antara sunyi mereka memiliki kitab yang penuh dengan ayat-ayat cinta yang mereka tulis berdua.&lt;br /&gt;Dan saat mereka melakukan perjalanan, aku, jiwaku terbang di antara angin. Aku masih tak berwujud, mungkin karena sampai saat ini aku tak bisa memikirkan bentuk hidup apa yang sesuai dengan jiwaku…aku sendiri tak tahu.&lt;br /&gt;Aku terbang di antara angin, dan bertiup di antara langkah yang mereka buat. Aku melihat apa yang mereka lakukan, mendengar apa yang mereka bicarakan, mendengarkan lagu-lagu cinta yang mereka tulis dan nyanyikan untuk berdua, mendengarkan doa yang mereka sampaikan saat malam datang.&lt;br /&gt;Aku belajar untuk tidak membuat kesalahan lagi. Cinta mereka adalah penghiburanku saat jiwaku sunyi, dan saat suara hatiku benar-benar berkata ‘aku kesepian.’&lt;br /&gt;Tulisanku tentang dia sudah melewati malam-malam panjang. Malam-malam aku mencoba mengingat dia, kisahnya, dan mencoba melukiskannya.&lt;br /&gt;Ada apa di balik matahari? Langit? Jagad? Tak ada yang tahu. Aku pun tak akan tahu akan seperti apa dia beberapa tahun lagi. Tiap orang memiliki cita-cita yang mereka bisikan pada bunda sebelum malam menjemput mimpi, wanita ini pun memilikinya. Dia menceritakan beberapa di antaranya padaku. Dan seperti angin, dia akan berhembus dan meninggalkan tempat ini. Membiarkan waktu yang berbicara atas semuanya, dan dia hanya akan terbang seperti angin. Di mana langit teduh dan ia letih untuk terbang ia akan turun, menetap di sana. Tempat yang teduh yang akan menjadi titik awal baru baginya menemukan hutan rahasia hidup alam semesta yang baru.&lt;br /&gt;Ia tak pernah ragu untuk meninggalkan tempat ini, aku yakin dia akan meninggalkan semuanya. Menyisakan kenangan tentang teman-temannya yang selalu mendukungnya saat masih sekolah dulu, meninggalkan cinta yang tak mungkin ia lanjutkan lagi-karena ia ingin terbang bebas, demi impian yang pernah ia bisikan pada bunda.&lt;br /&gt;Kamu tahu bahwa dunia ini ber-rotasi dengan begitu cepat, dan kita yang ada di dalamnya dengan daya Yang Kuasa dimungkinkan untuk tidak merasakan putaran itu, kita terus melanjutkan hidup ini, di dalam putaran itu. Itulah waktu, dan entah kenapa aku merasakan bahwa kami sudah begitu tua. &lt;br /&gt;Empat tahun yang singkat ini hanya menjatahkan aku untuk mengenalnya selama dua tahun terakhir, dan dia bukan gadis yang dulu kukenal saat aku mengucapkan ‘ola’ pada bumi yang ini. Sekarang dia wanita, wanita yang duduk di bawah bulan, duduk terdiam di dalam lamunan. Duduk terdiam tak tahu hendak kemana, lalu ia meninggalkan bulan dan melangkah pergi mengejar mimpi yang ia ceritakan pada bunda sebelum malam menjemput mimpi-ia meninggalkan bulan.&lt;br /&gt;Banyak wanita yang bangga dilahirkan sebagai wanita dan tak pernah merasa begitu lemah di dunia patrilineal ini, dia ada di antara wanita itu. Dia pernah bercerita padaku bahwa ia bisa membuat pria bertekuk lutut. Entah itu secara literal, kiasan, dilebih-lebihkan, tapi karena aku yakin dia lebih pintar daripada beberapa wanita lain yang tenggelam dalam pesta rahasia di bawah malam (hilang dalam sadar karena menegak hedonisme dalam aqua) dia pasti akan membuat pria bertekuk lutut dengan begitu cerdas. &lt;br /&gt;Ia memiliki kerlingan mata yang dahsyat, senyum yang menusuk langsung ke detak jantungmu, tatapan yang mengiris sadarmu, ia akan berjalan ke arahmu dan berkata ‘jangan main-main denganku…aku serius’ dan saat itu pulalah vena di pergelangan kakimu putus dan kau tak akan bisa berdiri.&lt;br /&gt;Pagi sudah ada di ujung jalan, merayap dengan pasti, yang tertidur masih tertidur, dan aku masih mengingat-ingat potongan kisahnya.&lt;br /&gt;Bagaimana ia merasa jadi begitu kesepian saat sebuah jiwa meninggalkannya. Ia tak pernah ditinggal-katanya, biasanya ia yang selalu pergi (meninggalkan). Bagaimana Ibundanya membuatnya begitu sedih saat ia harus pulang dan mengatakan pada Bundanya bahwa ia (akan selalu) ada di sana untuknya, ia tak akan berubah, ia masih gadis kecil kesayangan Ibunda. Dan dia tak bisa membayangkan harus kehilangan jiwa penuh kasih itu, jiwa yang membesarkannya, jiwa yang selalu mendengarkan keluh kesahnya, jiwa penuh kasih yang sebagian berdetak untuknya-sebagaimana jiwanya yang indah turut berdetak buat Ibunda.&lt;br /&gt;Aku katakan padanya, jangan pernah kau bayangkan, kau tak akan mau. Karena semua kasih yang hidup di rumahmu, menyanyikan syair cinta yang ia tebarkan di sudut-sudut rumah akan hilang dengan sunyi, saat ia pergi. Jangan kau bayangkan.&lt;br /&gt;Mungkin dia tak tahu, tapi saat bersamanya aku merasa tenang, aku tak takut lagi dengan sepi yang bermain di kamarku dan menyanyikan lirik-lirik mati gubahan sepi dan gelap. Kau tak akan mau mendengarnya. Seperti segelas anggur busuk yang membuatmu muntah, separuh napas akan meninggalkan nadi, dan kau hilang tak berbekas dalam senyap bumi, dan hilangnya nyawa.&lt;br /&gt;Saat ini jiwa itu pasti sedang terlelap, dia katakan dia ingin membaca tulisan ini. Aku janjikan dua hari lagi. Sepertinya satu hari cukup. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;intermezzo.&lt;br /&gt;Saat ini kami tertawa, aku, dia, hidup ini, semua simfoni yang dimainkan langit, hutan, laut, padang, hewan, udara, bumi, semesta ini. Besok mungkin semua berubah, tawa ini akan menghilang saat kami sadar semuanya terlalu indah. Apakah yang kami miliki saat ini terlalu indah untuk mengakuinya sebagai kenyataan, dan bila kami sadar bahwa ini semua akan hilang seperti gelembung sabun kami semua akan bersedih, tenggelam dalam ratap. Sepuluh tahun dari sekarang, kami semua adalah orang yang berbeda. Kami hanya menjalani hari, menanti masa depan-fin-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7551881-108914167920057517?l=stanley-o.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://stanley-o.blogspot.com/feeds/108914167920057517/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7551881&amp;postID=108914167920057517' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7551881/posts/default/108914167920057517'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7551881/posts/default/108914167920057517'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://stanley-o.blogspot.com/2004/07/tentang-noni-kecil2_06.html' title='tentang noni kecil.2'/><author><name>stanley-O</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13041152574806417870</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7551881.post-108914150056718615</id><published>2004-07-06T12:17:00.000-07:00</published><updated>2004-07-06T12:18:20.566-07:00</updated><title type='text'>tentang noni kecil</title><content type='html'>Hidup itu aneh. Kau kenal seseorang, tertawa bersamanya-tiga hari cukup (itu  waktu yang kuhabiskan bersamanya saat orientasi mahasiswa baru di kampus)-berpikir-berbicara banyak hal, lalu dia menghilang (kau juga hampir tidak pernah memikirkannya), dan sekarang dia kembali dalam hidupmu, bahkan menancapkan pasak yang (kelihatannya) cukup kuat. Rasanya dia akan susah menarik pasak itu dari hidupmu. Kau juga menjadi tidak mengerti bagaimana hidup tanpa ada dia. Sebagian akan hilang, sebagian akan benar-benar hilang, sebagian menjadi tidak berarti, sebagian lagi kosong. Semuanya tentang ketidakpenuhan.&lt;br /&gt;Pada saat yang bersamaan aku bisa membenci sekaligus menyayangi perempuan ini. Si noni kecil, begitu Ibunya sering memanggilnya. Sebenarnya dia tidak kecil, cenderung (terlalu) tinggi, tapi tidak menjulang (atau aku saja yang pendek, untuk ukuran pria aku memang pendek). Si noni kecil (yang adalah) temanku, sahabatku (karena dia berbagi banyak hal denganku, dia terlalu mengenalku-dan aku tidak bisa mengesampingkan dia karena itu), dan kalau semuanya lancar, kakak iparku (dia menjalin hubungan khusus dengan kakakku, hal yang membuatku bisa sangat membencinya tanpa alasan yang jelas, kurasa aku cuma tidak bisa melihat kakakku ‘diambil’ orang lain, kurasa aku hanya tidak bisa menerima bahwa aku orang yang kalah, gagal, tersudut dalam percintaan. Bayangkan bila kakakku akhirnya menikah dengannya, apakah aku akan menjadi party poopers dan meledakan convention hall tempat mereka mengadakan resepsi, kemudian aku akan tertawa melihat kegagalan pesta itu. Konyol).&lt;br /&gt;Hidup itu aneh (not again). Dia terlalu mengenalku, sampai-sampai bila dia kurang memperhatikanku aku menjadi kesal. Ya, kesal. Karena dia sibuk (memadu cinta, kasih, atau apalah namanya itu) dengan kakakku. Aneh. Dia bilang (aku) boleh bermanja-manja dengan dia, karena kakakku menjadi sangat manja di dekat pacarnya. Tapi itu akan menjadi aneh.&lt;br /&gt;Sebentar, apakah sampai di sini tulisan ini masih membahas dia? Mudah-mudahan, sebab aku merasa sepertinya aku malah membahas tentang aku sendiri.&lt;br /&gt;Aku menyukainya. Masih ingat Margaret Tatcher? aku tidak pernah bertatapan muka dengan Margaret Tatcher, aku hanya mendengar, dan menyaksikan sepak terjang perempuan hebat ini melalui media, dan itupun waktu aku masih sangat kecil, saat pukul sembilan malam (setiap malamnya) aku masih sangat suka menyaksikan Dunia Dalam Berita melalui TVRI. Perempuan ini pasti sangat hebat pikirku. Karena di dunia patrilineal ini ada sosok seperti dia. Aku menghargai Kartini, tapi buatku Kartini masih begitu abstrak, dan Margaret Tatcher begitu konkret. Aku tahu Margaret Tatcher sering menggunakan setelan kuning gading.&lt;br /&gt;Sekarang, aku berhadapan dengan perempuan seperti wanita asing yang kugambarkan di atas. Aku sudah katakan, aku menyukainya.  Aku tidak tahu dia idealis atau tidak, tapi dia punya pegangan akan hidupnya. Hidupnya tidak seperti ratu Inggris yang memiliki agenda khusus setiap harinya, tapi dia tahu kemana harus melangkahkan kaki. Beberapa wanita hidup dengan rantai yang mengekang langkah kakinya, rantai yang membuat mereka tak mampu membuka mata terhadap dunia, rantai yang membuat mereka hanya mengenal satu macam dunia. Perempuan ini memiliki rantai itu (dulu), tapi aku yakin ia sudah mematahkan rantai itu bertahun lalu. Seperti kuda liar yang berlari di padang rumput kebebasan, yang luas, hijau, dan menjanjikan petualangan di samudera hidup. Tak mudah memegangnya, tak mudah untuk mengerti dirinya. Hutan di padang rumput ini pun tak cukup luas untuk membuatnya puas dengan rahasia hidup, ia akan terus berlari, memasuki semua lembah, rerimbunan, gelapnya hutan-hutan baru, semua yang memanggil namanya atas nama kebebasan.&lt;br /&gt;Aku yakin aku tidak berlebihan bila kukatakan bahwa ia sangat mengenalku. Tiga tahun lebih, dengan semua kisah sedihku, bahagiaku, gelap dan terangku, itu pasti cukup membuat dia mengerti dan mengenalku. &lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7551881-108914150056718615?l=stanley-o.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://stanley-o.blogspot.com/feeds/108914150056718615/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7551881&amp;postID=108914150056718615' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7551881/posts/default/108914150056718615'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7551881/posts/default/108914150056718615'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://stanley-o.blogspot.com/2004/07/tentang-noni-kecil.html' title='tentang noni kecil'/><author><name>stanley-O</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13041152574806417870</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7551881.post-108914143406194846</id><published>2004-07-06T12:15:00.000-07:00</published><updated>2004-07-06T12:17:14.063-07:00</updated><title type='text'>tentang perempuan, musim semi...</title><content type='html'>Dari perempuan-perempuan itu, kini saatnya aku menceritakan kisahnya, siapa dia, kenapa dengannya, ada apa dengannya, denganku, dia dan aku. Rasanya sedih, tak mampu aku… begitu lelah aku hendak bercerita tentang dia; masih ingat aku sakit itu, sedih yang ia turut ciptakan untukku, malam tak habis untuk mengerti dia, dan untukku pagi menjelang tanpa tidur hanya untuk sadar bahwa peluk ini jauh dari raganya, jiwa ini jauh dari sadarnya, dan mataku menari-nari dengan kantuk-aku berusaha mengerti dia, berusaha mengerti kenapa aku harus mengerti dia, dan keputusannya-menghampakan aku. Mungkin aku begitu sakit hati, sampai aku bisa bercerita seperti ini. Tapi biarkanlah, toh dia tak pernah tahu rasanya menjadi seperti aku. Dia tak pernah kehilangan sebagian hidupnya, merasa kosong, dan mencoba mengisi itu kembali seumur hidupnya. Karena itu yang kulakukan, hingga saat ini. Mencoba mengisi bagian yang tiba-tiba menjadi kosong itu, bagian yang menghampakan semua, ya semua sadarku. Bagian yang membuat perhentian sesaat dalam napas ini, sesaat yang rasanya seperti selamanya. Karena  itu memang selamanya.&lt;br /&gt;Aku menghabiskan ribuan malam, kalau ia tidak tahu, mencari dalam semesta jagad potongan untuk melengkapi hampa yang menghambaku-darahku, potongan itu begitu besar, maka besar pula potongan baru yang harus kucari agar jiwaku bisa bernyanyi lagi, dan senyumku akan lebih terkembang kepada padang hidup ini. Itu, bila ia tidak tahu.&lt;br /&gt;Dia baik, begitu baik, begitu indah, begitu berkesan…kenapa aku masih menulis tentang dia? Lebih baik aku tidur?&lt;br /&gt;Itu adalah hak prerogatif perempuan, membuat sakit hati, tidak terelakan, tidak terperikan. Aku sadar itu haknya. Haknya, dan aku akan selalu ingat itu, tiap musim menjelang, saat daun-daun berguguran, angin dingin merah menjadi selimut jagad, dan salju pertama jatuh, saat hidup tidur di dalam peluk bumi, dan saat mereka kembali bernyanyi untuk hidup.&lt;br /&gt;Aku akan selalu ingat. Di mana harga diriku sebagai laki-laki, tidak bisa menerima penolakan ini. Aku harus berbesar hati, harus tersenyum dengan lengkung yang hanya separuh-sisanya miris, aku harus…apa lagi? tarik nafas, dan ceritakan siapa dia sebenarnya. Baik, aku akan andaikan dia, seperti yang sudah kulakukan pada perempuan-perempuan yang lain. Aku sangat mahir mengandaikan, mengandai-andai, membandingkan, disitulah aku bisa berkata-kata, walau sakit, tidak terbersit bijak, mungkin banyak duka, tapi itu memang dia yang kugambarkan.&lt;br /&gt;Seperti banyak pria, selalu ada jiwa rupawan milik seorang perempuan yang membuatmu tak mampu berkata-kata, emosi jiwa tak terkendali seiring senyumnya yang bermain di matamu, jutaan mimpi kau tebar dalam imaji untuk bisa berbicara lebih dekat dengannya, membawanya menikmati malam, menikmati bulan, atau apalah.&lt;br /&gt;Jiwa rupawan yang sepadan, seiring, dan memainkan komposisi jiwa cinta yang kau rindukan dengan begitu pas, belum pernah ada yang demikian pikirmu. Inilah dia. Pikirmu. Itu juga pikirku, rekan seperjuangan. Kita adalah pejuang, berusaha meraih hidup yang dicitrakan oleh hadirnya sang cinta, kita adalah pecinta, pecinta butuh dicintai, dan kau mencari jiwa rupawan milik seorang perempuan yang akan mencintaimu. Kita adalah pejuang, berusaha meraih hidup yang dicitrakan oleh hadirnya sang cinta, kita adalah pecinta, dan pecinta butuh untuk dicintai.&lt;br /&gt;Aku tak pernah berpikir untuk menginginkannya mencintaiku. Tapi jiwaku begitu sepi, dan senyumnya membunuh sepi itu, matanya membuatku selalu rindu akan potongan besar yang hilang dari hidupku. Ada cinta yang bicara dari matanya dan menyambut rindu dari hatiku. Dan aku menginginkannya mencintaiku.&lt;br /&gt;Intermezzo sinisme, mungkin aku tak tampan (memang itu kenyataannya), mungkin aku tak gagah (memang begitulah adanya), mungkin aku…tak perlu repot menginginkannya mencintaiku.&lt;br /&gt;Kita tak pernah tahu apa yang dipikirkan jiwa lain, begitu pula aku tak pernah tahu apa yang ia rencanakan untukku. Apa yang akan ia lakukan atas hidupku. Hatiku terlalu kosong karena sakit yang amat sangat menghamba atas nama sunyi, sepi, dan tabrakan momentum memori akan dia. Percepatan waktu membuatku hampir percaya bahwa kisahku (saat itu) akan berakhir baik, tapi ternyata jiwaku tak siap dengan kekacauan yang ada. Dan aku semakin sakit, semakin kosong, semakin tak bernyawa karena akhirnya aku percaya dan harus bertanya adakah emas di pundi yang akan kutemui di ujung kaki pelangi. Rasanya berhari-hari melewati panas, kering, tanah gersang, tanpa minum, dan bibirmu mengelupas, dan saat kau hampir gila kau mulai berhalusinasi dengan semua ketidakberdayaan dan ketidakyakinan bahwa (akan) ada suatu kebaikan, kebahagiaan terjadi atas jiwamu yang sekarat.&lt;br /&gt;Intermezzo sinisme, dia tidak tahu rasanya kehilangan, menjadi kosong, dan berusaha hampir seumur hidupmu untuk mengisi bagian yang kosong itu.&lt;br /&gt;Aku jadi seperti orang jahat, aku rasa aku memang jahat. Jahat karena aku menyudutkannya. Jahat karena tidak bisa menerima lakon yang ia hidupkan. Jahat karena…dia membuatku semakin tidak percaya, akan orang-orang seperti dia.&lt;br /&gt;Aku sudah begitu lelah duduk di bawah semesta yang selalu gelap, selalu sepi, dan hanya malam lah kisah yang diceritakan sang waktu. Melihat jiwa-jiwa, kisah-kisah, lagu-lagu, kematian, kelahiran, kehidupan, kehadiran, ketiadaan, kedatangan, kepergian datang menjenguk kisahku, lalu kemudian pergi. Tapi yang kunanti tak pernah singgah. Sampai kapan. Aku sudah begitu lelah duduk di bawah semesta, duduk di sini, di kursi hidupku, yang setiap saat bisa saja tiba-tiba retak dan hancur, kemudian lapuk dimakan bumi. Dan aku pun hilang tak berbekas, meninggalkan sakit yang (mungkin) tidak pernah terobati. Dan dunia akan melupakanku. Mungkin mereka akan ingat, tapi ingatan mereka hanya terbatas pada sebuah jiwa yang sangat menderita, dan sakit.&lt;br /&gt;Sudahlah, aku terlalu banyak merepet. Ini jadi memuakan, bahkan buatku sendiri.&lt;br /&gt;Aku sudah lupa kapan tepatnya aku bertemu dia. Sudah lama, cukup lama, dan tiba-tiba saja aku merasa menjadi sangat tua karena mengingat pertemuan itu. Kamu tahu, kadang saat kamu bertemu wanita cantik maka sebuah reaksi terjadi tak terjelaskan terjadi atasmu, apalagi jika perempuan ini begitu extraordinary. Bayangkan jika kau punya kesempatan bertemu Dian sastrowardoyo yang marvelous itu. Ada yang bilang sejuta rasanya. Momen-momen itulah yang kumaksudkan. Momen di mana kau ingin melihat dia dari berbagai sudut, dari ujung rambut hingga ujung kaki, mencoba menjelaskan pada dirimu sendiri kenapa jiwa ini begitu rupawan, begitu indah, begitu tak tertahankan.&lt;br /&gt;Itu semua tak terjadi pada diriku. Percayalah, bukan maksudku mengatakan dia tidak cantik. Dia cantik, jika tidak bagaimana kekasihnya yang sekarang mau memacarinya. Jika kekasihnya yang sekarang itu tidak mau, dan setidaknya dia mencoba mengerti, melihat aku sebentar saja, mengetahui aku sedikit lebih dalam, maka akulah yang akan memacarinya. Tapi dia tak pernah melakukan semua itu; dia (sibuk) membangun tirai untukku yang (saat itu) membuatku dipaku dalam bingung, dan tanya tak berjawab.&lt;br /&gt;Atau aku mencintai wanita yang salah. Kenapa aku bisa hilang dalam nujum romansa miliknya, dia bukan tipeku. Tapi jujur saja, aku menyukai wanita-wanita yang tak banyak bicara, let me do the talking, may be she’s too smart that I am becoming an outsider in her league. Aku mencintai wanita yang salah? Dia salah di bagian mana sampai aku tidak boleh menyukainya? Pada hatinya yang tak tertebak sehingga aku harus hati-hati supaya tak terluka (dan akhirnya kau terluka)? pada senyumnya yang melukiskan rimbunnya cemara di tengah terikmu? Pada pikirannya yang terlalu maju (atau sebaliknya) karena ia bersekolah di mana-mana? Karena ia membaca banyak buku? Karena ia sering bertemu dengan kaum intelek kota ini? Karena ia memendam semua hasrat dan intelektualitasnya (sehingga ia menjadi wanita yang berbahaya karena kau tak tahu kedalamannya)?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi aku ingat matanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mulai mencintainya saat kutatap matanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu aku sudah begitu lelah, begitu sendiri, begitu menanti (sesuatu yang masih kulakukan hingga saat ini), begitu hilang dalam kosong. Ya, kosong. Saat itu aku begitu rindu akan damai yang dulu sempat bertandang, membuat napas ini begitu lengkap, membuat hidup ini begitu  damai, mengikat jiwa ini dengan bahagia. Yang dulu sempat bertandang. Saat semuanya hilang, jiwaku porak poranda dilanda badai, dan tegarnya raga ini berserakan harus kukumpulkan sedikit demi sedikit hingga aku bisa tegar lagi. Saat bahagia itu hilang, hidup ini tak lebih dari napas, dan raga ini berjalan tanpa jiwa, senyum ini milik raga yang sudah mati bahagia jiwanya. Saat penghiburan hilang, maka aku berdiri tak bergerak-terpuruk dalam tercekiknya saraf sadarku. Aku sadar, dan tidak sadar pada saat yang bersamaan.&lt;br /&gt;Lalu, aku lihat ia duduk di sana. Aku ada di kursi itu, tak jauh darinya. Aku tak begitu mengenalnya saat itu, dan aku begitu ingin melihatnya. Ia tersenyum, dan mata itu membunuh sadarku saat itu juga. Rasanya tak percaya dan tak bisa kuterima, tapi damai yang kunanti itu beristirahat di matanya.&lt;br /&gt;Damai yang kuharap beristirahat di jiwaku. Agar jiwa ku kembali ke raga ini. Agar jiwaku bisa berkata-kata tentang bahagia, hidup, harapan, cinta, suka, semua yang dulu sempat menjadi syair napasku. Syair yang begitu senang saat kunyanyikan.&lt;br /&gt;Mungkin sampai sekarang dia tak pernah tahu mengapa aku begitu mengharapkannya, menantikannya. &lt;br /&gt;Apakah doaku kepada Tuhanku kurang dari cukup agar damai itu bisa kumiliki kembali, agar jiwaku kembali ke rumahnya dan membahagiakan ragaku, agar aku tak selalu berteman dengan malam (dan sepi yang selalu bersamanya di sudut-sudut mati bilik ini), agar letihku dalam perjalanan ini tak begitu kurasakan-karena bebanku begitu berat. Agar sekiranya satu malam, hanya satu malam, aku diijinkan merasakannya lagi. Merasakan jiwaku utuh dan pecahan-pecahan yang tersembunyi itu berkumpul dalam darah dan napasku, dan aku bisa melanjutkan perjalanan ini lagi.&lt;br /&gt;Sekarang, aku mengutuk diriku sendiri, dan aku…aku tak tahu.&lt;br /&gt;Tak kupercaya jiwaku sendiri, aku bisa meratap seperti itu, seharusnya aku tertawa karena aku terlihat bodoh karena tak bisa menerima keadaan. Harusnya aku sudah memuntahkannya semua. Banyak manusia lain yang (akan) lebih menghargai hati dan detak yang kau miliki untuknya, dan bila saat itu datang untukmu bertemu dengannya, kau pasti akan segera tahu, dan jangan lepaskan. Jangan pernah tenggelam dan sakit, lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7551881-108914143406194846?l=stanley-o.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://stanley-o.blogspot.com/feeds/108914143406194846/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7551881&amp;postID=108914143406194846' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7551881/posts/default/108914143406194846'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7551881/posts/default/108914143406194846'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://stanley-o.blogspot.com/2004/07/tentang-perempuan-musim-semi.html' title='tentang perempuan, musim semi...'/><author><name>stanley-O</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13041152574806417870</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7551881.post-108914128193793303</id><published>2004-07-06T12:14:00.000-07:00</published><updated>2004-07-06T12:14:41.936-07:00</updated><title type='text'>tentang vas keramik</title><content type='html'>Ini tentang wanita yang satunya. Wanita ke-dua, tanpa bermaksud membuat urutan, atau peringkat. Ini bukan polling, itu saja. Kebetulan dia ada di pikiranku sekarang. Jam sebelas malam dan aku memikirkan dia? Dan kamarku adalah sauna, dan bumi semakin panas, dengan ozon yang sepertinya semakin menambah diameternya. Pria gemuk yang tertidur di atas jagad. Jam sebelas malam aku memikirkan dia?&lt;br /&gt;Aku kenal dengan dia? Apakah aku begitu mengenalnya? Jawabannya, ya. Dia lahir dengan perpaduan minang dan jawa mengalir dalam darahnya dan parasnya yang rupawan. Dia memang rupawan, bila tidak bagaimana semua orang akan berhenti sesaat hanya untuk melihat bagaimana dia berjalan, apa yang ia kenakan, siapa yang ia sapa, bagaimana ia tersenyum. &lt;br /&gt;Dan dia seperti kaca. Ringkih dan rapuh. Dunia ini sepertinya begitu keras buat dia. Dan dia terpaksa menerima itu. Aku tahu dia bisa pecah setiap saat. Sebenarnya semua orang seperti itu, ringkih dan rapuh, terlebih saat kau tidak bisa menerima perlakuan, ketidakadilan dunia terhadapmu. Aku bisa lihat dari matanya, saat ia lelah dan tak mampu lagi menahan beban yang dunia serahkan padanya. Aku belum pernah melihat wajahnya saat ia tertidur, tapi pasti ia sangat rupawan. Pasti semua beban akan hilang saat ia tertidur. Mungkin ia bermimpi kekasihnya membawanya terbang dan mengunjungi hutan rahasia di mana gelap, sedih, masa lalu tak dapat menyentuhnya.&lt;br /&gt;Dia seperti vas keramik yang ditempatkan di etalase. Vas keramik dengan lukisan, warna-warni hidup, motif-motif indah yang mengingatkanmu akan langit biru, masa kecil yang jauh, gula-gula buatan ibu, dan wangi bunga semerbak milik sang musim semi. Semua orang ingin memiliki vas keramik itu. Dia sangat mahal. Kamu tidak bisa memilikinya begitu saja. Banyak yang harus kau korbankan. Dan vas keramik sendiri pasti punya firasat akan siapakah tuannya nanti.&lt;br /&gt;Aku ingat ia pernah menjadi milik seseorang, aku tak tahu apakah ia bahagia bersamanya. Ia pernah tidak kelihatan dari etalase itu, dibawa pergi seorang pemuda yang penuh dengan angan, keinginan, dan hasrat yang terlukis di wajahnya. Tapi sekarang vas keramik itu kembali ke etalase itu. Aku melihatnya saat mampir di toko kerajinan itu suatu sore. Dia sudah dikembalikan di tempatnya semula. Kurasa pemuda itu tak mampu memelihara si vas keramik dengan baik. Tapi vas keramik itu tidak seperti saat aku melihatnya dahulu. Warnanya sudah agak membaur dengan bahan pembuatnya, warnanya sudah agak pudar, ada sedikit guratan di sana-sini, dan beberapa motif di permukaanya sudah terkikis. Apa yang sudah dilakukan si pemuda kepadanya?&lt;br /&gt;Apakah kamu tahu kisah Sayap-Sayap Patah yang ditulis Khalil Gibran? Perempuan ini mengingatkan aku akan wanita di kisah itu. Wanita yang  (akhirnya) tak mampu bersatu dengan kekasih sejatinya, dan akhirnya harus dikubur di balik tanah nan gelap dan lembab, bersahabat dengan sunyi, dan kekasihnya meratap di bawah atap dunia karena tak mampu menyelamatkannya dari rentenir jahat.&lt;br /&gt;Aku jadi semakin penasaran bagaimana kah wajah wanita ini saat ia tertidur, aku ingin melukisnya, dan menunjukan lukisan itu padanya, sekiranya ia ingin tahu seperti apakah wajahnya saat ia begitu tenang, melupakan semua masalahnya di jagad ini. Apakah ia lupa rasanya bahagia? Apakah ia teringat sesuatu yang lupa ia lakukan dan akhirnya membuat ia meratap dalam bisu?&lt;br /&gt;Aku semakin merasa tak kenal dengan dia. Aku semakin merasa membuat kisah ini semakin palsu dan tidak berhasrat, tak mampu menghargai dia yang sebenarnya. Dia begitu terkurung, dan tersembunyi, aku semakin tak mengenalnya?&lt;br /&gt;Aku merasa terkutuk dan begitu tersiksa karena tak mampu mengungkap siapa dia.&lt;br /&gt;Setengah dua belas malam, dan aku begitu ingin menceritakan kisahnya pada bulan. Tentang wanita ini. Wanita yang terkurung. Apakah karena ia orang minang? Agak tidak masuk akal. Wanita minang lahir dengan darah matrilineal yang begitu kuat. Wanitalah yang meminang laki-laki, di mana lagi hal seperti itu bisa terjadi.&lt;br /&gt;Tapi kenapa aku melukiskannya begitu ringkih, dan rapuh?&lt;br /&gt;Sang masa akan terhenti saat ia berjalan di lorong sunyi, semua mata akan terdiam, dan bibir akan terkunci, hanya untuk menyaksikan kemana ia pergi, kemana angin menyibak pakaiannya. Semua jiwa seakan menjaga agar ia tidak jatuh dan pecah saat ia mengayunkan langkahnya di lorong sunyi itu. Seperti vas keramik itu.&lt;br /&gt;Vas keramik ini adalah seorang perempuan yang iklas berada di dalam sangkar, dan sangkar itu dibangun oleh nilai-nilai, yang mendasar, yang dipercayai olehnya. Nilai-nilai yang diwujudkan dalam bentuk kesadaran lahiriah, akan hidup yang taat, modernitas yang diselimuti oleh kekuatan norma, modernitas dengan kendali yang lahir dalam dirinya. Sebagai perempuan, sebagai bagian dari kaumnya. Yang hidup antara nilai-nilai itu. Sekali lagi, dia ikhlas. Dari dasar hatinya.&lt;br /&gt;Dia pernah sekali bertanya padaku apakah dia memang seperti vas keramik yang kulukiskan atas nama dirinya itu, apakah sangkar yang tak kelihatan itu masih menghantui tiap langkahnya dan membuat dunia ini seakan berada di luar napasnya, bahkan saat jagad ini mencoba menyapanya mereka tak mampu membuka sangkar itu dan mengucapkan salam. Apakah aku ikut melihat sangkar itu, yang bahkan ia sendiri tak mampu melihatnya. Apakah dunia kemudian menghindari dirinya karena sangkar itu membuat langit, bahkan siang dan malam tak mengenal, tak mampu bersahabat dengannya. Sangkar itu membuat wanita rupawan ini seakan disembunyikan oleh malam, sehingga ia bernaung dalam gelap, dan malam tak mau membaginya dengan nyawa-nyawa hidup lain. Kukatakan padanya, malam itu adalah miliknya, dan setiap saat kau ingin membuka tirai agar sinar menyeruak masuk dan terbitlah siang di baliknya maka saat itu pulalah dia akan berbagi siang dengan dunia. Saat itu pulalah dunia bisa mengenalnya, mulai bersahabat dengannya. Aku rasa dia juga tak ingin berlama-lama berada di balik tirai itu, dia pasti ingin mengucapkan salam pada dunia.&lt;br /&gt;Di balik tirai yang menyembunyikan sebagian parasnya yang rupawan itu tersembunyi keindahan perempuan yang berombak dan beristirahat bak samudera. Aku terlalu puitis, aku terlalu melukiskan dirinya dengan kata-kata. Aku tak mampu mengungkap indahnya dengan kata-kata yang berselera sosial, representasi kultur, kritik akan eksistensinya sebagaimana dia bisa dilihat dan dipresisikan oleh mahasiswa jurusan sosiologi (yang mungkin akan lebih melihatnya sebagai pribadi dengan ras, kepercayaan, aliran, aturan, nilai-nilai tertentu). Aku tak menguasainya. Mungkin aku bisa, tapi aku (pasti) akan terhenti di tengah-tengah.&lt;br /&gt;Mungkin aku juga sebenarnya melihat sangkar yang mengelilinginya itu, sangkar yang membuat dunia ini tak mampu menyentuh dirinya, sangkar yang mengikat paras yang rupawan itu pada tiap bar jeruji dan pada tiap ikatan itu terinternalisasi nilai-nilai yang tetap membuatnya bertahan di dalam sangkar. Dan pada kenyataannya sangkar itulah yang membatasi aku dengan perempuan rupawan ini. Kurasa aku akan mampu mengenalnya lebih jauh dan secara frolic bisa melukiskan siapa dia kepada kalian, tapi aku tidak mengenal, mengerti, menguasai sangkar itu. Sangkar itu menyimpan daya yang harus kuungkap terlebih dahulu. Baru aku dapat mengisahkan si perempuan rupawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7551881-108914128193793303?l=stanley-o.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://stanley-o.blogspot.com/feeds/108914128193793303/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7551881&amp;postID=108914128193793303' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7551881/posts/default/108914128193793303'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7551881/posts/default/108914128193793303'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://stanley-o.blogspot.com/2004/07/tentang-vas-keramik.html' title='tentang vas keramik'/><author><name>stanley-O</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13041152574806417870</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7551881.post-108914120962616120</id><published>2004-07-06T12:13:00.000-07:00</published><updated>2004-07-06T12:13:29.626-07:00</updated><title type='text'>tentang ruang</title><content type='html'>Kamarku seperti sauna di saat subuh. Aku tidak punya alat yang bisa menghembuskan angin segar supaya setidaknya aku bisa tidur dengan nyaman, dan tentu saja sejuk. Bulir-bulir keringat keluar dari kulit ku yang hangus terbakar matahari siang pulau jawa. Sepertinya matahari sedang berlibur di pulau jawa, berkunjung sejenak ke keraton, kepatihan, melihat-lihat borobudur, prambanan, membeli batik, mencari perak di kota gede, mencari tembikar di bantul. Dia begitu dekat, dan kota ini serasa terbakar saat siang. Dan kini kamarku adalah sauna saat subuh. Tidak ada lubang angin yang terbuka, mencegah nyamuk masuk. Kulitku termasuk sensitive terhadap gigitan nyamuk, dan aku tak ingin kulit legam ini semakin tak enak dilihat dengan bekas gigitan nyamuk. Dan kota ini bukan Los Angeles, di mana di sana tidak ada nyamuk, jadi kau bisa tidur dengan jendela terbuka, menanti angin semilir masuk. Betapa ingin aku berada di Los Angeles saat ini, menanti angin yang bisa membuatku tidur nyenyak, bukannya menulis.&lt;br /&gt;Jam dua pagi, dan aku menulis. Aku ingin menjadi penulis script handal seperti Charlie Kauffman, dia itu jenius. Bahkan pantatnya yang gemuk adalah bagian dari scriptnya yang sederhana dan brilian itu. Aku bisa menuliskan apa dari bagian tubuhku yang (menurutku) tak enak dilihat ini?&lt;br /&gt;Mataku cukup sayu untuk bisa melihat layar monitor, dan aku tahu seandainya ada angin bertiup di kamar ini aku sudah tidak sadarkan diri dan bermain dengan kelinci-kelinci bulan di pulau kapuk. Gilanya aku malah sedang mengingat tiga cintaku yang semuanya hancur berantakan, dan membuatku merasa pantatku ini semakin tipis, akhirnya aku menilik pantatku sebagai bagian dari tulisanku. Tanganku yang kecil ini tak mampu menopang wajahku (lagi) dan menunjukan harga diriku sebagai seorang manusia. Jujur saja aku lelah menantikan cinta itu. Perutku serasa penuh dengan penantian dan aku siap muntah karena minum black label dan tea palsu merk long island, dan aku akan jack pot. Nanti kalau aku muntah pasti yang keluar adalah huruf-huruf C, I, N, T, A yang sudah hancur dan berulat di sana-sini. Dan karena cuaca panas aku pasti akan semakin mabuk, dan cinta akan seperti obat pencahar yang baik buat sakit hatiku.&lt;br /&gt;Cintaku direbut, direbut, direbut, dirampas, dirampas, dan dirampas. Tidak bisa menjadi sonnet, tapi bunyi ulang yang kutulis barusan cukup indah:&lt;br /&gt;Direbut, direbut, direbut- dirampas, dirampas, dirampas.&lt;br /&gt;Mungkin bisa menjadi haiku.&lt;br /&gt;Sakit, seperti borok. Karena pada akhirnya aku hanya menjadi penonton, dan saat ini aku sedang menonton pementasan teater tak kasat mata berjudul “dia, dia, dan dia…” Aku lupa, pementasannya sebenarnya terdiri dari tiga babak. Barusan itu babak pertama. Babak kedua berjudul “aku bohong kepadamu tentang hatiku yang belum bisa mencintai.” Babak ketiga berjudul “kita tidak akan bisa bertemu.”&lt;br /&gt;Kalau pementasan ini punya gedung pementasan khusus seperti teater pada umumnya pasti sudah kubakar, hingga abu, tak bersisa. Bahkan akan kuhabiskan abunya, kuterbangkan dengan kipas angin raksasa, atau dibuang ke laut seperti pada abu pahlawan. Drama tiga babak dengan lakon yang menyayat hati, dan aktor serta aktris yang rasanya pernah kukenal, semua pembohong keparat. Lega rasanya bisa menuliskan itu. Seperti erupsi gunung etna yang menghabiskan penduduk di lereng gunung, tak bersisa, dan sisanya hanya patung-patung abu mengerikan saksi sejarah. Aku benci meng-atributkan (keparat) itu.&lt;br /&gt;Cukup, cukup satu halaman buat drama tiga babak, dengan pembohong keparat sebagai pemainnya. Mereka harus segera pindah dari sini, dan memainkan lakonnya di tempat lain. Cukup satu halaman, aku sudah mengantuk. Sudah subuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7551881-108914120962616120?l=stanley-o.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://stanley-o.blogspot.com/feeds/108914120962616120/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7551881&amp;postID=108914120962616120' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7551881/posts/default/108914120962616120'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7551881/posts/default/108914120962616120'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://stanley-o.blogspot.com/2004/07/tentang-ruang.html' title='tentang ruang'/><author><name>stanley-O</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13041152574806417870</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7551881.post-108914113208713666</id><published>2004-07-06T12:11:00.000-07:00</published><updated>2004-07-06T12:12:12.086-07:00</updated><title type='text'>tentang burung pipit kecil</title><content type='html'>Gadis ini seperti mutiara yang dipendam di lautan dalam, lautan biru gelap, saat cahaya tak lagi mampu menunjukan kuasanya atas gelap. Dia lahir di sana, tak seorangpun tahu bagaimana dia sebenarnya. Dialah putri dari dalamnya samudera. Demikian adanyalah dia. Rambutnya seperti gelombang samudera di bawah selimut malam, begitu hitam, matanya adalah samudera itu sendiri. Seperti samudera yang tak tertebak, maka begitu pulalah dia. Aku tidak pernah merasa begitu kenal dengannya, dengan semua imaji dan perkiraanku akan dia, dia tidak pernah begitu mampu membuatku menyeruak dalam indahnya rahasia yang ia simpan untuk hidup.&lt;br /&gt;Dia adalah perpaduan nilai-nilai konservatif, sedikit budaya Jawa, dan kebiasaan barat yang cukup seimbang, namun menjadi tidak seimbang saat berhadapan dengan alterasi nilai dan pilihan-pilihan yang harus ia buat. Aku tidak mampu menilai, tapi aku adalah pengamat yang baik. Dengan logat yang ia miliki maka orang akan merubah anggapan bahwa jelita indah ini milik seorang gadis dari Phuket, melainkan dari keraton jawa.&lt;br /&gt;Dia adalah eksistensi pribadi yang membangun tembok atas nilai-nilai umum, setidaknya itu yang bisa aku lihat. Banyak memang yang bisa diceritakan, tapi sebagian memang konfidensial. Kebijakan penganut kerahasiaan jurnalisme. Sebagian orang bilang dia terlalu bergaya, tidak punya eksistensi yang jelas akan pilar-pilar hidupnya, mengakui kalau ia bukan mainstream, dan jelas-jelas tidak tahan akan tatapan dan pria-pria ekspatriat yang melintas di sampingnya saat ia mencoba berfokus. &lt;br /&gt;Pacarnya sekarang seorang ekspatriat yang tinggal di negeri kincir angin, seseorang yang dengan rela menelpon dia saat jam dua pagi di nusantara ini (perbedaan waktu memang merugikan buat mereka yang menjalin hubungan jarak jauh), seseorang yang sudah cukup stabil untuk menjaga gadis jawa ini dari kelabilannya yang masih bermain dalam dirinya. Pasti susah menjalin hubungan dengan ekspatriat; perbedaan nilai-nilai, proses yang mengarah pada akulturasi, tatanan hidup, individualisme, semuanya cukup berat.  Dan ia menjalin kasih dengan seorang ekspatriat, seorang pria yang tinggal di daerah yang memiliki empat musim, dan bunga tulip yang mekar setiap tahunnya. Bukan mata hitam, dan kulit sawo matang, tapi enam kaki lebih, berkulit merah karena tak tahan dengan panasnya matahari tropis, rambut pirang ikal cirri khas kaum itu.&lt;br /&gt;Wanita local yang berpacaran dengan ekspatriat sangat kentara di kota ini. Dari yang memang betul-betul cocok karena sama-sama berperawakan menarik, enak dilihat, dengan view point bahwa mereka memang meant to be, sampai yang tidak bisa dijelaskan bagaimana mereka bisa bertemu dan akhirnya menjalin kasih. Yang pasti akan ada satu pihak yang mengalami pergerakan budaya, dan kita yang melihat bisa menyaksikan pergerakan itu dari perubahan penampilan dan sikap, dan bisa membayangkan seperti apa dia sebelumnya. Kau mungkin mau, mungkin juga tidak.&lt;br /&gt;Kembali ke dia, perempuan itu. Dia…senang dengan warna kulitnya. Warna kulitnya yang membuat ia dikira berasal dari phuket, dan bukan seorang wanita jawa. Aku rasa itu pulalah yang membuat kekasih ekspatriatnya melirik dia. Orang-orang putih yang mencari gadis-gadis eksotis berkulit legam. Dia tidak seperti Naomi Campbell, agak sedikit memiliki sinar Halle Berry. Aku suka yang terakhir.&lt;br /&gt;Pacarnya bilang dia memiliki gaya hidup seperti ekspatriat, tapi saat dia cemburu karena kekasihnya itu tidak membalas pesan singkat yang ia kirim ribuan mil jauhnya, maka pola pikir asia yang konvensional itu membuat dia kembali ke jati dirinya. Seorang gadis asia, tepatnya jawa, bukan dari pukhet.&lt;br /&gt;Saat tulisan tentang dia ini dahulu sempat kuhentikan, maka pagi ini kulanjutkan. kuputuskan bahwa dia adalah masterpiece, jika tidak aku akan susah menuliskan tentang dirinya. Masalahnya adalah itu, saat aku merasa tak mampu menampilkannya maka aku merasa bobrok, sangat uncapable dalam menjadikan sesuatu sebagai tulisan yang enak, dan rasanya tulisan ku sejauh ini adalah hasil dari sense yang dilebih-leibihkan terhadap tiap materi yang kuamati dan kujadikan bahan tulisan.&lt;br /&gt;Well, kembali ke wanita phuket (kelahiran Yogyakarta, dan mampu dengan fasih berbahasa Jawa) ini. Pernah tahu kisah si burung pipit kecil dari negeri cina? Wanita biasa yang kemudian dibawa ke istana oleh sang raja, dan di sana diangkat menjadi putri dengan gelar si burung pipit kecil. Wanita phuket ini bukan si burung pipit kecil, itu sudah jelas, tapi mereka banyak memiliki kesamaan.&lt;br /&gt;Burung pipit kecil adalah wanita penuh kecintaan akan hidup dan melihat hidup ini dengan apa adanya. Burung pipit kecil ini seperti magnet hidup, karena ia mampu menyedot perhatian dari sekitarnya. Burung pipit kecil adalah wanita yang mencintai bahaya, sejauh sepengetahuanku dia memang suka menantang bahaya, dari situ aku bisa melihat bahwa buatnya hidup ini semuanya adalah tentang kesempatan, ambil atau tinggalkan. Kalau ada kesempatan yang bisa membuatmu merasakan betapa bergairahnya hidup, ambil saja, daripada menyesal kemudian. Agak hedonis?&lt;br /&gt;Dia adalah burung pipit yang dengan sigap terbang dari dahan ke dahan, merasakan pijakan dari ranting satu ke ranting lainnya, dan menikmati tiap lompatan dengan penuh semangat. Tak betah berada di satu batang, dahan, atau ranting-selalu ingin melompat dan melihat dunia dari pijakan yang berbeda.&lt;br /&gt;Aku ingin seperti burung pipit kecil, bagaimana aku menggambarkan dia sekarang, tanpa rasa kekhawatiran aku bisa bebas leluasa melompat, tidak berpikir untuk jatuh, ragu, atau takut. Mungkin dengan begitu aku bisa melihat dan melewati hidup ini tanpa kekhawatiran. Saat harus memilih aku memang tahu resikonya, itulah menjadi ada-berada, mungkin saat itu aku bisa melewati semuanya tanpa kekhawatiran. Lompat-lompatlah, terbang-terbanglah, jatuh…jatuhlah&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7551881-108914113208713666?l=stanley-o.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://stanley-o.blogspot.com/feeds/108914113208713666/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7551881&amp;postID=108914113208713666' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7551881/posts/default/108914113208713666'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7551881/posts/default/108914113208713666'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://stanley-o.blogspot.com/2004/07/tentang-burung-pipit-kecil.html' title='tentang burung pipit kecil'/><author><name>stanley-O</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13041152574806417870</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7551881.post-108914101602904927</id><published>2004-07-06T12:09:00.000-07:00</published><updated>2004-07-06T12:10:16.030-07:00</updated><title type='text'>tentang mereka, perempuan-perempuan itu...</title><content type='html'>Aku kenal dengan empat orang perempuan. Bukan kenal, bukan kenal-kenal asu (proverb dari daerah Surabaya-ini juga aku dapat dari salah seorang dari empat perempuan itu), tepatnya bersahabat (atau berteman? Ada yang bilang bahwa hanya sedikit teman yang bisa jadi sahabat, itu artinya persahabatan ada satu level di atas pertemanan). Empat perempuan yang semuanya berdarah tanah jawa, semuanya cantik-cantik (aku selalu merasa tersanjung saat berjalan di antara mereka, setidaknya aku bisa mengerti perasaan dedengkot Playboy mansion yang selalu dikelilingi playmatesnya, tapi keempat perempuan ini jauh dari kesan playmatesnya Playboy), semuanya sudah tidak sendiri (satu-satunya hal yang membuatku risih berjalan bersama mereka), padahal salah satunya ingin kupacari (tapi akhirnya bahteraku berlayar ke samudera lain, dan kami berpisah), dan semuanya autentik (punya satu goresan yang membuat mereka diidentikan dengan karakteristik itu). Dulu aku tidak begitu kenal dengan mereka. Mereka itu Cuma sebagian kecil dari dua ratus orang angkatanku. Tak tahu aku rimbanya, hidupnya, kisahnya. Seiring dengan pertemananku yang mengalami pasang surut, akhirnya aku kenal dekat dengan mereka. Pasang surut di sini artinya memulai sebuah hubungan sampai begitu dekat, kemudian saat tahun berganti kau kenal dengan orang-orang baru, mulai mengenal mereka, semakin dekat, dan pertemanan yang lama menjadi sedikit renggang. Seperti kehilangan benda berharga, dan kemudian mendapat yang baru.&lt;br /&gt;Aku memang kenal dekat dengan banyak perempuan (herannya tidak begitu akrab dengan kaum sejenisku). Kata orang aku ini pecicilan, agak genit, jadi mudah mengambil perhatian, terserahlah. Bawaan orok barangkali. Yang namanya rumor sudah seperti di tabloid gossip. Kalau aku dekat dengan yang ini nanti dikira pacaran, dekat dengan yang itu juga bunyi rumornya sama. Serba salah. Aku dengan perempuan seperti larutan yang begitu cocok sehingga tercampur dengan mudah, berbuah reaksi kimia yang membuat aku memiliki chemistry khusus dengan mereka kaum hawa. Cukup menyenangkan.&lt;br /&gt;Kembali ke empat perempuan ini. Mereka tidak memintaku untuk menulis tentang mereka, aku saja yang ingin menulis tentang mereka. Segala macam prejudis, pikiran, dan imagiku tentang perempuan-perempuan ini menjadikan mereka cukup menarik. Seperti buah mangga yang berbuah pada musimnya, perempuan-perempuan ini memang sedang memasuki masa di mana mereka sedang masak dan sudah begitu ranum. Tapi mereka bukan buah. Tapi mereka siap dipetik, setidaknya itu yang selalu mereka bicarakan. Beberapa memang sudah sangat berhasrat untuk dipetik, sisanya masih memutuskan untuk berpikir bahwa saat ini adalah saat ini, kita tak tahu masa depan, jadi yang sekarang biarkan kita pikirkan, jangan pikirkan nanti.&lt;br /&gt;Mungkin tidak berlebihan kiranya jika kata masak dan ranum itu aku atributkan buat perempuan-perempuan ini, karena begitulah kiranya mereka. Gadis-gadis yang menginjak presisi usia dua puluhan, dengan segala macam antisipasi, harapan, kisah akan masa kini, masa depan, dan masa lalu. Gadis-gadis yang sudah diukir dengan indah oleh semesta, alam, dan sang pencipta yang meniupkan napas kehidupan akan raga mereka. Jika ini adalah kisah seribu satu malam, maka perempuan-perempuan ini hanya tinggal menunggu pangeran kaya dari negerti timur untuk menjemput mereka dan menjadikan mereka ratu di istananya. Mereka sudah begitu masak, dan siap dipetik.&lt;br /&gt;Bila kalian laki-laki menantikan pecinta, wanita yang akan melahirkan anak dari benih kalian, meneruskan nama kalian, maka mereka adalah surga yang kalian cari. Putri-putri dari raja yang bertahta akan negeri yang indah, jauh di seberang samudera, dengan alam yang penuh rahasia indahnya kisah kehidupan. Menikahlah dengan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7551881-108914101602904927?l=stanley-o.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://stanley-o.blogspot.com/feeds/108914101602904927/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7551881&amp;postID=108914101602904927' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7551881/posts/default/108914101602904927'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7551881/posts/default/108914101602904927'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://stanley-o.blogspot.com/2004/07/tentang-mereka-perempuan-perempuan-itu.html' title='tentang mereka, perempuan-perempuan itu...'/><author><name>stanley-O</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13041152574806417870</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7551881.post-108914092473551737</id><published>2004-07-06T12:08:00.000-07:00</published><updated>2004-07-06T12:08:44.736-07:00</updated><title type='text'>dia, aku</title><content type='html'>Tidakkah kau merasa sakit, dan agak tertusuk, saat gadis yang kau taksir dan dulu kau sempat puja-puja sampai kau berubah menjadi pujangga semalam, bercerita tentang pacar barunya. Pacar barunya yang ternyata sefisik denganmu, padahal kau dulu begitu tidak pernah berhayal akan ‘berjalan’ bersamanya dengan tinggi badan yang terbatas dan tidak menyimpan potensi untuk menggapai langit-langit itu, dan bahkan Ibu gadis itu memanggil dia ‘anak kecil’. Mana yang cukup menyakitkan.&lt;br /&gt;Mungkin kau kurang tampan. Jelas saja aku merasa kurang tampan. Jujur saja, aku ini pasti tidak masuk daftar tipe pria favorit gadis manapun di dunia ini. Mereka akan mencari pria di atas enam kaki, berperawakan tampan, bersih terawat, dan harus berduit banyak. Setidaknya itulah modal hidup masa depan. Salah satu teman wanita ku yang berpacar bule mengatakan ‘menjadi matre itu perlu’ dan temanku yang lain mengatakan ‘carilah pria yang baik, sayang kepadamu, dan berduit.’ Aku sendiri berpikir bahwa matre itu perlu.&lt;br /&gt;Jadi harus bagaimana pria-pria yang tidak memiliki itu semua, menjadi pria lajang seumur hidup dan berpikir bahwa hidup ini menghukum mereka?&lt;br /&gt;Secara psikologi seharusnya aku sudah menjadi agak gila dengan kemampuan ku untuk menerima cerita itu. Luar biasa.&lt;br /&gt;Aku, pria lajang dua puluh dua tahun, hampir separuh hidupku menghabiskan malam minggu dengan pelarian akan pikiran untuk berduaan, dan sebenar-benarnya ikut campur dalam hubungan beberapa orang, sampai aku dengan tidak tahu malunya menyaksikan mereka berciuman di depanku. Aku tahu mereka berciuman, dan aku sedang melihat televisi. Tapi telingaku terus mendengarkan. Ciuman itu. Taruhan, bila aku tidak di situ ciuman itu akan berlanjut ke sesuatu yang menjadi titik berat sensor semua film dewasa. Tapi aku merasa agak sedikit menjadi pahlawan; aku berhasil menghentikan kelanjutan dari ciuman itu, sebab kalau tidak libido akan menjadi raja sesudahnya, dan sperma tak akan tertahankan untuk membuahi sel telur. Tinggal lompat. Baguslah ada kondom. Setidaknya aku setuju dengan seks yang sehat. Jika perkawinan dianggap Nitsczhe sebagai pelegalan prostitusi maka pra marital seks buatku adalah cara menghargai kelaminmu. Sekali lagi, itu pilihan. Ada kondom, dari yang tidak berasa dengan formulasi pembunuh kuman sampai yang beraroma strobery supaya saat gadis mengulum penis kekasihnya ia serasa menikmati strobery batangan. Itu namanya oral seks. Tapi hati-hati dengan raja singa, dan semua penyakit kelamin yang sialnya kebanyakan datang dari penis. Hati-hatilah kau perempuan.hati-hatilah kau laki-laki.&lt;br /&gt;Kembali ke aku, pria dua puluh dua tahun yang lajang.&lt;br /&gt;Ada adik kelasku mencurigai aku gay. Terserahlah. Aku belum menyerah dengan wanita. Dan aku tidak bisa membayangkan aku berbagi perasaan bernama cinta dengan seseorang berjakun, bersuara berat, dan berpenis pula. Dan kemudian harus melakukan seks lewat dubur. Ingat iklan minuman ringan berasa jeruk dengan slogan ‘kok jeruk minum jeruk?’ dunia semakin mengakomodir segala hal. Aku rasa, kaum jeruk yang meminum jeruk itu sudah menyerah untuk mencari wanita yang bisa mencintai dan mengerti perasaannya sebagai pria, dan ternyata ada yang kemudian mengerti si pria, yakni pria lain yang lebih menginginkannya, dan tidak melihatnya sebagai ‘sesama jenis’ tapi sebagai seseorang yang layak dan ingin dia cintai. Bagaimana?&lt;br /&gt;Aku heteroseksual, sekarang-tidak tahu nanti. Pria straight dengan kecenderungan menyukai wanita berambut panjang dan feminine.ada beberapa yang pernah menyangkut di pikiranku. Tapi aku bergerak terlalu lambat, dan sekali lagi, aku tidak pernah masuk kategori manapun dari kaum perempuan tentang pria favorit. Aku hanya bisa menulis. Setidaknya itu aku punya, otak. Yang kemudian berpikiran sensitive kepada hal-hal yang berhubungan dengan komitmen dan memiliki kekasih. Aku sangat menghindarinya. Takut kepercayaan diriku hilang sesaat, dan kemudian bingung untuk menaruh image pria lajang ini di mana.&lt;br /&gt;Secara demografis, dunia ini tersusun atas delapan wanita dan satu pria, kurang lebih berarti ada delapan wanita untuk tiap satu pria di dunia ini. Jika wanita memang begitu banyak, kemana aku harus menemukan yang benar-benar milikku? Diliaht dari catatan social itu wanita menghadapi kenyataan bahwa mereka harus bersaing dengan tujuh wanita lainnya untuk mendapatkan seorang pria, agar jangan sampai nanti disebut perawan tua-lah, tak laku-lah, dan ketakutan psikologis akan kesendirian di hari tua.&lt;br /&gt;Itu akan menjadi aneh saat kita lihat kecenderungan bahwa wanita lebih bersifat menunggu dalam percintaan, mereka menunggu pernyataan cinta yang menggetarkan malam itu. Seharusnya mereka bertarung satu sama lain, bahkan untuk memperebutkan pria-pria yang berada di luar golongan yang ‘enak dilihat, enak dipegang.’&lt;br /&gt;Dunia ini sudah terlalu modern. Wanita-wanita bertangan dingin tidak terlalu memikirkan untuk hidup bersama laki-laki, kita. Hidup sendiri dan menjadi wanita mandiri itu sudah seperti bernapas, tidak ada yang bisa kau lakukan untuk mencegahnya. Jujur saja, mendekati wanita-wanita yang lahir dari dinding-dinding kota itu susah, karena pikirannya maju dan tak tertebak, bahkan kebanyakan dari mereka hidup lebih matang dan berkecukupan dari kebanyakan pria. Bahkan, jika mereka ingin anak mereka tidak perlu mencari laki-laki. Di luar sana sudah ada bank sperma. Ketakutan akan kekerasan dalam keluarga, pria tidak bertanggungjawab dan takut komitmen menjadi sebagian alas an kenapa dinding-dinding kota menjadikan sebagian dari perempuan menjadi dingin.&lt;br /&gt;Ada memang perempuan kota yang hidupnya sudah sangat urban, dan uang sudah menjadi seperti air yang diminum tiap hari. Sekali duduk bisa habis ratusan ribu, hanya untuk nongkrong beberapa jam dengan beberapa kerabat atau teman dekat di sebuah kafe berinterior mewah dengan minuman yang harga perbotolnya sudah menjadi jatah mahasiswa untuk sebulan. Perempuan kota yang tak tersentuh, bergaul dengan mereka yang berganti mobil seperti berganti baju, pulang dinihari, dalam pelukan teman karena tak sadarkan diri, atau berakhir di single bed sebuah hotel bersama pria yang diliriknya sejak ada di tengah pesta. Perempuan kota yang bermain dengan waktu, dan dengan kerlingan mata membuat pria jatuh di kakinya.&lt;br /&gt;Kira-kira seperti sex in the city, merekalah yang saya maksudkan dengan wanita yang sangat urban, dari ujung rambut sampai ujung kaki semuanya berlabel mahal dan tidak lagi menyebut alas kakinya dengan sebuah kata benda, tapi dengan ‘manolo blahnik’. Prestise dan prestasi. Karir mulus, uang melimpah.  Wanita-wanita yang bekerja di galeri-galeri seni, penulis kolom berita di harian terkenal, konsultan, di balai lelang Christie. Menjual jutaan dolar sehari, kontrak jutaan dolar sehari, dan menegak bloody mary saat di asia sebagian besar orang lebih memilih untuk tidur.&lt;br /&gt;Kenapa membahas wanita, dan catatan social mereka yang sudah begitu urban? Topiknya sebenarnya adalah respons saya akan kesendirian, orientasi seksual, hidup menjadi pria lajang (berumur dua puluh dua tahun).&lt;br /&gt;Ya, saya takut sendirian. Takut saat harus berakhir dengan memandang langit-langit kamar saya, tanpa ada cerita. Tak ingin seperti Hemingway yang menurut saya terjebak dalam eksistensi absurd antara pribadi dan tulisannya, dan kemudian terpaksa melobangi daerah mulut ke arah tenggorokan, ke tulang punggung belakang dengan sebuah shot gun. Akhir yang mengejutkan dari sebuah permata yang terkenal. Hanya untuk menegaskan sebuah eksistensi, keberadaan, kebutuhan Hemingway untuk mempunyai eksistensi. Bisa saja itu masalah lain, yang bahkan sampai sekarang tidak mampu diungkap The New York Times.&lt;br /&gt;Sama seperti Hemingway, saya mempunyai kecenderungan depresi. Itu yang saya juga sangat takutkan. Kamar-kamar dingin dengan dinding-dinding putih bisu, seperti kamar saya ini pasti sudah tau segila apa tuannya, tapi tidak orang di luar sana. Saya tidak ingin berakhir dengan lubang selebar satu setengah inci di punggung saya. Dan dinding kamar saya tidak lagi putih, tapi berhiaskan semburan sumsum segar tulang belakang.&lt;br /&gt;Kecanggihan teknologi saja tidak mampu memperkecil masalah ini, itulah kelemahan teknologi, ia tidak mampu menyentuh hal yang sangat hakiki. Sekarang banyak orang mengusir sepi dengan terjebak di jaringan MIRC, ataupun messenger provider di internet hanya supaya bisa mempunyai kenalan, atau hanya sekedar bicara sambil lalu. Lain ceritanya kalau kemudian mencari jodoh lewat jaringan itu.&lt;br /&gt;Saya butuh sesuatu yang lebih hakiki untuk masalah saya. Saya akan merasa lebih manusiawi, itu lebih menyenangkan. Sesuatu yang lebih manusiawi, yang sama tersusun dari darah dan daging.&lt;br /&gt;Wanita adalah yang paling hakiki. Saya bukan orang yang religius, beribadah hanya pada hari wajibnya saja, walaupun saya selalu ingat untuk berdoa; tapi saya percaya kalau dari tulang rusuk saya ini sudah ada seorang wanita yang diciptakan. Lucu juga. Pria yang sangat mengagungkan teknologi seperti saya masih percaya dengan konsep yang konvensional seperti itu. Setidaknya saya bisa lepas dari rasa takut akan sendiri itu, tidak memiliki belahan jiwa. Ya itu juga, belahan jiwa, parallel dengan wanita yang diciptakan dari tulang rusuk pria. Secara analogis, kami pria seharusnya tidak bisa mengakomodir atau memaklumi keberadaan wanita, ingat kejatuhan manusia akibat hawa memaksa (tepatnya meryau, pastilah) agar Adam memasuki Taman Eden dan memetik buah terlarang? Akibat itu, selamanya manusia terusir dari Eden dan kemudian tiap dari kita yang lahir memikul dosa asal itu. Kejatuhan manusia.&lt;br /&gt;Tapi dunia makin modern, wanita-wanita urban mulai menunjukan identitas dan eksistensinya, sebagai pria lajang saya tidak sedikitpun merasa terancam, saya menyukai siluet wanita bekerja. Dengan blus dan blazer yang menunjukan kemandirian mereka. Saya tidak merasa terancam. Jack Nicholson mengatakan kepada Diane Keaton di “Something’s Gotta give’ bahwa karakter Diane di film itu adalah ‘a woman…to love’ yang berarti wanita untuk dicintai. Dan semua wanita memang lahir untuk dicintai (agak naïf…aduh). Buat saya, mencintai wanita dengan siluet dan performa seperti itu pasti membawa fantasi baru. Sebab kebanyakan gambaran wanita dulu adalah yang begitui lembutnya sampai kata-katanya tidak sampai ke telinga, karena dia harus berbicara langsung ke telinga saya. Sekarang wanita-wanita itu sebagian sudah melepaskan kembannya dan memakai kamisol, tank top, dan blazer kantoran dan berbicara dengan lantang dan jelas dari ujung meja membawa materi presentasi yang membuat ia kemudian mengalami kenaikan jabatan. Meninggalkan kolega kerjanya yang sebagian besar kaum pria. Nah, kecemburuan mungkin akan muncul dari sini.&lt;br /&gt;Yang jelas, saya tidak mau menjadi Hemingway berikutnya. Kebanyakan dari orang-orang seperti kami memang mengalami tekanan yang begitu tidak kelihatan, dan mengejutkan semua orang saat tekanan itu berkuasa atas diri kami (saya punya hubungan apa dengan Hemingway?). Saya tidak mau sumsum tulang belakang saya menghiasi dinding kamar saya yang putih bersih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7551881-108914092473551737?l=stanley-o.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://stanley-o.blogspot.com/feeds/108914092473551737/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7551881&amp;postID=108914092473551737' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7551881/posts/default/108914092473551737'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7551881/posts/default/108914092473551737'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://stanley-o.blogspot.com/2004/07/dia-aku.html' title='dia, aku'/><author><name>stanley-O</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13041152574806417870</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7551881.post-108914081787047940</id><published>2004-07-06T12:06:00.000-07:00</published><updated>2004-07-06T12:06:57.870-07:00</updated><title type='text'>(tentang) aku, signifikasi, eksistensi</title><content type='html'>Hari ini, beberapa jam yang lalu tepatnya, jiwa ini-aku, bertambah tua. Tambah dewasa lagi setahun, artinya aku sudah bernapas, bergerak, berdosa selama dua puluh dua tahun.&lt;br /&gt;Bukan waktu yang pendek, huh? Itu berarti ada tiga ratus enam puluh lima hari dikali dua puluh empat jam dikali lagi dengan dua puluh dua. Sebanyak itulah yang sudah menumbuhkan jiwa ini, dari orok berpenis kecil tak mampu melihat dengan jelas dan kulit ari yang masih basah (termasuk darah dari kandungan saat jiwa ini dibawa lahir ke dalam cahaya, kata orang Italia). Hingga saat ini, existensi pria tanggung tak jelas dewasa atau bukan, dengan kecenderungan tak puas akan kondisi kulit berjerawat, berminyak, kulit hangus, fisik kecil, dan semua ketakutan akan hidup lainnya. Begitu banyak yang sebenarnya sebuah jiwa harus khawatirkan jika ia sudah ada dan bertahan selama dua puluh dua tahun, seperti aku.&lt;br /&gt;Kata orang, signifikansi dan bobot hidup itu (harusnya) mulai kelihatan saat tahun lalu, saat kau masih berumur dua puluh satu tahun. Signifikansi hidup yang bagaimana? Semua itu relatif ya kan? Kau mau signifikansi yang bagaimana? Kau bahkan belum memulai apa-apa, masih menjadi parasit pada orang tua, ditambah semua kebohongan, muka dua, ketidakpuasan, satu paket lengkap dengan kertas pembungkus warna abu-abu dan stempel: anak durhaka. Radikal.&lt;br /&gt;Saat kau sudah berumur dua puluh satu tahun, di sini, kau sudah bisa menyuarakan pendapatmu, setidaknya kau sudah bisa (boleh) menegak minuman keras, merokok cerutu Havana (kokain, marijuana, dan semua jenis yang membawa bahagia itu), menonton BF dari yang semi, sampai yang X nya ada tiga dengan kecenderungan seks yang menantang bahaya dan menjijikan. Dan tentu saja, umur segitu kau tentunya pernah memanfaatkan kelaminmu untuk sebuah kenikmatan, bukan masturbasi, tapi sebuah kolaborasi fisik hasil menonton BF yang memacu libidinasi otak. Terserah, mengikuti arus umum heteroseksual atau yang menikmati jenis sendiri. Itu Cuma pilihan. Semuanya memang hanya tentang pilihan.&lt;br /&gt;Dan setahun kemudian, yaitu saat catatan akte kelahiran menegaskan bahwa kau sudah di tahap signifikansi hidup orang-orang berumur dua puluh dua tahun, maka beban yang harus kau bawa melalui jalurmu (aku percaya hal yang agak nyeleneh, bahwa tiap orang itu seperti pelari dengan beban di punggungnya, mereka punya jalur sendiri-sendiri: itulah caraku memanggil hidup) bertambah berat. Sebut saja, lulus cepat dari kuliahmu yang membosankan dan tidak jelas arahnya kemana itu, tuntutan untuk mencari pekerjaan agar nanti kau bisa menyenangkan orang tuamu dan tidak memberatkan mereka lagi. pekerjaan yang membawamu pada rumah pertamamu, mobil pertamamu, dan semua tagihan, kredit, utang, hal-hal yang memang menjadi urusan orang dewasa sepertimu.&lt;br /&gt;Cukup kuatkah kau saat berumur dua puluh dua tahun. Sepertinya berat? Apalagi dengan tidak adanya kontrol dan kendali di pikiranmu, jalannya akan bertambah sukar kawan, karena aku sadar aku tidak punya kontrol. Bila nanti jalurku akan kutabrak dan aku terlepas kemana, maka kurasa itu normal.&lt;br /&gt;Dewasa itu kata yang berat, seberat mengucapkan kata lamaran untuk gadis yang kau cintai. Ada yang mengatakan kalau menjadi dewasa itu pilihan. Ada juga yang mengatakan jangan kehilangan sisi kanak-kanakmu, karena sesungguhnya itulah yang membuat hidup lebih warna. Lalu berarti kita menjadi orang dewasa dengan pikiran labil, di mana kadang-kadang kita menjadi anak kecil.&lt;br /&gt;Dewasa itu kata yang berat. Tantangan libido semakin besar, saat kau semakin tua maka napsu pun bertambah tua. Teori evolusi? Bukan. Aku tidak mengerti teori-teori, aku hanya menjelaskan dengan analogi seorang yang bercerita. Manusia itu mahluk prehistoric yang kehilangan mata rantai yang membedakan mereka dengan monyet. Darwinism mengatakan bahwa aku, kau, kamu, mereka, kita adalah saudara dan hasil perubahan primata yang bernama kera. Menakutkan, membayangkan kalau membayangkan tidak ada perubahan yang dialami kera selama jutaan tahun di bumi yang sangat tua ini. Maka ketakutan Charlton Heston pun terkesan lebih real, dunia penuh monyet yang berpakaian, tak ada yang lebih menakutkan dari itu. Membayangkan kita melakukan reproduksi dengan cara kera? Punya cukup jiwa kebinatangan?&lt;br /&gt;Aku cukup suka Kamasutra dan posisi-posisinya yang indah serta intelek itu. Aku cukup senang dan bergairah saat melihat BF, jadi kurasa begitulah aku akan melanjutkan nama ini, keturunanku, darah ayahku.&lt;br /&gt;Menjadi dewasa itu seperti melakukan kerja paksa. Karena saat kau tidurpun kau terus memikirkan pekerjaanmu yang tidak memuaskan, orang tua yang terus menuntutmu dengan ketidakpuasan mereka, disfungsi ereksimu, pacarmu yang menuntutmu menikahinya karena dia sudah mengandung benihmu yang kautanam dengan napsu yang menggebu-gebu itu sejak tiga bulan lalu, tagihan-tagihan yang menambah terus daftar hutangmu. Hutang setara dengan mimpi buruk. Negeri ini adalah penghutang yang hebat, kau tidak akan mau tau jumlah hutang negara kesatuan ini di luar negeri sana. Kau tidak mau, tidak mampu menghitung jumlahnya. Cukup untuk melakukan wisata luar angkasa beberapa kali.&lt;br /&gt;Ditambah lagi jumlah malam yang kau habiskan untuk merenung dan tidak tidur, hingga akhirnya garis usia mengukir di kulitmu dan tidur di bawah matamu. Dan bila kau wanita, kau akan melakukan segala cara supaya hal itu tidak terjadi dengan cepat padamu. Cukup menghilangkan pasaran. Begitu banyak kosmetik yang harus kau lihat dan gunakan, supaya usia itu tidak menyukai kulitmu begitu awal. Kosmetik-kosmetik berbahaya. Buat kaum perempuan, tidakkah kalian merasa bodoh dengan tiap hari memukulkan kepala kalian dengan alas bedak supaya terlihat rata? Pasti ada kerusakan otak yang cukup beresiko terjadi di sana. Kerusakan otak yang mengurangi kualitasmu sebagai manusia, yang menuntutmu untuk terus berpikir, berpikir, dan berpikir.&lt;br /&gt;Menyebutkan kata berpikir setara dengan kata lelah. Tiap kali aku berpikir, rasanya aku telah menguapkan beberapa ratus kalori dari tubuhku. Keringat yang terus mengucur. Mata yang berkurang daya akomodasinya. Mungkin itu kenapa orang yang banyak berpikir cenderung menjadi kurus, Karena mereka terus kehilangan-menguapkan kalori dari tubuh mereka melalui pikiran-pikiran itu. Cukup masuk akal? Terserahlah.&lt;br /&gt;Manusia dewasa adalah hasil evolusi primata yang kehilangan mata rantai, dengan libido tinggi, dan kecenderungan berpikir yang tinggi.&lt;br /&gt;Mencoba menuliskan sesuatu tentang kedewasaan itu sendiri saja seperti menunggu bom waktu yang akan meledak, dengan bunyi timer yang menunggu kata apa yang akan kau gunakan untuk mendefinisikan dan mengasosiasikan kata itu, dewasa. Saat malam yang panjang, dingin, dan gelap kau hanya mendengar jam itu berdetak. Mengerikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7551881-108914081787047940?l=stanley-o.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://stanley-o.blogspot.com/feeds/108914081787047940/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7551881&amp;postID=108914081787047940' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7551881/posts/default/108914081787047940'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7551881/posts/default/108914081787047940'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://stanley-o.blogspot.com/2004/07/tentang-aku-signifikasi-eksistensi.html' title='(tentang) aku, signifikasi, eksistensi'/><author><name>stanley-O</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13041152574806417870</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7551881.post-108914072630521022</id><published>2004-07-06T12:05:00.000-07:00</published><updated>2004-07-06T12:05:26.306-07:00</updated><title type='text'>tentang kelahiran II</title><content type='html'>Dan aku belum juga membuka hadiahku. Rasa ingin tahu itu sudah begitu menusuk, dan aku ingin tertawa dengan lebar karena rasa ingin tahu itu membuatku begitu ingin menyentuh dan membuka bungkusannya, dan sambil membuka bungkusannya aku meliaht ke sudut-sudut kamar ini, ke arah keajaiban-keajaiban yang memenuhi kamarku sambil berkata “kira-kira isinya apa?”&lt;br /&gt;Rasa ingin tahu itu begitu menggelitik, itu sebabnya aku ingin tertawa. Memang sudah saatnya aku untuk membuka hadiah itu, dan aku begitu ingin membukanya sejak tadi. Dan aku masih saja merasa seperti ini. Enggan untuk membukanya.bagaimana kalau isinya ternyata menakutkan, pikirku. Anehnya, aku tetap saja tersenyum. Aku belum pernah rasanya merasa begitu senang dan ingin tahu seperti ini. Kau pernah merasakannya? Rasa ingin tahu yang berubah jadi perasaan senang? Kira-kira seperti saat kau berhadapan dengan hadiah-hadiah Natal, atau ulang tahunmu, ya, seperti itu rasanya. Begitu menyenangkan, sampai rasanya darahku berubah warna dari merah menjadi ungu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hahahahahahahahaha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tertawa. Akhirnya. Hahahaha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat. Kita harus bersulang. Hahaha. Aku tak punya anggur, kawan. Kamarku berantakan. Kita tak bisa merayakan tawaku di sini. Harus spesial, agar semuanya menjadi sempurna, dan tawaku semakin lebar. Hahahaha. Kau tahu rasanya? Hahahaha.&lt;br /&gt;Aku tak bisa berhenti tertawa.&lt;br /&gt;Rasanya ingin menari-nari, memegang tangan seorang gadis dan mengajaknya menari-nari, ya menari. Dan mengajaknya bercinta, bila ia mau. Itu juga menari, menari di atas tempat tidurku. Dengan tambah ciuman, pelukan, desahan, dan keringat. Hahahaha.&lt;br /&gt;Rasanya ingin memasak sesuatu yang bisa membuat bahagia ini jangan hilang. Tetap di sini, di kamar ini, dengan keajaiban-keajaiban yang masih menari-nari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadiah ku ini memang istimewa. Aku belum membukanya dan hatiku sudah begitu senang. Aku semakin ingin tahu apa isinya, karena bila belum membukanya saja aku sudah begitu senang pasti isinya, yang ada di dalamnya sangat istimewa. Dan aku akan sangat berterima kasih kepada Sang hidup, karena hadiah yang begitu indah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7551881-108914072630521022?l=stanley-o.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://stanley-o.blogspot.com/feeds/108914072630521022/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7551881&amp;postID=108914072630521022' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7551881/posts/default/108914072630521022'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7551881/posts/default/108914072630521022'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://stanley-o.blogspot.com/2004/07/tentang-kelahiran-ii.html' title='tentang kelahiran II'/><author><name>stanley-O</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13041152574806417870</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7551881.post-108914053744246718</id><published>2004-07-06T12:01:00.000-07:00</published><updated>2004-07-06T12:02:17.443-07:00</updated><title type='text'>tentang kelahiran</title><content type='html'>Selamat malam waktu, hampir pagi sebenarnya…beberapa menit lagi hari baru akan menjelang. Cahaya akan datang, dare alla luce…hari baru yang diserahkan ke dalam cahaya. Betapa Indahnya. Cahaya, kata yang indah.&lt;br /&gt;Hari baru yang merangkak dengan pasti melaluimu, waktu, di dalam gelapnya malam, merangkak lebih dalam ke arah pagi. Pagi yang menurut banyak orang menyimpan berjuta harapan akan hidup yang lebih baik, matahari baru yang akan bersinar menggantikan awan kelam yang sempat bernanung di semesta ini beberapa jam yang lalu dan membunuh semua harap dan tawa yang hendak lahir dalam cahaya.&lt;br /&gt;Pagi yang membuka pintu ke hari baru, semua yang tak terduga, karena semuanya baru akan terjadi besok. Kebahagiaan. Kehilangan. Kepergian. Semua yang akan pergi, yang datang, yang tinggal.&lt;br /&gt;Pintu yang berwarna biru cerah, dan daun pintunya bergagang emas, bersinar redup dan terang menyilaukan mata saat matahari menciumnya lewat sinarnya. Dari pintu itu ada jalan terbentang ke arah padang luas yang ditumbuhi bunga matahari di bawah langit yang hijau, merah jambu, ungu. Dan buah anggur manis yang bersinar ungu di bawah raja siang, kau matahari.&lt;br /&gt;Saat hari baru itu merangkak dan mengetok pintu maka akan ada yang membukanya. Melihat seperti apa besok yang menjelang. Mencari perbedaan antara hari, waktu, hidup yang terus menari-nari di permadani hidup ini. Padang hijau luas dengan bunga matahari dan kebun anggur. Itukah hidup.&lt;br /&gt;Saat tengah malam, dan kau menantikan hari baru dalam resah karena kau tidak bisa menutup mata, banyak rahasia yang tersimpan untuk besok. Hanya untuk besok. Dan semuanya seperti hadiah dari semesta, hadiah yang berlimoah jumlahnya, seperti cinta Ibu yang tak ada habisnya. Biarlah hadiah itu untuk besok. Karena besok tidak lama lagi. Karena pagi terus merangkak, menyapa fajar yang masih enggan terbangun di balik bukit.&lt;br /&gt;Besok tidak lama lagi. Lilin-lilin akan kumatikan, bila saatnya tiba dan matahari akan bertandang masuk melalui pintu berwarna biru dan bergagang emas itu. Dia akan bersinar dengan terang dan sinarnya merayap ke seluruh sudut-sudut ini, seperti laba-laba yang merajut hidupnya dalam jarring-jaringnya.&lt;br /&gt;Besok pagi kamar ini akan terang, dan sesuatu akan dibawa oleh cahaya ke dalamnya. Aku tak tahu apa itu. Biar saja. Karena besok tidak lama lagi. aku rasa aku masih bisa berusaha untuk menutup mata ini, aku cukup lelah, tapi hatiku tak sabar menanti esok.&lt;br /&gt;Esok ada hadiah yang harus kubuka. Hadiah dari Sang hidup, berbungkuskan permen manis berwarna biru, warna kesukaanku, dengan gambar daun-daun hijau di sana-sini, dan kilau terang pita pembungkusnya. Hadiah dari Sang hidup. Aku tak tahu apa isinya.&lt;br /&gt;Mungkin saja kumbang-kumbang yang bermain di saat malam bersua, ikan-ikan kecil untuk airku yang menantikan penghuni, permen manis dari madu hutan rahasia, kue jahe yang hangat dan segelas susu dari dinginnya kaki bukit. Siapa yang tahu.&lt;br /&gt;Besok tak lama lagi. kurasa aku masih bisa bersabar untuk menebak apa yang akan kuraih besok. Tapi aku rasa esok hari akan berwarna ungu, langit dan awan akan menjadi kuning dan putih bersih, bumi akan menjadi hijau terang, laut menjadi merah muda, bukit akan menjadi coklat, dan waktu akan bermain-main dengan hidup seperti air yang menghidupi ikan-ikan di wadah kayu tua yang kubangun untuk mereka.&lt;br /&gt;Aku tak tahu apa isi hadiahku dari Sang hidup. Tapi aku tahu hadiahnya sangat indah, karena hatiku merasakannya, jiwaku menapaskannya. Besok tidak akan lama, dan akan tiba saatnya hadiah itu kubuka. Tak lama lagi. aku harus menunggu. Hanya itu.&lt;br /&gt;Luar biasa. Hari ini aku bangun dengan begitu segarnya. Bangun dengan siraman air kesadaran berember-ember sampai-sampai aku tak mengerti kenapa hari ini aku bisa bangun dengan tubuh yang seperti terlukis di atas kanvas. Ingin menari-nari, meloncat-loncat, tidak ada yang akan melarang. Melakukan semua hal yang ingin kulakukan dengan tubuh ini, jiwa ini, raga ini, napas ini.&lt;br /&gt;Padahal kemarin, saat aku bangun, urat-uratku seperti dibekukan oleh mantra-mantra hitam kebencian orang-orang padaku yang tak tampak. Sepertinya aku melihat tubuhku berubah menjadi ungu dan agak hitam karena teracuni, pikiranku tak segar dan mengambang seperti perahu tak berawak dan perahu itu akan  hancur dihantam ombak tak lama lagi. Tanganku rasanya tertanam di dalam tempat tidurku, dan urat-urat darahkukeluar dari tubuhku dan mengikatku di tempat tidur itu-tak mau bangun, tidak boleh beranjak pergi. Sepertinya, tiap inci tubuh ini diikatkan dengan batu-batu entah dari mana yang  begitu menyesakkan.&lt;br /&gt;Hari ini adalah hari ini. Mungkin ini hadiah yang harus kuterima itu. Hadiah yang sudah kubayangkan sejak tadi malam. Hadiah dengan pembungkus berwarna-warni; biru, merah, jingga, ungu dengan pita pengikat yang berkilauan-sangat indah, membuatku ingin tahu apa yang ada di dalamnya. Hadiah yang dibawa oleh Sang hidup, disimpan di salah satu sudut kamarku, dan hanya boleh dibuka hari ini. Dia bilang jika kau tergesa-gesa membukanya kegembiraan yang kau harapkan saat membukanya akan menguap, seperti air di padang pasir, tak bertahan. Biarlah ia bertahan sampai hari ini, toh kau akan membukanya juga.&lt;br /&gt;Hadiahku wanginya seperti air, dan dari hadiah itu keluar asap biru yang lembut dan begitu halus, menari-nari bersama udara, aku rasa mereka saling menyukai satu sama lain. Aku hampir membukanya, saat kudengar lonceng-lonceng kecil dari dalam bungkusan itu…cring-cring-cring. Seperti lonceng gereja saat malam Natal, begitu damai, dengan orang-orang yang berlarian ke rumah sebelum Natal menjelang dan lewat saat tengah malam. Wangi salju bermain bersama udara, dan kristal-kristal nya bercahaya seperti bintang timur di bawah langit malam.&lt;br /&gt;Aku hampir membukanya, saat wangi kue jahe yang dibakar dengan sangat lembut merebak dari dalam hadiahku. Aku tak sabar ingin membukanya. Ada apa di dalam hadiahku? Ada lonceng-lonceng, ada air yang beraroma dan berwarna biru, ada kue jahe kesenanganku yang sudah lama tak ku makan dengan laparnya.&lt;br /&gt;Saat aku hampir membukanya, aku malah tertegun. Tidak tahu harus berbuat apa-apa, yang jelas keinginan itu sudah sangat besar. Keinginan untuk membuka hadiahku, dan meliaht ada apa di dalam. Apa yang dihadiahkan Sang hidup untukku hari ini. Dan suara lonceng-lonceng itu masih bisa kudengar, sangat halus dan indah, seperti datang dari kejauhan. Aku tak tahu apakah aku berhayal atau aku belum sepenuhnya bangun, sepertinya kamarku terang sekali hari ini; ada asap biru halus yang berputar-putar, dan bayang-bayang kue jahe meloncat-loncat dari bungkusan itu, berwarna coklat-ciri hasil panggangan yang pas, tidak terlalu hangus. Dan dariku sendiri ada bintang-bintang kehijauan yang keluar dan sepertinya mereka sedang tertawa, bergegas ingin keluar dan bertemu dengan keajaiban lain yang memenuhi kamarku hari ini. Kalau kau pernah pergi ke karnaval atau pasar malam di dekat rumahmu, kau pasti mengerti perasaanku saat ini. Di bawah langit malam yang luas, ada satu cahaya begitu besar yang dibuat oleh sebuah kerumunan orang. Cahaya besar dengan roda yang besar pula; berputar-putar naik turun dan kau bisa mendengar teriakan-teriakan menyenangkan dari anak-anak, orang tua yang menikmati putaran roda itu. Di bawah cahaya itu pulalah, semua permainan dari negeri jauh dibawa ke hadapan matamu, mainan-mainan yang menantimu menyentuhnya, memainkannya. Mainan-mainan yang bisa kau naiki, kau duduki, kau mainkan; indah, berwarna-warni, penuh dengan kerinduan masa kecil, kebahagiaan masa lalu yang ingin kau sentuh. Tak lupa juga penghuni pasar malam yang beraneka ragam, yang membuatmu ingin tahu dari mana saja mereka berasal, kenapa mereka begitu indah, dengan bentuk tubuh yang sedkit berbeda denganmu. Kau pikir mereka pasti punya keistimewaan tersendiri dengan tubuh seperti itu, dan mereka pasti telah punya rencana sendiri oleh Sang Hidup sehingga mereka lahir dengan begitu indah seperti itu. Kata Ibu, semua jiwa yang hidup di jagad ini adalah pejuang, mereka harus berjuang dengan apa yang mereka punya, maka kupikir pasti mereka akan berperang dengan seperti itu. Keindahan yang mereka miliki.&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7551881-108914053744246718?l=stanley-o.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://stanley-o.blogspot.com/feeds/108914053744246718/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7551881&amp;postID=108914053744246718' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7551881/posts/default/108914053744246718'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7551881/posts/default/108914053744246718'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://stanley-o.blogspot.com/2004/07/tentang-kelahiran.html' title='tentang kelahiran'/><author><name>stanley-O</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13041152574806417870</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7551881.post-108914038485733040</id><published>2004-07-06T11:59:00.000-07:00</published><updated>2004-07-06T11:59:44.856-07:00</updated><title type='text'>tentang Bapaku</title><content type='html'>Kemarin aku bertemu Bapaku, setelah sekian lama aku tak bercerita kepadaNya. Kerinduanku begitu besar supaya ia mau berkata-kata sesuatu, memberiku nasihat-petuah yang kubutuhkan agar kesalahan-kesalahan ku ini berkurang, dan sedikit demi sedikit lepas dari jiwaku yang sakit, tidak mengakar dan mengurung sadarku seperti burung dalam sangkar. Kumau Ia berkata-kata sesuatu agar ceritaku tidak hanya hilang ditelan malam, berakhir di dinding-dinding mati kamarku, atau bermain-main di halaman-halaman yang kutulis selama ratusan malam. Setidaknya agar aku dapat berbuat sesuatu, membawa jiwa ini, kau, kembali dalam sadarku, bahagiaku, perjuanganku lepas dari sakit menahun yang membunuh kau, sadarku-bahagiaku-perjuanganku.&lt;br /&gt;Agar aku dapat kembali pada bahagiaku, ya bahagiaku-selama ini dibawa pergi ketidaksadaran, dan laraku, hingga aku hanya mampu bertahan dalam napas dan raga ini dengan benci yang membakar sadar, sedikit demi sedikit menimbulkan sakit tak tertahankan.&lt;br /&gt;Aku sadar, aku sudah tak mampu lagi berteman dengan benciku, sakitku, mereka selalu menggerogoti sadarku dan tanpa kutahu bahagiaku mereka jadikan sumber kehidupan untuk benci dan sakit yang mereka nyalakan dengan tiap tarikan napas ini. Rasanya sesak, karena kau hanya berpikir tentang benci, benci, dan benci. Akhirnya benci ini menari-nari dengan gembira, berteriak-berteriak seperti kerasukan roh-roh aneh dari samudera hitam, lalu melemparkan tombak ke arah jantung ini. Membuatnya sakit tiap kali ia berdetak untuk menyokong kehidupanku. Dan benci, benci, benci itu berubah menjadi sakit, sakit-sakit-sakit.&lt;br /&gt;Sakitku menari-nari dalam ruangan hitam, itu hatiku, darahku, napasku, tubuhku yang sudah mereka racuni dengan entah apa namanya, yang jelas itu menyakitkan. Aku masih ingat sakitnya. Sakitku menari-nari dengan api-api di atas jemarinya, menyanyikan lirik-lirik aneh yang menyiksa sadarku tiap kali lirik itu keluar dengan semangatnya , dan api-api di jemari mereka semakin bernyala dengan terang.&lt;br /&gt;Dan aku terjatuh, hampir mati, karena benci dan sakitku meradang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7551881-108914038485733040?l=stanley-o.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://stanley-o.blogspot.com/feeds/108914038485733040/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7551881&amp;postID=108914038485733040' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7551881/posts/default/108914038485733040'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7551881/posts/default/108914038485733040'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://stanley-o.blogspot.com/2004/07/tentang-bapaku.html' title='tentang Bapaku'/><author><name>stanley-O</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13041152574806417870</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7551881.post-108914025153662531</id><published>2004-07-06T11:56:00.000-07:00</published><updated>2004-07-06T11:57:31.536-07:00</updated><title type='text'>tentang hari ini...</title><content type='html'>Matahari sedang tak bersinar dengan garang ke atas wajah bumi, dan semua mahluk tertidur dalam kelamnya awan, angin dingin, rintik tangisan semesta. Semuanya tertidur.&lt;br /&gt;Masa yang menakutkan, dengan gampang sedih-duka-lara akan bernyanyi atas tiap raga dan jiwa, raga dan jiwa yang berdiri sendiri di atas jagad.&lt;br /&gt;Daun daun gugur kemerahan, basah,  dan sekarat di ambang sejuknya musim. Tak lama lagi akan mati, dan entah kapan akan muncul hidup yang baru. Setelah mati dan membusuk dalam tidur sang musim.&lt;br /&gt;Semua orang bernyanyi akan kesedihan. Musim yang kelam. Dingin dan mencekam, terlebih saat malam datang berkumandang dengan sangkakala alam yang ia tiup saat senja lelah, dan beristirahat.&lt;br /&gt;Tiap hembusan angin serasa menusuk kesadaran, dan menangis atas tiap tatapan, sedih mereguk napas, dan jiwa tergeletak tak bernyawa, memandang kosong pada langit dingin. Tubuhmu mati rasa, pucat dan perlahan membeku dalam tawa yang hilang, hilang dalam gelap akhirnya musim, musim yang akan beristirahat panjang, dan mungkin kembali dengan fajar yang cerah. Nanti. Mungkin.&lt;br /&gt;Angin berhembus dengan dingin, mencekik paru-paru, kering di atas kulit ini, dan membuat luka yang hampir tak terasa, tak terlihat. Tapi itu luka.&lt;br /&gt;Angin berhembus dingin ke atas rimbun daun-daun mati, memenggal mereka dari tangkainya dan menguburnya bersama ribuan dedaunan lain yang telah berubah warna, merah, jingga, abu, membusuk, dan hilang. Hilang bersama musim.&lt;br /&gt;Daun-daun terbang kehilangan nyawa, bersiap menuju pembaringan terakhir bersama nyawa ribuan, jutaan daun lain yang telah habis masanya tuk bersuka bersama burung, tupai, ulat, serangga, dan aku.&lt;br /&gt;Dan aku di sini memandangi musim.&lt;br /&gt;Dingin, menusuk, kelam, dan begitu sunyi. Selalu sunyi. Kenapa.&lt;br /&gt;Mungkin karena aku hanya sendiri yang merasa sunyi.&lt;br /&gt;Tapi jagad begitu dingin dan tak bernyawa, bak lentera yang berteriak meminta minyak untuk dian yang ia dirikan atas kesadarannya. Jagad ini sedang tak bernyawa, resah dalam sekaratnya alam. Resah dalam tidur yang menjelang tak lama lagi.&lt;br /&gt;Matahari masih mendelik dari jauh, dan angin mulai bernyanyi kecil dengan awan-awan mendung. Belum ada tangis, belum ada rintik. Tapi jagad sudah tergeletak bersama kantuk tak terperi. Begitu juga aku. Kantukku tak terperi. Tubuh ini sudah begitu lelah.&lt;br /&gt;Sudah begitu lelah. Di sini, di sana. Di mana-mana kurasa kaku dan letih yang mengakar di tangan dan kakiku. Letih merambat ke pikiran dan meracuni sadarku, ingin membuatnya hilang dalam mimpi.&lt;br /&gt;Hidup ini seperti pacuan kuda yang memiliki jalur berkelok, kelok dan rute yang tak jelas berakhir di mana. Jalan di mana yang berbatu, berlubang, dan memiliki rintangan tak ada yang tahu. Dan aku harus lewat, kita harus lewat. Bila kita tidak begitu letih dan merelakan raga ini dicekik lara yang menyiksa.&lt;br /&gt;Saat ini kurasa letih, dan letihku menyiksa, dengan angan yang entah sudah terbang ke mimpi mana yang tak kubayangkan sebelumnya. Letih ini mengajakku beristirahat dan menghentikan perjalanan. Aku tahu pacuan ini masih jauh dari selesai, dan jalanku masih berkelok-kelok. Kuda-kuda lain masih berlarian di belakang, ada yang melewatiku. Ada yang sudah terbaring tak bernyawa.&lt;br /&gt;Angin berbau racun saat dunia beristirahat karena gelap berkuasa atas terang. Dan daun-daun pun mati, hilang dalam pelukan musim. Gugur dan hilang.&lt;br /&gt;Waktu sudah terjaga saat aku membuka mata, dan saat tirai kubuka hanya ada langit yang menghitam dengan kesedihan tak terkatakan bermain di ujung mata ini. Aku mengira-ngira, siapakah yang bersedih hari ini sekiranya sampai-sampai langitpun tak mampu bersinar dengan cerah, memancarkan senyum mengembang seperti kemarin.&lt;br /&gt;Siapakah yang bersedih hari ini sekiranya, sampai-sampai langit hanya berteman dengan angin dingin. Sudah sesiang ini, kemana perginya raja siang, apakah ia bersedih? Apakah ia letih karena kemarin ia bersinar begitu cerah dan jutaan jiwa tersiksa dengan panasnya yang membara membakar kulit, dan saat petang menjelang ia kehilangan keperkasaannya dan ingin beristirahat walau sejenak, namun ia tak mampu bangun hari ini dan hanya menjetikkan jarinya sedikit agar hari ini walau gelap masih ada sinar pertanda siang masih berkuasa?&lt;br /&gt;Jiwaku, siapakah di sana yang bersuram hati hingga membuat jagad turut muram akan kesedihannya? Apakah ia sesedih aku saat aku bercerita kepadamu selama ratusan malamku? Mampukah ia bangun dari tidurnya malam tadi mengingat kesedihan yang ia bawa dalam tidurnya membuat semesta merasa iba kepadanya pagi ini?&lt;br /&gt;Jiwaku, di mana kah jiwa ini, yang mengingatkanku akan kesedihanku? Apakah dia tertidur dalam tangis? Dan bermain dalam angan tiap kali ia duduk di sudut-sudut mati biliknya? Dan jiwanya memutuskan untuk keluar daripada tersiksa dengan kesadaran yang begitu terganggu dan terancam seperti engkau?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7551881-108914025153662531?l=stanley-o.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://stanley-o.blogspot.com/feeds/108914025153662531/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7551881&amp;postID=108914025153662531' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7551881/posts/default/108914025153662531'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7551881/posts/default/108914025153662531'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://stanley-o.blogspot.com/2004/07/tentang-hari-ini.html' title='tentang hari ini...'/><author><name>stanley-O</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13041152574806417870</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7551881.post-108914013113572009</id><published>2004-07-06T11:54:00.000-07:00</published><updated>2004-07-06T11:55:31.136-07:00</updated><title type='text'>(tentang) sunyi</title><content type='html'>Sudah jauh sampai lembar ini, apakah kau masih mencari cinta itu? Cinta yang membuatmu bertekuk lutut dalam kehampaan? Keinginan akan seseorang yang membuat jiwamu lebih tenang, terjaga kala malam membalut siang, dan mentari harus tidur untuk beberapa jam?&lt;br /&gt;Sudah jauh sampai lembar ini. Kau sedih, kau bahagia, kau cemburu, kau benci, kau sakit, kau terluka. Kau terus bercerita, sementara aku terus mendengarkan ceritamu- lewat siang, malam, keringat dan lara tak terperi menari-nari bernapas bersama matamu. Kau masih ingin terus bercerita? Kau tak takut menjadi gila? Hanya aku yang mendengarkan ceritamu, kau tak ingin bercerita untuk orang yang lebih banyak lagi? Kau tak takut aku menjadi gila karena semua rasa sudah campur aduk di anganku? Semua dukamu-karena itulah yang kau rasa dalam hidupmu-akan menyiksa dan mengancam sadarku? Tak takutkah kau aku akan ikut terluka dan kemudian membencimu karena kau membuatku terluka?&lt;br /&gt;Kenapa kau tidak bercerita pada mereka yang tak tersentuh oleh waktu? Pada mereka yang tak mendengar dengan telinga, tak melihat dengan mata, dan  mereka tak bisa menyentuh jagad ini selayaknya kau menyentuh dirimu dengan sepasang tangan yang hadir untukmu-hasil karya Tuanmu itu?&lt;br /&gt;Aku sebenarnya tahu, dan sepenuhnya menegrti apa yang kau rasakan. Aku hanya menolongmu, kau butuh lobang menganga untuk membuang tumor itu.&lt;br /&gt;Tumor, ya tumor, karena kau membiarkannya hidup, menggerogoti sadarmu, dan menyiksamu perlahan-lahan, hingga akhirnya kau akan kehilangan tarikan napas itu akibat luka yang menahun, dan mungkin benci-benci akan dunia, lara akan cinta…&lt;br /&gt;Tumor, ya tumor, karena ia bernapas dalam bencimu, ia seperti kanker yang parasit dalam dagingmu yang mereguk hidup-ia ikut mereguk hidupmu.&lt;br /&gt;Akan ada saatnya saat ia tumbuh begitu besar sampai kau betul-betul sakit dan menderita dan kau putuskan lebih baik tidak menderita akan benci, lara, luka itu-kau mungkin mati.&lt;br /&gt;Itu parasit. Dan kau akan mati, seandainya ia terus tumbuh.&lt;br /&gt;Aku akan membantumu bertahan, kuharap aku bisa membantumu bertahan. Cairan di otakmu sudah begitu tak seimbang, sampai-sampai aku ikut merasa gila-hampir gila tepatnya, akibat tekanan yang kau rasakan tiap kali kau bernapas. Mereka parasit.&lt;br /&gt;Aku hampir gila, saat sore itu kau bak angin, terbang kemana hatimu resah, pergi kemana langit menghitam, kau mencari sesuatu yang sebenarnya tak perlu kau cari, kau hanya merasa harus menggerakan tanganmu, kakimu, anganmu, dan membuang luka itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tahu luka itu masih ada. Di situ. Ya di situ. Bahkan sampai saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau tahu, setelah hujan selalu ada matahari yang bersinar, kedengarannya bagus bukan. Mudah-mudahan setelah hujan ini, akan ada matahari untuk kita. Ada sedikit bahagia untuk lukamu, laramu, sedihmu, sakitmu. Kita harus membawa sakitmu jauh dari ragamu. Aku bilang mereka parasit. Mereka akan membunuhmu perlahan dengan benci, luka yang menahun, mereka seperti borok yang tak pernah sembuh karena selalu lembab akibat hujan ini, dingin ini.&lt;br /&gt;Mungkin kau masih akan terpuruk di kamar dingin ini beberapa waktu nanti, tapi seperti yang kukatakan tadi, masih ada matahari-ia masih di sana- setelah hujan ini reda.&lt;br /&gt;Dan saat matahari kembali dari balik awan hitam, masih ada jalan-jalan kering yang bisa kita lewati. Aku janji.&lt;br /&gt;Saat matahari kembali bersinar, akan ada luka yang mengering dan tak perlu kau sentuh lagi. Tak perlu kau buka lagi. Mungkin semua kedengarannya jauh lebih tidak sederhana dari yang bermain dalam angan, tapi luka mu akan mengering.&lt;br /&gt;Aku tahu kau selalu menangis. Isakmu terdengar jauh sampai pulau seberang sahabat. Kau masih terisak, tangismu hampir kering bersama napasmu. Tapi jangan. Lukamu akan mengering, dan isakmu berubah jadi nyanyian. Aku janji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7551881-108914013113572009?l=stanley-o.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://stanley-o.blogspot.com/feeds/108914013113572009/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7551881&amp;postID=108914013113572009' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7551881/posts/default/108914013113572009'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7551881/posts/default/108914013113572009'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://stanley-o.blogspot.com/2004/07/tentang-sunyi.html' title='(tentang) sunyi'/><author><name>stanley-O</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13041152574806417870</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7551881.post-108913997773540693</id><published>2004-07-06T11:52:00.000-07:00</published><updated>2004-07-06T11:52:57.736-07:00</updated><title type='text'>(tentang) dia, dia (dahulu)...</title><content type='html'>Ada seorang gadis yang dulu kucinta.&lt;br /&gt;Dia dulu adalah musim semi hatiku,&lt;br /&gt;Dengan cintaku padanya yang selalu terbit tiap kali ku tenggelam dalam matanya.&lt;br /&gt;Dengan senyumnya yang lahir dari mata itu, tatapan yang selalu kurindukan.&lt;br /&gt;Kuangankan untuk tertidur di sana. Mungkin resah hati ini akan hilang sekiranya pemilik mata indah ini bisa tertidur bersamaku di bawah langit musim panas.&lt;br /&gt;Melihat awan, bergumpal-gumpal yang menari bersama tiap angan dan mimpi akan masa depan, yang masih jauh dari genggaman.&lt;br /&gt;Melihat langit tak berbatas yang tidur di atas jagad, di luar sana ada jagad, dan saat itu hanya ada kami yang diam di dalam cinta yang tak terjelaskan.&lt;br /&gt;Merasakan angin mencium kulit ini, membawa sedih yang tergurat di hati, membawa bahagia dari negeri timur nan jauh,&lt;br /&gt;Membawa wangi melati bak kasih ibu tak habis dimakan waktu.&lt;br /&gt;Seiring langit senja yang memerah, dan samudera yang terus bercengkerama dengan angin…&lt;br /&gt;Aku ingin ada di sana, bersamanya.&lt;br /&gt;Dengan gadis, yang dulu kucinta.&lt;br /&gt;Yang dulu pernah membawa musim semi, walau sejenak, dan aku sudah lupa wangi musim semi dari rambutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia dulu gadis yang kucinta.&lt;br /&gt;Rambutnya tergerai oleh angin yang ingin merasakan lembut cintanya.&lt;br /&gt;Dan matanya masih kurindukan. Hingga kini.&lt;br /&gt;Tapi dia bukan lagi gadis yang kucinta.&lt;br /&gt;Aku hampir tak mengenalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jiwanya sudah bukan jiwa yang dulu pernah kukenal,&lt;br /&gt;Jiwa yang ingin kujaga dengan tiap napas dan rinduku akan dirinya.&lt;br /&gt;Jiwa yang bermain-main dalam mimpiku dan mengajak aku bermain di hutan rahasia di mana aku bisa menguak rahasia musim semi yang ia tawarkan padaku, pada jiwaku.&lt;br /&gt;Jiwanya sudah tak kukenal, karena matanya tak lagi membuatku rindu akan dirinya.&lt;br /&gt;Matanya tak lagi teduh seperti yang dulu kubanggakan akan dirinya. Kuinginkan akan dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jiwanya sudah tak kukenal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia membuatku begitu menginginkannya.&lt;br /&gt;Merindukan jiwanya.&lt;br /&gt;Menggenggam tangannya, dan membawanya lari dalam napasku, pelukanku. Dalam tiap kecupanku akan jiwanya yang begitu indah-saat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jiwanya sudah tak kukenal.&lt;br /&gt;Dari batang-batang, dan sulur-sulur bahagianya tumbuh duri. Menyeruak dari bahagiaku.&lt;br /&gt;Dan duri-duri itu terus tumbuh, seiring senja yang menjauh dan malam yang bernyanyi mengundang jiwa-jiwa sepi ke dalam peraduan mimpi.&lt;br /&gt;Saat itu aku masih berusaha menyentuhnya dan membawa musim semi itu dalam lading anggur hatiku yang kering ini.&lt;br /&gt;Tapi durinya membuatku berdarah, lukanya tak mengering hingga kini.&lt;br /&gt;Lukanya dalam dan menganga, semakin pedih dan berdarah saat aku mengingat betapa indahnya dia dulu.&lt;br /&gt;Betapa aku selalu memanggilnya dalam tidurku.&lt;br /&gt;Betapa aku merindukan keteduhan matanya untuk kering dan meranggasnya urat nadiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jiwanya sudah tak kukenal.&lt;br /&gt;Dan ia semakin berduri. Dan lukaku semakin berdarah saat aku berusaha mendekatinya.&lt;br /&gt;Durinya tak mengijinkanku untuk mendekat. Dan aku tak bisa berbuat apa-apa.&lt;br /&gt;Ia akan pergi bersama bahtera berikutnya.&lt;br /&gt;Membawa semua lukaku jauh pergi bersama kenangan akan dirinya.&lt;br /&gt;Aku ingin membuang durinya. Agar ia semerbak seperti dulu, saat aku merindukannya.&lt;br /&gt;Aku ingin membuang durinya, agar aku dapat memeluknya. Menatap senja yang memerah dan malam yang turun saat ia mulai mengantuk dan terlelap dalam pelukanku.&lt;br /&gt;Aku ingin membuang durinya . agar luka ini tak begitu sakit lagi.&lt;br /&gt;Agar luka ini tak terasa lagi, dan aku masih bisa merawatnya.&lt;br /&gt;Mengingatnya, betapa dulu ia adalah musim semi yang selalu kunanti, saat musim dingin berakhir dalam hatiku,&lt;br /&gt;Saat kuinginkan nyawa baru untuk hidupku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan sekarang,&lt;br /&gt;Aku tak mengerti kemana wangi musim semi yang dulu bernapas dalam jiwanya,&lt;br /&gt;Dalam matanya yang teduh dan selalu kurindukan itu.&lt;br /&gt;Aku tak mengerti  kemana terbangnya jiwa yang ingin kupeluk itu.&lt;br /&gt;Jiwa yang selalu bermain dalam hutan rahasia raga ini, yang selalu menantikan cinta sepertinya. Damai seperti samuderanya.&lt;br /&gt;Ia berdiri dengan penuh duri, menatapku dari balik selimut malam.&lt;br /&gt;Aku hampir tak mengenalnya.&lt;br /&gt;Jiwanya sudah terbang jauh, bersama musim semi hijau, biru, jingga, merah…&lt;br /&gt;Bersama hilangnya rindu ini akan dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7551881-108913997773540693?l=stanley-o.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://stanley-o.blogspot.com/feeds/108913997773540693/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7551881&amp;postID=108913997773540693' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7551881/posts/default/108913997773540693'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7551881/posts/default/108913997773540693'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://stanley-o.blogspot.com/2004/07/tentang-dia-dia-dahulu.html' title='(tentang) dia, dia (dahulu)...'/><author><name>stanley-O</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13041152574806417870</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7551881.post-108913987517646758</id><published>2004-07-06T11:49:00.000-07:00</published><updated>2004-07-06T11:51:15.176-07:00</updated><title type='text'>tentang aku, dan gadis...</title><content type='html'>Buat mu gadis…&lt;br /&gt;Tak kuduga aku akan menerimamu dalam hidupku,&lt;br /&gt;Menerimamu untuk membiarkanmu mengambil dia dari kisahku, perlahan.&lt;br /&gt;Meski dia katakan  dia akan terus bersamaku, tapi ku tahu dia tak pernah menjadi milikku. Hanya engkau, gadis, yang ia pikirkan. Ia mimpikan dalam tidur untuk selalu bisa bersama.&lt;br /&gt;Aku hanya berdiri, bernapas dalam bayangan kalian. Yang membuat kisah ini becerita tentang tiga orang yang merebutkan senandung damai bulan atas jagad kala malam.&lt;br /&gt;Gadis, aku merindukan dia. Tapi tak seperti engkau, aku tak begitu saja mendapatkan dia. Karena dia akan lebih dulu menjawab panggilan rindumu.&lt;br /&gt;Gadis, aku hanya berdiri dalam bayangan kalian. Tanpa bentuk, keadaan tak terjelaskan yang membuatku merasakan siksa ini. Eksistensi palsu, penuh ketidakpastian. Hal yang tak seharusnya dilakukan, dimulai, yang kutahu pasti membuatku tersiksa.&lt;br /&gt;Gadis, ia tahu ia harus membagi cintanya untuk kita. Kau dan aku.&lt;br /&gt;Gadis, ia lebih memilihmu. Ia menjawab rindumu. Dan rinduku hilang bersama malam, dan semua sakit yang harus kutelan karena rindu yang menusuk dan ketidaksadaran dia akan rinduku, akan dia.&lt;br /&gt;Gadis, andaikan aku dapat menghapusmu, yang tak dapat kulakukan. Akankah cintanya semuanya untukku. Tak akan. Dia akan kembali dalam pelukan malam. Hilang bersama bayang. Tak nampak dalam siang, dan malam yang dingin. Sampai akhirnya aku tak kan pernah dapat bertemu dia, dan akhirnya malam membawanya pergi ke tempat persemayaman dewa. Jauh di sana, dekat samudera berwangi daun lontar. Penuh ingatan masa lalu. Gadis, aku tak tahu harus menangis atau tertawa bersamamu.&lt;br /&gt;Kau membawa cintaku, lari dariku. Ada luka yang ditinggalkan. Mungkin kalian tak tahu. Pasti kalian tahu. Tapi kalian tak berbuat apa-apa untuk menyelamatkan aku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalian terus hidup dalam cinta yang  kalian bagi. Kalian tinggalkan aku. Kalian terus mengatakan cinta kalian juga ada untukku, dan jiwaku yang sekarat sunyi sendiri. Tapi saat kalian berlalu, tak kurasakan itu.&lt;br /&gt;Kalian tertawa dalam perjamuan kalian sendiri. Gadis, kau dan dia.&lt;br /&gt;Dan aku ada di sudut ruangan. Tertawa bodoh dalam bayangan sudut ruangan di mana aku hampir tidak kelihatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak tahu aku ini apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadis, kau bawa dia pergi. Kau datang, tersenyum dengan penuh mesra membawa sejuta harapan untukknya, merusak mimpiku, dan menyambut nyanyian cinta yang telah ia lagukan untuk berapa malam. Hanya untukmu. Dan bagaikan badai, alam berpesta untuk cinta kalian yang bertemu di bawah purnama. Entah kenapa aku ada di sana. Dalam pesta semesta itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadis, kau tak pernah meminta ijinku untuk mencintainya. Gadis, kau tak pernah bertanya padaku untuk meminta dia dari jiwaku dan menjadikannya milikmu. Kau rampas dia. Puas?&lt;br /&gt;Dan, gadis kau berlalu bersama dia. Kau lupa di sini ada aku yang mencintainya. Kau berlalu saja menggenggam tangannya. Kau meninggalkan senyum yang menyakitkan buatku.&lt;br /&gt;Senyum itu berkata padaku, ‘selamat tinggal pecundang, dia akan kubawa terbang, dan kau harus mengucapkan selamat tinggal padanya. Lupakan cintamu padanya, lupakan bahwa itu pernah ada, mulai sekarang hanya ada dia dan aku, dan tak ada yang bisa memisahkan dia dan aku.&lt;br /&gt;maafkan.&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7551881-108913987517646758?l=stanley-o.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://stanley-o.blogspot.com/feeds/108913987517646758/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7551881&amp;postID=108913987517646758' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7551881/posts/default/108913987517646758'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7551881/posts/default/108913987517646758'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://stanley-o.blogspot.com/2004/07/tentang-aku-dan-gadis.html' title='tentang aku, dan gadis...'/><author><name>stanley-O</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13041152574806417870</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7551881.post-108913974266436572</id><published>2004-07-06T11:48:00.000-07:00</published><updated>2004-07-06T11:49:02.663-07:00</updated><title type='text'>tentang aku, rinduku, rumahku...</title><content type='html'>jauh jiwaku dari kampung halaman.&lt;br /&gt;Jauh…dipisahkan lautan, hutan tak terbilang, jutaan rindu yang memelas hati, dan ribuan malam tak habis kau jalani. Untuk sampai ke kampung halamanku.&lt;br /&gt;Di seberang lautan sana. Ribuan malam, kiranya.&lt;br /&gt;Dengan jangkrik yang terus bernyanyi dan kiranya merintih saat malam menjelang, dan lampu minyak yang tersenyum di balik selimut malam. Di antara gelap, menjulangnya pohon-pohon ratusan tahun, dan mahkluk-mahkluk malam tak tersebutkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jauh jiwaku dari kampung halaman.&lt;br /&gt;Jiwaku di seberang lautan. Bernyanyi sendiri di kesunyian. Di antara jalan-jalan panjang yang selalu kulewati, saat aku mencari jawaban akan kesunyian yang kusenandungkan. Jalan-jalan panjang yang selalu menyambut bingungnya hatiku, resahnya napas, dan jantungku yang taj beristirahat dalam resah, memburu panas.&lt;br /&gt;Jiwaku di seberang lautan, jauh dari kampung halaman. Bercinta dengan jalan-jalan panjang, panas-meranggas dan penuh rahasia seperti jagad, dikelilingi dinding-dinding putih sisa keagungan dan kejayaan masa lalu. Dinding-dinding putih yang turut terjaga saat aku melewati jalan-jalan itu di kesunyian malam.&lt;br /&gt;Dinding-dinding yang bertanya mengapa jiwaku resah. Mengapa jiwaku tak beristirahat seperti jiwa-jiwa lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak bisa. Kataku. Jiwaku yang tenang disembunyikan sunyi dan laranya napas. Aku tak bisa beristirahat sampai kunci kutemukan dan jiwaku tenang kembali. Jalan-jalan ini masih panjang, dan masih banyak yang belum kujalani. Jalan yang keras, panas, dan meranggas saat siang. Jalan yang kelam, dingin, dan tak nampak berujung di sebuah titik saat malam bernyanyi dalam dekapan jagad. Jalan-jalan ini masih ingin kujalani. Mungkin kunci itu tercecer di salah satu jalan-jalan ini. Kunci yang membuka gerbang jiwaku yang tenang, agar nanti aku bisa mendamaikan jiwa ini dengan Sang Kuasa. Tak begitu banyak bertanya.&lt;br /&gt;Mungkin nanti aku akhirnya bisa membuka kunci tenangnya jiwa, agar nanti aku tak takut jiwa ini terus bernapas dalam resah dan cemas.&lt;br /&gt;Aku lelah menjadi dan berjalan dalam cemas.&lt;br /&gt;Ratusan malaikat kematian menunggu mu mati, saat kau berjalan dalam cemas.&lt;br /&gt;Dunia yang biasanya sejuk dan tenang, akan menjadi panas dan membakar. Semua karena cemas yang kaurasakan. Jiwamu tak beristirahat dengan tenang di antara segala kecemasan hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku masih ingin berjalan di selusur jalan-jalan kota ini. Siang, pagi,malam, saat petang menjelang. Berjalan hingga aku lupa wujudku. Berjalan hingga tubuh ini mengurus dan memucat. Berjalan hingga nanti oase itu kutemukan. Agar dahaga ini hilang, dan kunci ketenangan itu kutemukan.&lt;br /&gt;Dia, kunci itu, tak ada diujung pelangi. Aku tahu ujung pelangi itu tak ada. Dan aku tak mau mencarinya kesana. Membuang waktu mencari di kaki pelangi, yang tidak ada.&lt;br /&gt;Aku yakin, jalan-jalan ini akan menuntunku ke sana.&lt;br /&gt;Aku yakin masih banyak yang belum kulihat, dan kurasakan.&lt;br /&gt;Di antara malam, siang, pagi, dan saat petang menjelang-pasti kutemukan. Kunci itu.&lt;br /&gt;Pasti akan kutemukan. Di antara jalan-jalan ini. Di antara panas, dan dingin yang menyengat. Pasti akan kutemukan.&lt;br /&gt;Mungkin saat itu aku sudah memucat, mengurus, dan kehilangan senyum di balik wajahku. Tapi aku yakin, aku pasti menemukan kunci itu. Di jalan-jalan ini. &lt;br /&gt;Mungkin dibalik dinding-dinding putih itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam duniaku yang bersinar di antara biru, putih, hitam, dan abu-abu, aku masih menanti semuanya bersinar terang. Seirama dengan bulan, dan aku tahu hatiku akan terus hancur. Hati ini memang dibuat untuk itu. Cinta datang dan pergi, semuanya berlalu seperti angin. Aku masih merindukan seseorang itu, berjalan melewati waktu, tertidur dalam pelukannya.&lt;br /&gt;Hati ini akan terus terluka. Tak ada hati yang tak terluka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7551881-108913974266436572?l=stanley-o.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://stanley-o.blogspot.com/feeds/108913974266436572/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7551881&amp;postID=108913974266436572' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7551881/posts/default/108913974266436572'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7551881/posts/default/108913974266436572'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://stanley-o.blogspot.com/2004/07/tentang-aku-rinduku-rumahku.html' title='tentang aku, rinduku, rumahku...'/><author><name>stanley-O</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13041152574806417870</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7551881.post-108913960687922076</id><published>2004-07-06T11:46:00.000-07:00</published><updated>2004-07-06T11:46:46.880-07:00</updated><title type='text'>tentang malam, dahulu...</title><content type='html'>Jumat pagi dan semuanya baru saja lahir dari angan yang sunyi, selalu sepi. Sampai saat ini. Malam gelap sudah lewat, karena pagi menjelang. Malam sudah tak dingin lagi, karena kamar ini panas, dan napasku memburu. Udara semakin sedikit dan oksigne berkurang, kesadaranku akan lenyap saat aku terbaring nanti. Bukan sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku bertemu Ibu. Bukan yang melahirkanku. Tapi yang melahirkan salah satu cinta yang kumiliki sekarang. Dia tak mengandung jiwaku ini. Aku tak keluar, lahir, dan dibesarkan oleh kasihnya. Tapi aku ingat dulu pernah bertemu wanita seperti dia.&lt;br /&gt;Dan saat itu kuingat, aku semakin merasa sendiri. Seakan garis hidupku hanya muncul begitu saja. Dan aku memang harus sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam gelap dan dingin. Hanya ada bulan dan angin dingin. Dingin. Tiga bayangan berkelebat di bawah awan, dan rintik hujan menetes sesekali.&lt;br /&gt;Malam membuatku tak mengerti untuk apa aku hidup di bawah naungannya dan siang hari. Aku hilang dan tak punya keberadaan, jika itu yang kau Tanya.&lt;br /&gt;Saat kau keluar dari cangkang, telurmu terbawa di sisi hutan yang gelap, mungkin terang, dan sarangmu sunyi. Hanya ada dirimu, cangkangmu, dan dunia luas di luar sana yang sudah menantikanmu. Berteriak, memanggil, berseru…kemari-kemari!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau berjalan keluar dari cangkangmu, meninggalkan lendir yang menutup arimu, dan menantang matahari, dan lendir kelahiranmu mongering. Itulah kulitmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini hutan yang tak ramah. Berhati-hatilah sahabat. Itu kata angin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7551881-108913960687922076?l=stanley-o.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://stanley-o.blogspot.com/feeds/108913960687922076/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7551881&amp;postID=108913960687922076' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7551881/posts/default/108913960687922076'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7551881/posts/default/108913960687922076'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://stanley-o.blogspot.com/2004/07/tentang-malam-dahulu.html' title='tentang malam, dahulu...'/><author><name>stanley-O</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13041152574806417870</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7551881.post-108913948369798746</id><published>2004-07-06T11:43:00.000-07:00</published><updated>2004-07-06T11:44:43.696-07:00</updated><title type='text'>tentang mereka</title><content type='html'>Kenapa mereka Cuma bisa tersenyum. Tidak adakah rangkaian kata, maaf, beribu maaf karena aku tak mendengarkanmu? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maaf  karena aku terlalu asik dengan cintaku, maaf karena janji dengan jiwa lain yang lebih hidup dan tidak sekarat denganmu lebih menyenangkan. &lt;br /&gt;Maaf karena aku benci dengan aroma kamarmu yang pengap, tak ada kehidupan, tak ada denyut, dan irama cinta di dalamnya. &lt;br /&gt;Maaf karena aku memutuskan untuk tertawa, dengan jiwa-jiwa lain daripada mendengarkanmu bicara tentang kesedihanmu, angan-angan, dan semua keluh kesahmu karena sejujurnya aku letih dengan semua itu. &lt;br /&gt;Maaf karena aku tak merasakan indahnya sebuah pembicaraan saat bersamamu, mungkin lebih baik memadu cinta di bawah bulan purnama dan mengatakan semua bicara cinta yang akan membuatmu muntah, dan sedih karena kau tak memilikinya. &lt;br /&gt;Maaf karena semua keluh kesahmu sudah berlalu seperti angin. &lt;br /&gt;Maaf karena aku melupakanmu selama ratusan malam dan lebih memilih pergi ke perayaan yang penuh kerlap-kerlip hidup, saat aku bisa bersama dengan cintaku. &lt;br /&gt;Maaf karena aku menganggapmu terlalu kekanak-kanakan, kau sudah terlalu gila untuk kumengerti, dan aku tak mau menjadi gila pula. &lt;br /&gt;Maaf karena aku mengatakanmu gila. &lt;br /&gt;Maaf karena bersamamu menyesakan, dan aku tak bisa berbicara apa-apa, dan aku hanya mendengarkan angin saat kau bicara, aku tak begitu mendengarkan. &lt;br /&gt;Maaf karena aku begitu mendengarkan jiwa-jiwa lain yang punya perjanjian lebih menarik daripada terjebak dalam ceritamu, dan akhirnya aku lupa denganmu. &lt;br /&gt;Maaf karena aku Cuma bisa tersenyum, aku sedang tidak ingin berbicara, apalagi denganmu. &lt;br /&gt;Maaf karena aku membawa cintamu lari darimu, sekarang ia lebih senang bersamaku, aku senang bersama dia, kami senang bersama, dan rasanya lucu harus membagi pembicaraan ini bersama kalian, bisa-bisa kami jadi gila, dan kehilangan cinta yang begitu indah ini, cinta yang belum tentu seabad sekali akan kami rasakan. &lt;br /&gt;Maaf karena lupa bahwa cinta ini sebenarnya milikmu, tapi sekarang ada di dalam jiwaku, bernyanyi dengan tiap tarikan napas yang kurasakan. &lt;br /&gt;Maaf karena saat kita bertemu aku hanya melewatimu, memandangmupun sebenarnya tidak benar-benar kulakukan, aku tak pernah merasa begitu perlu memandangmu, atau menyapamu. &lt;br /&gt;Maaf karena aku membuatmu sedih dan harus merasakan semua ini sendirian, aku tak tahu harus berbuat apa, aku tak bisa merasakan yang kau rasakan, aku tak ingin merasakan sedih yang kurasakan itu, terlalu konyol dan aneh, sebab aku sedang bahagia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hatiku sedang merasakan musim semi cinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I am hit, and it’s a big one, I am squeezed within (Igby goes down).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7551881-108913948369798746?l=stanley-o.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://stanley-o.blogspot.com/feeds/108913948369798746/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7551881&amp;postID=108913948369798746' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7551881/posts/default/108913948369798746'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7551881/posts/default/108913948369798746'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://stanley-o.blogspot.com/2004/07/tentang-mereka.html' title='tentang mereka'/><author><name>stanley-O</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13041152574806417870</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7551881.post-108913921204331305</id><published>2004-07-06T11:38:00.000-07:00</published><updated>2004-07-06T11:40:12.043-07:00</updated><title type='text'>tentang aku, bahagiaku</title><content type='html'>Aku tak bermaksud untuk begitu marah. Jiwa ini tak bisa begitu marah, kutahu jiwaku tak gampang murka, tak mudah menyiksa, kutahu jiwa ini rapuh, kutahu jiwa ini sangat perasa. Aku tak ingin begitu marah.&lt;br /&gt;Aku tahu aku sudah porak poranda, angin tak bersahabat musim ini, awan hitam selalu bermain sepanjang pelayaranku. Bahteraku sudah luluh lantak, melewati badai, terjangan ombak, pengikut-pengikutku sudah meninggalkan kapal, mereka takut akan badai berikut yang mungkin menyambar nyawa mereka secepat elang menyambar tikus tanah dari kejauan. Jadi mereka putuskan untuk meninggalkan kapal, dan aku. Mereka pikir aku gila karena masih mau melakukan perjalanan ini. Perjalanan yang tak jelas arah dan tujuan, perjalanan yang dijalankan hanya dengan panduan sedih, lara, pilu, keinginan untuk mencari piala berisi emas dan sejuta kebahagiaan di ujung pelangi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seekor burung camar hinggap di pinggir bahtera. Bernyanyi-nyanyi dengan riang seakan tak tahu keadaan ku yang sudah robek, luka, tergores di sana-sini. Dengan penuh kekaguman ternyata dia bisa bicara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Camar:&lt;br /&gt;Hei, jangan bodoh! Semua itu tak ada gunanya. Lihat yang dia lakukan kepadamu. Kau menjadi hampir gila dalam berlayar. Semua awakmu meninggalkanmu, mereka pikir kamu gila karena masih mau berlayar dan mengikuti keinginannya.&lt;br /&gt;Angin begitu besar, awan hitam yang sangat ditakuti, tiupan angin bak amukan dewa laut. Apa yang harus jagat ini lakukan supaya kau mau berhenti dan merubah haluan.&lt;br /&gt;Kau sudah tahu, tidak ada pundi berisi emas, kebahagiaan atau apa namanya itu di ujung kaki pelangi.&lt;br /&gt;Kukatakan padamu, pulanglah. Tak ada gunanya.&lt;br /&gt;Dan bila memang pundi berisi emas dan kebahagiaan itu ada, pasti sudah ada yang menemukannya, dan mereka sudah menghabiskannya, tak ada lagi tersisa untukmu. Perjalananmu akan sia-sia. Kau sudah hampir kehilangan akal. Saat kau di sana kau tak menemukan apapun. Apalagi yang kau cari.&lt;br /&gt;Dia hanya mengutusmu untuk melakukan perjalanan, dia tak tahu derita yang kau alami. Tahukah dia akan kesedihanmu akan dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahagia seperti apa yang kau inginkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadilah bijaksana, jangan jadi seorang pecundang. Semua ini tak sebanding. Pulanglah kawan, pulanglah ke rumahmu. Carilah damai di sana. Perjalananmu akan sia-sia. Tak ada gunanya kau menyiksa dirimu sendiri. Aku tahu kau sakit hati, karena derita, sakitmu tak berbalas, tak terobati, tapi kenapa kau masih mau berlayar.&lt;br /&gt;Bila kau tak mau pulang, pergilah ke selatan. Di sana angin dan langit sedang baik. Banyak ikan yang bisa kau tangkap. Banyak pulau-pulau yang pasti ingin kau kunjungi. Indah, belum banyak terjamah. Seperti pulau-pulau rahasia yang kau impi-impikan. Banyak gadis-gadis yang menantikan pelaut gagah sepertimu.&lt;br /&gt;Pergilah ke selatan. Carilah bahagia mu di sana. Jangan ke timur, atau tenggara. Kau akan tetap terluka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu burung itu tersenyum padaku dan pergi ke selatan. Cuaca sedang baik katanya.&lt;br /&gt;Selalu untuk selamanya? Janji siapa? Siapa yang mengatakannya? Janji bahwa dia masih akan melihat dan mendengar detak jantung penuh cinta itu? Dan betapa kalian berpisah dia sangat merindukanmu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih juga roman picisan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku rasa yang kau perlukan adalah roman picisan itu. Kalau tidak, kau akan mati dan hilang saat ini juga. Seperti nyala obor yang kehabisan minyak tanah dan merengek kepada penjaga pesta untuk menambah minyak tanah, agar ia masih bisa bertahan hingga perayaan usai dan melihat akhir dari perjamuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Roman picisan itu akan memadamkan benci di darahmu yang sedang mendidih dan mencari korban untuk membakarnya dengan kebencian, kebencian lain. Kebencian yang seperti minyak, dengan cepat dimakan api, dan membakar semua yang didekatnya. Kebencian bak racun, membunuh siapa saja yang menelan, memakan, menghirupnya. Itulah kebencian kawan, dan saat ini kau telah membunuh beberapa jiwa secara perlahan dengan kebencianmu yang sempurna itu. Kebencian mu seperti malaikat maut dengan kapak kematian yang merenggut kebahagiaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puas?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum! Mereka harus merasakan apa yang kurasakan. Udara akan kuracuni dengan kebencianku, kesendirian, dan kematian ini. Jika itu yang mereka rasa. Aku belum puas, sampai mereka menangis untukku, dan menyanyikan lagu memohon untuk meminta mereka kembali dalam rumah bahagiamu. Aku belum puas! Ini bukan salahku, mereka berpesta di atas sedihku, mereka hilang dari pesta yang kurayakan, mereka bermain api atas hatiku, meracuniku dengan benci, dan membuat kebencian ini lahir dari ragaku, darahku, denyut nadiku. Aku belum akan berhenti. Aku masih ingin mereka berpikir kematian apa yang bersarang di mataku, senyum siapa yang tertawa akan rindu mereka. Bila rindu yang mereka rasakan. Aku tak akan begitu bersahabat. Mereka terlalu sering mempermainkan aku, hatiku, dan jiwa ini. Mereka mengintimidasi bahagiaku. Mereka bermain dengan mimpi-mimpiku, dan harapanku untuk mencari bahagia. Aku tak tahu kenapa, aku memberikan bahagiaku untuk mereka, kuijinkan dan kuajak mereka untuk membagikan cinta, memulai hidup baru yang penuh denyut dan keindahan. Saat mereka sudah membagi cinta itu, tak ada tersisa untukku. Dan mereka Cuma tersenyum saat mereka sadar mereka sudah berjalan terlalu cepat. Saat bahagia belum kubagikan, dan kuijinkan untuk ditebarkan di udara mereka kebingungan, penuh Tanya, begitu banyak bicara. Sekarang mereka diam, dan mereka bertanya saat aku bicara. Kemana cinta yang kubagikan untuk mereka, cinta yang kuijinkan mereka untuk tumbuhkan? Mengapa cintaku sendiri habis tak bersisa? Apakah benar-benar sudah habis?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku muak. Ini menyedihkan. Jiwaku tak ingin berteman dengan benci dan tatapan penuh hasrat untuk membunuh. Bukan aku. Bukan aku. Tatapan ini milik benci yang terbang bak setan dari jiwa satu ke jiwa lain.dan saat ini ia tertawa dengan penuh kemenangan karena aku merasakan benci yang mengalir di darahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini bukan mimpi. Aku memang benci. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebahagian seperti apa yang kau dapat, saat jiwa lain bergembira dan menerawang jauh di jagad sementara kau meniupkan seruling kerinduan akan jiwa mereka, dan jiwamu sekarat. Saat mereka akhirnya bisa mendengarmu, mereka bertanya-tanya kemana saja kamu pergi. Disitulah benci itu lahir. Ya di situ. Dengan penuh kegelapan, dingin, dan buih mendidih yang tak tertahankan lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan mereka terus seperti itu. Dan kau terjebak. Dengan kerinduan, keinginan, kesendirian, malam, dingin-panjang, tajam, dan menusuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7551881-108913921204331305?l=stanley-o.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://stanley-o.blogspot.com/feeds/108913921204331305/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7551881&amp;postID=108913921204331305' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7551881/posts/default/108913921204331305'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7551881/posts/default/108913921204331305'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://stanley-o.blogspot.com/2004/07/tentang-aku-bahagiaku_06.html' title='tentang aku, bahagiaku'/><author><name>stanley-O</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13041152574806417870</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7551881.post-108913910160583938</id><published>2004-07-06T11:37:00.000-07:00</published><updated>2004-07-06T11:38:21.606-07:00</updated><title type='text'>tentang aku; bahagiaku</title><content type='html'>Aku tak bermaksud untuk begitu marah. Jiwa ini tak bisa begitu marah, kutahu jiwaku tak gampang murka, tak mudah menyiksa, kutahu jiwa ini rapuh, kutahu jiwa ini sangat perasa. Aku tak ingin begitu marah.&lt;br /&gt;Aku tahu aku sudah porak poranda, angin tak bersahabat musim ini, awan hitam selalu bermain sepanjang pelayaranku. Bahteraku sudah luluh lantak, melewati badai, terjangan ombak, pengikut-pengikutku sudah meninggalkan kapal, mereka takut akan badai berikut yang mungkin menyambar nyawa mereka secepat elang menyambar tikus tanah dari kejauan. Jadi mereka putuskan untuk meninggalkan kapal, dan aku. Mereka pikir aku gila karena masih mau melakukan perjalanan ini. Perjalanan yang tak jelas arah dan tujuan, perjalanan yang dijalankan hanya dengan panduan sedih, lara, pilu, keinginan untuk mencari piala berisi emas dan sejuta kebahagiaan di ujung pelangi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seekor burung camar hinggap di pinggir bahtera. Bernyanyi-nyanyi dengan riang seakan tak tahu keadaan ku yang sudah robek, luka, tergores di sana-sini. Dengan penuh kekaguman ternyata dia bisa bicara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Camar:&lt;br /&gt;Hei, jangan bodoh! Semua itu tak ada gunanya. Lihat yang dia lakukan kepadamu. Kau menjadi hampir gila dalam berlayar. Semua awakmu meninggalkanmu, mereka pikir kamu gila karena masih mau berlayar dan mengikuti keinginannya.&lt;br /&gt;Angin begitu besar, awan hitam yang sangat ditakuti, tiupan angin bak amukan dewa laut. Apa yang harus jagat ini lakukan supaya kau mau berhenti dan merubah haluan.&lt;br /&gt;Kau sudah tahu, tidak ada pundi berisi emas, kebahagiaan atau apa namanya itu di ujung kaki pelangi.&lt;br /&gt;Kukatakan padamu, pulanglah. Tak ada gunanya.&lt;br /&gt;Dan bila memang pundi berisi emas dan kebahagiaan itu ada, pasti sudah ada yang menemukannya, dan mereka sudah menghabiskannya, tak ada lagi tersisa untukmu. Perjalananmu akan sia-sia. Kau sudah hampir kehilangan akal. Saat kau di sana kau tak menemukan apapun. Apalagi yang kau cari.&lt;br /&gt;Dia hanya mengutusmu untuk melakukan perjalanan, dia tak tahu derita yang kau alami. Tahukah dia akan kesedihanmu akan dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahagia seperti apa yang kau inginkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadilah bijaksana, jangan jadi seorang pecundang. Semua ini tak sebanding. Pulanglah kawan, pulanglah ke rumahmu. Carilah damai di sana. Perjalananmu akan sia-sia. Tak ada gunanya kau menyiksa dirimu sendiri. Aku tahu kau sakit hati, karena derita, sakitmu tak berbalas, tak terobati, tapi kenapa kau masih mau berlayar.&lt;br /&gt;Bila kau tak mau pulang, pergilah ke selatan. Di sana angin dan langit sedang baik. Banyak ikan yang bisa kau tangkap. Banyak pulau-pulau yang pasti ingin kau kunjungi. Indah, belum banyak terjamah. Seperti pulau-pulau rahasia yang kau impi-impikan. Banyak gadis-gadis yang menantikan pelaut gagah sepertimu.&lt;br /&gt;Pergilah ke selatan. Carilah bahagia mu di sana. Jangan ke timur, atau tenggara. Kau akan tetap terluka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu burung itu tersenyum padaku dan pergi ke selatan. Cuaca sedang baik katanya.&lt;br /&gt;Selalu untuk selamanya? Janji siapa? Siapa yang mengatakannya? Janji bahwa dia masih akan melihat dan mendengar detak jantung penuh cinta itu? Dan betapa kalian berpisah dia sangat merindukanmu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih juga roman picisan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku rasa yang kau perlukan adalah roman picisan itu. Kalau tidak, kau akan mati dan hilang saat ini juga. Seperti nyala obor yang kehabisan minyak tanah dan merengek kepada penjaga pesta untuk menambah minyak tanah, agar ia masih bisa bertahan hingga perayaan usai dan melihat akhir dari perjamuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Roman picisan itu akan memadamkan benci di darahmu yang sedang mendidih dan mencari korban untuk membakarnya dengan kebencian, kebencian lain. Kebencian yang seperti minyak, dengan cepat dimakan api, dan membakar semua yang didekatnya. Kebencian bak racun, membunuh siapa saja yang menelan, memakan, menghirupnya. Itulah kebencian kawan, dan saat ini kau telah membunuh beberapa jiwa secara perlahan dengan kebencianmu yang sempurna itu. Kebencian mu seperti malaikat maut dengan kapak kematian yang merenggut kebahagiaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puas?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum! Mereka harus merasakan apa yang kurasakan. Udara akan kuracuni dengan kebencianku, kesendirian, dan kematian ini. Jika itu yang mereka rasa. Aku belum puas, sampai mereka menangis untukku, dan menyanyikan lagu memohon untuk meminta mereka kembali dalam rumah bahagiamu. Aku belum puas! Ini bukan salahku, mereka berpesta di atas sedihku, mereka hilang dari pesta yang kurayakan, mereka bermain api atas hatiku, meracuniku dengan benci, dan membuat kebencian ini lahir dari ragaku, darahku, denyut nadiku. Aku belum akan berhenti. Aku masih ingin mereka berpikir kematian apa yang bersarang di mataku, senyum siapa yang tertawa akan rindu mereka. Bila rindu yang mereka rasakan. Aku tak akan begitu bersahabat. Mereka terlalu sering mempermainkan aku, hatiku, dan jiwa ini. Mereka mengintimidasi bahagiaku. Mereka bermain dengan mimpi-mimpiku, dan harapanku untuk mencari bahagia. Aku tak tahu kenapa, aku memberikan bahagiaku untuk mereka, kuijinkan dan kuajak mereka untuk membagikan cinta, memulai hidup baru yang penuh denyut dan keindahan. Saat mereka sudah membagi cinta itu, tak ada tersisa untukku. Dan mereka Cuma tersenyum saat mereka sadar mereka sudah berjalan terlalu cepat. Saat bahagia belum kubagikan, dan kuijinkan untuk ditebarkan di udara mereka kebingungan, penuh Tanya, begitu banyak bicara. Sekarang mereka diam, dan mereka bertanya saat aku bicara. Kemana cinta yang kubagikan untuk mereka, cinta yang kuijinkan mereka untuk tumbuhkan? Mengapa cintaku sendiri habis tak bersisa? Apakah benar-benar sudah habis?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku muak. Ini menyedihkan. Jiwaku tak ingin berteman dengan benci dan tatapan penuh hasrat untuk membunuh. Bukan aku. Bukan aku. Tatapan ini milik benci yang terbang bak setan dari jiwa satu ke jiwa lain.dan saat ini ia tertawa dengan penuh kemenangan karena aku merasakan benci yang mengalir di darahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini bukan mimpi. Aku memang benci. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebahagian seperti apa yang kau dapat, saat jiwa lain bergembira dan menerawang jauh di jagad sementara kau meniupkan seruling kerinduan akan jiwa mereka, dan jiwamu sekarat. Saat mereka akhirnya bisa mendengarmu, mereka bertanya-tanya kemana saja kamu pergi. Disitulah benci itu lahir. Ya di situ. Dengan penuh kegelapan, dingin, dan buih mendidih yang tak tertahankan lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan mereka terus seperti itu. Dan kau terjebak. Dengan kerinduan, keinginan, kesendirian, malam, dingin-panjang, tajam, dan menusuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7551881-108913910160583938?l=stanley-o.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://stanley-o.blogspot.com/feeds/108913910160583938/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7551881&amp;postID=108913910160583938' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7551881/posts/default/108913910160583938'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7551881/posts/default/108913910160583938'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://stanley-o.blogspot.com/2004/07/tentang-aku-bahagiaku.html' title='tentang aku; bahagiaku'/><author><name>stanley-O</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13041152574806417870</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7551881.post-108913904388334806</id><published>2004-07-06T11:36:00.000-07:00</published><updated>2004-07-06T11:37:23.883-07:00</updated><title type='text'>tentang bahagia</title><content type='html'>Di luar hujan. Sudah sejak sore, sejak aku lelah, lalu tertidur, dengan perut yang setengah lapar-uang bulananku sudah tepar dalam perut dan semua hedonisme-berwujug atau tidak. Sampai sekarang hujan masih tidur dalam titik-titik air di atas dedaunan hijau kelam malam, tak nampak oleh mata. Hanya angin dingin yang semilir di kelam malam, dan waktu yang berdetik ke arah fajar hari baru-dengan penderitaan yang menanti. Mungkin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahagia, itu yang kuinginkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan beban, bukan penghianat, bukan tanpa tanggung jawab, bukan pengecut, bukan si mulut besar, bukan pecundang, bukan pembual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku masih tetap bermimpi, sampai pagi ini.&lt;br /&gt;Sampai saat ini jiwaku masihlah milik si pria yang hancur berkeping-keping. Tanpa cinta. Tanpa kepastian. Sedikit senyum penghibur dari lelucon miris yang sebenarnya tak begitu kuperlukan. Sebenarnya jiwaku kosong, aku tak tahu apa yang bisa mengisinya kembali, supaya jiwaku yang sempat tersenyum dengan tulus itu dapat lahir kembali, dapat terbit seiring dengan harapan manis yang kupunya akan hidup yang singkat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedih yang kurasakan, begini rasanya harus berdiri sendiri. Tanpa jiwa-jiwa lain yang merangkulmu saat bahteramu goyah akibat angin yang bertiup begitu kencang dan merusak haluan dengan badai yang tak kunjung berhenti. Tanpa jiwa-jiwa lain yang menemani perjalananmu yang panjang. Yang entah kapan akan selesai. &lt;br /&gt;Dulu kupikir bila saat seperti ini datang, menjelang, aku tak akan begitu tertekan, disakiti dan yang lain, sebab aku begitu menantikannya, keluar dari kungkungan yang mencekik kebebasanku, jiwaku yang berontak. Saat yang kunantikan agar aku dapat melihat langit biru luas itu dengan gembira, napas panjang, dan sayap-sayap yang ingin tumbuh dan terbang untuk menjelajahinya. Saat yang kunantikan bahwa dengan mataku aku dapat melihat cakrawala dan semua misteri yang ada, menjelajahi, menemukan pulau-pulau misteri, menjelajah malam-malam yang berbeda-semua kesedihan, kegembiraan Ilahi.&lt;br /&gt;Ini tak seperti yang pernah kuhayalkan, semuanya begitu berbeda. Dulu, aku tak mengijinkan kesedihan untuk ambil bagian dalam cerita hidupku. Aku begitu yakin semuanya akan baik-baik saja. Masih bersama Ibu yang kusayang, dengan kasih cintanya yang hangat dan tak berkesudahan.&lt;br /&gt;Seperti air yang membunuh dahagaku. Kemana itu semua. Jiwaku kering, meranggas. Rasanya ingin kubunuh semua yang membuat luka di jiwa, semua yang memainkan seruling sedih atas nama piluku, mempermainkan hatiku-mencabik cabik harga diriku, mencampakannya setelah puas. Hatiku bukan mainan tak berguna. Catat itu. Pikirkan.&lt;br /&gt;Enak saja kau mainkan.&lt;br /&gt;Ingin kubunuh semua yang mempermainkan hatiku. Supaya mereka berhenti mempermainkan hatiku. Kuhentikan aliran darah di tubuh mereka supaya mereka tahu itulah yang kurasakan saat mereka bermain dengan hatiku.&lt;br /&gt;Mereka bawa hatiku di atas angin, meniupnya dengan badai hitam dan jeritan setan dan kuku serta lengkingan kematian. Padahal rasanya bukan itu yang kudendangkan saat aku bersama mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kurasa karena mereka Cuma orang lain. Bukan orang yang begitu mengerti hatiku, jiwaku, cintaku. Mereka Cuma orang lain. Cuma sesaat mereka bisa menyanyikan sesuatu yang menenangkan hatiku, lalu mereka sibuk dengan cakrawala lain yang sangat susah kumasuki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langit menangis lagi. Awan hitam di sana-sini. Abu-abu, nyaris hitam, sesiang ini langit sudah bersedih. Terima kasih karena mau berbagi ini denganku wahai langit. Cakrawala. Ibu bumi. Tetes-tetes hujan seperti jarum yang turun bak kilat, tak secepat mata memandang kau bisa melihatnya. Seperti itulah kiranya sedih yang bermain dengan hatiku. Seperti jarum-jarum tajam, menusuk di sana-sini, tapi tak membuatku berdarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anjing.&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7551881-108913904388334806?l=stanley-o.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://stanley-o.blogspot.com/feeds/108913904388334806/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7551881&amp;postID=108913904388334806' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7551881/posts/default/108913904388334806'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7551881/posts/default/108913904388334806'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://stanley-o.blogspot.com/2004/07/tentang-bahagia.html' title='tentang bahagia'/><author><name>stanley-O</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13041152574806417870</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7551881.post-108913899007387361</id><published>2004-07-06T11:35:00.000-07:00</published><updated>2004-07-06T11:36:30.073-07:00</updated><title type='text'>tentang dahulu</title><content type='html'>Raga: &lt;br /&gt;Aku teringat masa kecilku, malam ini. Beberapa belas dan hampir dalam hitungan puluhan, yang kutahu hanya bahagia.masa depan yang sama sekali belum bermain dalam pikiranku. Aku sama sekali tidak memikirkan akan menjadi pria dewasa seperti apa aku nantinya, dan tak ada seorangpun yang mengatakan bahwa masa depan punya kisah sedih buat tiap orang yang berjalan ke sana. Tiap orang yang bertahan dalam derita. Retaknya hati, sedihnya jiwa yang dimiliki orang dewasa. Aku sama sekali tidak ingin masa depan, sebab tak satupun orang menceritakan padaku betapa sedih dan pilunya sebuah masa depan bagi seseorang.&lt;br /&gt;Masa kecil yang penuh dengan pelukan ibu dan kebijaksanaan ayah, saat semua begitu indah, saat aku masih begitu kecil, menjalani hidup tanpa beban, semua yang kuinginkan. Aku tidak membayangkan masa depan, yang penuh dengan duka-yang tak pernah kutahu. Dunia terus berputar, dan kita menjadi dewasa dan tua, harus meninggalkan keadaan saat kita sama sekali tak tersentuh oleh waktu yang membawa duka, saat kita masih bisa betul-betul merasakan ciuman angin lembut di antara pepohonan dan kenangan manis masa kecil-seperti susu coklat hangat di pagi yang dingin penuh kabut, dengan semua ingatan indah akan rumah, masa kecil, permainan, di tempat tidur bersama ibu dengan dongengan sebelum tidurnya yang tak habis dalam ratusan malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap saat aku memikirkannya. Masa kecilku yang terbang, hilang, dan pergi dengan cepat. Aku masih sangat memikirkannya, menginginkannya. Di antara malam aku ingin kembali ke sana, ke saat itu, saat semuanya tanpa beban, dan kasih ibu selalu seperti susu coklat hangat di pagi dingin penuh kabut yang selalu bisa kau minta. Aku ingin terus memeluk ibu, mengatakan betapa aku cinta padanya. Betapa aku bangga telah lahir dari rahimnya, dan menjadi aku yang sekarang ini-walau duka bertahta atas kesedihanku karena kepergiannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang kabut dingin tak lagi begitu bersahabat, karena tak ada kasih ibu yang hangat seperti susu coklat di pagi yang dingin. Tapi kenangan bahagia dalam andai ku yang sedih masih bermain dalam angan, dan aku menjadi jiwa yang berjalan di bawah matahari dengan hati yang retak dan pecahannya berhamburan ke seluruh penjuru bilik kesedihan, kesendirian, kesunyian, penantian, lamunan, perjalanan tak berakhir- semuanya karena aku tak bisa melihat masa depan, aku tak tahu duka apa yang menantiku-lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu terus berjalan, matahari masih bersinar, dan hujan masih tetap turun sore ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menjadi pria yang bahagianya retak dan sekarang tinggal bersama penantian akan kasih hangatku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku merasakannya lagi: angin dingin di antara pepohonan yang sejuk dan kenangan lembut itu, yang selalu menyiksa dan membuat aku terpuruk dalam duka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana aku harus mengumpulkan pecahan-pecahan itu dan meraih hidupku lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana aku harus menjadi pemenang, bukannya pecundang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku harus meraih pecahan-pecahan itu lagi, mencari mereka, mengumpulkan mereka, dan merekatkannya dengan bahagia-supaya aku dapat meraih hidupku lagi, satu yang sangat kuinginkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata si kelam, kata si bulan, kata Ibu, kata siapapun-pastinya aku setuju sekali, dan sejauh ini, itulah yang kuimpikan-menjadi bunga tidurku selama ratusan malam, mungkin ribuan.apa kah aku sudah setua itu? Apakah aku sudah lari dalam napas selama ribuan malam? Aku pasti sudah sangat tua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7551881-108913899007387361?l=stanley-o.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://stanley-o.blogspot.com/feeds/108913899007387361/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7551881&amp;postID=108913899007387361' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7551881/posts/default/108913899007387361'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7551881/posts/default/108913899007387361'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://stanley-o.blogspot.com/2004/07/tentang-dahulu.html' title='tentang dahulu'/><author><name>stanley-O</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13041152574806417870</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7551881.post-108913883992858778</id><published>2004-07-06T11:33:00.000-07:00</published><updated>2004-07-06T11:33:59.926-07:00</updated><title type='text'>tentang aku;saat itu</title><content type='html'>Akulah pria yang hancur berkeping-keping.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pecahan jiwaku yang rapuh tersapu di bawah jagad ini, dan aku tak tahu kemana saja mereka pergi. Aku harus menemukan mereka, agar raga ini bisa berpijak dengan kokoh di atas semesta. Jiwaku pecah berkeping-keping seiring dengan hilangnya cinta dan harapan dalam jiwaku, akan sesuatu yang indah, sesuatu yang baik, sesuatu yang damai, sesuatu yang hangat-seperti pelukan ibu saat senja yang dingin dan segelas susu hangat yang menemanimu mendengar ceritanya saat matamu hampir terlelap di atas ranjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jiwaku pecah berkeping-keping seiring dengan sadarnya rohku akan kesendirian ku melakukan pelayaran ini. Saudara-saudariku entah kemana. Tak ada yang ikut berlayar bersamaku dan menegakan sauh, mengibarkan layar, mengarahkan haluan. Saat badaipun aku sendirian. Pandangan tak seberapa membuatku terpaut antara hidup dan mati.&lt;br /&gt;Panas akan terasa panas, dan dingin akan menusuk tulangku-demikianlah adanya aku, setelah hancur berkeping-keping. Tak ada lagi keyakinan bahwa aku akan menemukan awak kapal agar aku sekiranya tak perlu berlayar sendirian, dan dengan luka yang menganga tak perlu kiranya aku bersedih. Aku berlayar di samudera jauh, hanya sesekali bertemu dengan pedagang di atas kapal dagangnya, jarang kutemui pulau yang bisa kujadikan tempat istirahat saat aku merasa lelah berlayar sendirian.&lt;br /&gt;Seringnya aku tidur dipayungi malam dan semesta yang luas tak berbatas, berpadu cinta antara biru dan hitamnya dunia dengan pijaran bintang-bintang yang mengintip di kejauhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku lah pria yang hancur berkeping-keping. Dalam mimpi aku sendiri. Mencari tambang untuk menambatkan kapalku, tapi tak kutemukan dan aku harus terus berlayar-mencari sebuah kepastian. Di antara gelombang laut, barisan ikan, karang, pasir yang mungkin dapat memberikan jawaban bagi jiwaku yang kosong dan meranggas.&lt;br /&gt;Bibirku mengering, tak dapat kutemukan sumber air yang mampu melegakan dahaga, tak ada gadis yang mencurahkan cintanya bagi sumur jiwaku yang mendambakan sentuhannya.aku harus terus berlayar, mencari musim semi yang mampu menyegarkan hidupku, memberi air bagi keringnya nuraniku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akulah pria yang hancur berkeping-keping. Aku masih berjalan di bawah panas, tanpa lindungan.mencari di mana aku bisa menemukan tempat berteduh, agar aku bisa beristirahat. Aku mencari kemana bunda pergi, hilang ditelan waktu dan raganya berhenti tak dapat kukejar. Cintanya masih berdegup, dan masih kupegang.&lt;br /&gt;Saat kudengar cinta dikatakan untukku, aku akan berhenti sesaat dan menangis, karena mungkin aku masih punya harapan untuk menemukan sauh supaya aku dapat mengistirahatkan letihnya jiwa ini, luka yang sudah menganga di tapak kakiku yang sudah mengeras. Mencairkan hatiku yang membatu dan mengakar dengan kebencian dan kesedihan. Begitulah hatiku. Mengering dalam sepi dan mati dalam sendiri. Tanpa kunjung melihat adanya harapan dan sinar cerah. Mungkin bukan tidak akan tapi belum, dan perahu masih harus berlayar sampai sebuah pulau yang bernama ‘penyembuhan’ menampakan wajahnya untuk fajar jiwa yang kering.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jiwa: Apa judulnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Raga: pria yang hancur berantakan…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jiwa: siapa si pria. Kamu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Raga: menurutmu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jiwa: ohh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pria yang hancur berkeping-keping, terikat dalam sedihnya malam, dan semua yang masih terjaga saat malam mencumbu langit biru dan kelam. Pria yang jatuh dari tingginya langit suram napasnya, dengan napas yang sesak menyanyikan kematian, sungai yang mengering, kesakitan, penantian, kesendirian, air mata, dan semua yang menarik jiwamu dengan luka yang meneteskan darah.&lt;br /&gt;Dalam jatuhnya ia hendak berteriak, tapi jiwanya sakit dan mulutnya tak dapat berkata-kata, ia tak ingin jatuh remuk di bawah sana. Jatuh remuk dan pecahannya akan hilang di bawa badai dari lautan yang tanpa ampun menghapus keberadaan dan ingatan semesta akan jiwanya yang sempat ada, dan tersiksa dalam sedih.&lt;br /&gt;Tubuhnya hampir tidak merasakan apa-apa. Dalam jatuh hanya angin yang menepis rambutnya, dan menambah pedih lukanya. Lukanya terus berdarah tapi juga berusaha untuk mengering. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan luka nya berteriak: &lt;br /&gt;Selamatkan dia! Selamatkan kami! adakah orang di atas sana yang mendengarkan kami?adakah orang di sekitar sini yang melihat dia jatuh ke jurang tanpa dasar yang akan mengikat jiwanya dengan ketiadaan? Lemparkan tali, terbanglah kemari, atau apa saja. Asal selamatkan kami. Selamatkan dia!&lt;br /&gt;Tapi dia terus jatuh, dan air matanya mulai terbawa angin. Tak terdengar apa-apa kecuali angin. Tak ada yang mendengar dia jatuh. Dia tak berteriak. Dia terus jatuh. Mungkin dia memang ingin jatuh ke bawah sana. Mungkin dia akan selamat. Tak ada yang tahu. Tapi ia memang terus jatuh.&lt;br /&gt;Pria itu tersenyum sesaat. Tapi air matanya terus mengalir. Aku tahu dia ingin beteriak, memanggil mereka untuk menyelamatkannya. Tapi mustahil ada orang yang mendengar di tempat itu. Mustahil bagi mereka untuk mendengar.&lt;br /&gt;Pria itu terus jatuh ke dasar jurang yang tak nampak. Angin membawanya dengan cepat ke bawah. Ke ujung yang gelap dan pasti menyakitkan dan penuh dengan tawa miris kematian di bawah sana, yang terus memanggil jiwa-jiwa sunyi untuk bergabung dengan mereka.&lt;br /&gt;Langit berubah menjadi ungu. Udara mulai sesak dan berbau racun. Ujung jurang itu mulai menebarkan aroma menyesakan dada yang tak seorangpun mau menghirupnya. Kegelapan mulai merayap di dinding-dinding jurang…..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jiwa: dia mati?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Raga: belum.dia belum mati.&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7551881-108913883992858778?l=stanley-o.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://stanley-o.blogspot.com/feeds/108913883992858778/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7551881&amp;postID=108913883992858778' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7551881/posts/default/108913883992858778'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7551881/posts/default/108913883992858778'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://stanley-o.blogspot.com/2004/07/tentang-akusaat-itu.html' title='tentang aku;saat itu'/><author><name>stanley-O</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13041152574806417870</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7551881.post-108913874647882060</id><published>2004-07-06T11:31:00.000-07:00</published><updated>2004-07-06T11:32:26.476-07:00</updated><title type='text'>tentang rindu</title><content type='html'>Jika waktu berhenti, maka dapat kulihat matanya yang teduh itu, tenggelam dalam tiap kedipan matanya, merasakan kembali hangatnya tatapan yang membuatku rindu akan hangatnya seduhan hangat cinta seorang wanita, yang dulu pernah kumiliki, kurasakan, lalu hilang. Memegang tangannya begitu lama. Merasakan hangatnya tangan yang ingin kupeluk dan menyampaikan getaran nadi lewat urat darahku yang juga merindukannya. Aku ingin dia tahu bahwa tiap nadiku merindukan dia. Aku tak perlu banyak bicara, aku ingin dia tahu. Aku ingin dia tahu, aku masih di sini.&lt;br /&gt;Mungkin aku tak bisa menjadi yang dia inginkan, tapi aku menjadi air yang mengalir di samudera selamanya. Untuk dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi aku tak bisa menghentikan waktu. Semesta tidak tunduk padaku. Dan tak pernah akan. Aku hanya tahu aku punya potongan jiwa yang sudah retak berkeping-keping, kucoba untuk mengumpulkannya kembali. Dan bayangan wajahnya ada di salah satu keping yang retak itu. Sesaat pun berlalu, dan dia harus pergi. Kuharapkan untuk kembali, nanti. Dan kuharap aku masih bisa melihat keping yang memantulkan wajahnya itu bersinar untukku.&lt;br /&gt;Aku harus mencari perekat yang begitu kuat, agar semua kepingan itu bisa bersatu lagi. Supaya aku tahu, tak ada satupun di dunia ini yang bisa mencegahku untuk mengulang saat itu. Saat aku bersamanya, saat aku katakan  padanya betapa aku merindukannya. Ia dan jiwanya. Ia dan tatapan matanya. Ia dan semesta yang bersamanya saat itu. Ia dan seluruh getaran akan dia yang bisa kurasakan saat merain tangannya, dan merengkuhnya dalam kerinduanku akan dia.&lt;br /&gt;Aku dan semestaku yang begitu menginginkannya. Aku dan jiwaku.&lt;br /&gt;Malam sudah lewat, dan pagi menjelang. Seperti biasa, aku terjaga, dengan semua yang masih terjaga pagi ini. Semua yang belum mampu memejamkan mata dan menjenguk mimpi. Semua yang merasakan panas di pagi buta yang dingin. Semua yang tak bias menemukan ketenangan saat jiwa lain terlelap. Pagi saat semua menutup selimut dan bertamu ke alam impian, aku menemukan diriku yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7551881-108913874647882060?l=stanley-o.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://stanley-o.blogspot.com/feeds/108913874647882060/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7551881&amp;postID=108913874647882060' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7551881/posts/default/108913874647882060'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7551881/posts/default/108913874647882060'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://stanley-o.blogspot.com/2004/07/tentang-rindu.html' title='tentang rindu'/><author><name>stanley-O</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13041152574806417870</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7551881.post-108913817281591722</id><published>2004-07-06T11:22:00.000-07:00</published><updated>2004-07-06T11:22:52.816-07:00</updated><title type='text'>tentang rindu</title><content type='html'>Jika waktu berhenti, maka dapat kulihat matanya yang teduh itu, tenggelam dalam tiap kedipan matanya, merasakan kembali hangatnya tatapan yang membuatku rindu akan hangatnya seduhan hangat cinta seorang wanita, yang dulu pernah kumiliki, kurasakan, lalu hilang. Memegang tangannya begitu lama. Merasakan hangatnya tangan yang ingin kupeluk dan menyampaikan getaran nadi lewat urat darahku yang juga merindukannya. Aku ingin dia tahu bahwa tiap nadiku merindukan dia. Aku tak perlu banyak bicara, aku ingin dia tahu. Aku ingin dia tahu, aku masih di sini.&lt;br /&gt;Mungkin aku tak bisa menjadi yang dia inginkan, tapi aku menjadi air yang mengalir di samudera selamanya. Untuk dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi aku tak bisa menghentikan waktu. Semesta tidak tunduk padaku. Dan tak pernah akan. Aku hanya tahu aku punya potongan jiwa yang sudah retak berkeping-keping, kucoba untuk mengumpulkannya kembali. Dan bayangan wajahnya ada di salah satu keping yang retak itu. Sesaat pun berlalu, dan dia harus pergi. Kuharapkan untuk kembali, nanti. Dan kuharap aku masih bisa melihat keping yang memantulkan wajahnya itu bersinar untukku.&lt;br /&gt;Aku harus mencari perekat yang begitu kuat, agar semua kepingan itu bisa bersatu lagi. Supaya aku tahu, tak ada satupun di dunia ini yang bisa mencegahku untuk mengulang saat itu. Saat aku bersamanya, saat aku katakan  padanya betapa aku merindukannya. Ia dan jiwanya. Ia dan tatapan matanya. Ia dan semesta yang bersamanya saat itu. Ia dan seluruh getaran akan dia yang bisa kurasakan saat merain tangannya, dan merengkuhnya dalam kerinduanku akan dia.&lt;br /&gt;Aku dan semestaku yang begitu menginginkannya. Aku dan jiwaku.&lt;br /&gt;Malam sudah lewat, dan pagi menjelang. Seperti biasa, aku terjaga, dengan semua yang masih terjaga pagi ini. Semua yang belum mampu memejamkan mata dan menjenguk mimpi. Semua yang merasakan panas di pagi buta yang dingin. Semua yang tak bias menemukan ketenangan saat jiwa lain terlelap. Pagi saat semua menutup selimut dan bertamu ke alam impian, aku menemukan diriku yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7551881-108913817281591722?l=stanley-o.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://stanley-o.blogspot.com/feeds/108913817281591722/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7551881&amp;postID=108913817281591722' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7551881/posts/default/108913817281591722'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7551881/posts/default/108913817281591722'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://stanley-o.blogspot.com/2004/07/tentang-rindu_06.html' title='tentang rindu'/><author><name>stanley-O</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13041152574806417870</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7551881.post-108913810006779179</id><published>2004-07-06T11:20:00.000-07:00</published><updated>2004-07-06T11:21:40.066-07:00</updated><title type='text'>tentang berlayar</title><content type='html'>Lalu aku pergi ke sebuah pulau, jauh dari tempat ini. Terpisah oleh lautan. Dan aku terpaksa menyeberang. Aku masih mencoba mencari musim semi lain. Berusaha menemukan cinta yang tak kudapat dari negeri jauh itu, musim semi yang sempat kulihat di hutan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun itu aku adalah pelaut yang mencari cinta di tiap benua, gugusan, pulau yang kukunjungi. Mencari musim semi lain yang mengundang jiwa ku yang mengering dimakan waktu oleh kesepian dan kesendirian. Mengobati luka yang pernah ada, membungkusnya dengan ramuan yang mungkin akan kutemukan di petualangan-petualangan baru. Dunia lain yang belum pernah disentuh manusia, pulau-pulau misteri yang penuh keajaiban dan keindahan. Mungkin jiwaku akan menemukan cinta di sana. Mendengarkan suara laut yang penuh dengan kerinduan, selalu memanggilku ke dalam pelukannya. Berlayar dengan bahtera yang kubangun dari anganku untuk menemukan belahan lain jiwa ini, entah di mana, entah kapan, aku percaya waktu ku masih panjang. Mendengarkan suara samudera yang tertawa dengan gagah di tiap gelombang yang ia hentakan untuk membawa bahteraku ke pulau lain yang penuh dengan keindahan.&lt;br /&gt;Mungkin di sana akan kutemukan cinta itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta yang akan kupegang selamanya. Musim semi lain yang kunantikan. Saat gadis-gadis keluar untuk menuai anggur manis bagi para pria yang kehausan akan keindahan dan kegadisan mereka. Cinta yang akan kupandang jauh ke dalam matanya, mengetahui, menyadari cintanya yang dalam seperti samudera, samudera yang kuarungi hanya untuk menemukannya dan menyampaikan padanya betapa sepinya jiwaku sebelum bertemu dirinya. Cinta yang akan kupegang selamanya, hari-hari dalam hidupku, senja hari-hariku, kering dan meranggasnya umurku, bahagia dan lara yang kan kujalani bersamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku masih bertualang, mencari dia, cinta, yang sampai saat ini entah seperti apa wujudnya, keindahannya. Apakah dia seperti samudera biru yang penuh dengan misteri dan menyimpan wangi dewa laut di tubuhnya. Apakah dia puteri birunya langit malam yang selalu berbisik padaku saat aku terjaga, menggodaku dengan bisikan angin dingin malam, mengingatkanku akan masa kecil yang tak bisa lagi kuraih, misteri hidup yang luas dan tak terbendung seperti jagat tempat puteri langit itu lahir.apakah dia puteri raja hutan, pecinta indahnya sungai, padang rumput, dan hewan yang memuja-muji namanya di rerimbunan hijaunya hutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku masih tak tahu seperti apa wajahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelayaranku masih panjang. Kapalku masih harus bertahan entah sampai kapan. Dan aku hanya hidup dari lirik-lirik tentang patah hati, pecundang cinta-barangkali, mencoba mencari cinta yang merobek hatinya, menjahit kembali kain tua yang telah robek berkali-kali, mencari pecahan hidup yang hilang.bajuku masih harus kupakai hingga kutemukan pulau berikutnya. Mungkin di sana aku akan menemukan cinta.&lt;br /&gt;Mencari di antara kerumunan, teriakan, sesaknya. Hidup. Mencari di antara semua itu, hanya untuk menemukan seseorang, yang juga mencintaiku. Cinta yang akan kupeluk di hari tuaku. Memandang senja bersama. Melihat gelombang lautan yang telah mengantarkanku untuk bertemu dengannya.&lt;br /&gt;Membiarkannya melihat wajahku, menyentuh semua rambut, cambang, janggut yang tumbuh selama aku mengarungi lautan untuk menemukan dia. Dia yang kucinta. Menemukan dia yang kucinta tanpa harus bertanya kenapa aku mencintainya. Karena itulah cinta. Dan aku tidak akan pernah berusaha menjelaskannya padanya, pada cintaku. Aku tak akan menjelaskan padanya knapa aku bisa mencintainya. Biarkanlah seperti itu. Tak lebih dan tak kurang. Biarkanlah ia gelap, menyimpan jutaan misteri, seperti malam, semesta dan lautan. Membayangkan hari tua yang akan kujalani bersamanya. Menceritakan pada anak-anakku betapa susah aku menemukan Ibu mereka. Betapa aku berteriak pada dunia untuk segera menemukanku dengan dia, betapa hatiku sunyi tanpanya.&lt;br /&gt;Dan aku akan selalu mencintainya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan sekarang aku masih berlayar, karena aku masih belum menemukannya. Kurasa aku masih bisa bersabar. Menunggu dan menunggu. Membiarkan janggutku tumbuh lebih panjang lagi, membiarkan mataku lelah, waktu memakan tubuhku. Kurasa aku masih bisa bersabar.mengarahkan bahteraku ke arah lain, ke samudera lain yang belum pernah kulalui, mungkin di sana akan aku temukan pulau yang penuh dengan gadis yang menanti pria untuk meminangnya.mungkin di sana akan aku temukan cinta.mungkin di sana musim semi akan menaburkan wanginya kembali.&lt;br /&gt;Kurasa aku masih bisa bertahan akan luka-luka lain yang mungkin akan kujumpai dalam pelayaranku. Mereka tak seberapa karena aku berlayar untuk mencari dan menemukan harta yang tak sebanding nilainya, dibandingkan dengan luka-luka yang kuperoleh.&lt;br /&gt;Kurasa aku akan meminta dewa-dewa dan penjaga semesta untuk meminjamkan kekuatannya agar bahteraku juga bisa mencumbu awan, melalui langit biru. Mungkin di atas sana aku bisa menemukan cintaku. Mungkin dia juga sedang menantikanku untuk menjemputnya, dan aku tak kunjung datang. Mungkin kami merasakan hal yang sama. Saling menanti dan tersiksa dalam penantian karena kami tak kunjung bertemu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kurasa aku masih bisa menjaga cinta ini agar terus menyala hingga kutemukan dia di antara rerimbunan semesta, yang aku tahu telah menyembunyikan dia daripadaku.&lt;br /&gt;Aku masih bisa tersenyum pada matahari baru yang akan kulihat nanti, saat aku menjelang hari di pelayaranku yang belum terhenti.&lt;br /&gt;Aku bertemu dengannya. Kembali. Setelah banyak purnama aku merindukannya. Menanti kabar darinya. Banyak purnama aku habiskan merindukan sinar matanya yang teduh dan tutur katanya yang santun, tawanya yang menghidupkan jiwa sayu milikku. Yang tanpa kutahu ternyata telah mati untuk cukup lama. Dan ia ingin bangkit kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku bertemu dengannya, kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puteri dari selatan yang tinggal di pesisir pantai salah satu pulau yang pernah kukunjungi. Dari wangi badannya kau bisa tahu ia tinggal di dekat laut. Saat ia berlalu di dekatmu, aroma angin yang berhembus di samudera menjadi wangi tubuhnya. Wangi yang selalu membuatmu rindu akan dia. Rindu untuk memandang kedua matanya, yang memandnagmu dengan cinta. Dan jiwamu tak akan berdetak seperti biasanya.&lt;br /&gt;Saat ia berdiri di dekatmu, maka kau bisa mendengar desir gelombang lautan dari indah rambutnya yang panjang bak dirajut malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kukatakan bahwa aku rindu padanya. Ia hanya tersenyum. Hanya itu yang bisa kukatakan. Hanya itu yang bisa kusampaikan. Sebenarnya banyak yang ingin kukatakan. Tapi jiwa ini diikat keraguan, ketidakpastian, kebutaan akan indah senyum, halus tutur kata, dan tatapan matanya padaku saat itu. &lt;br /&gt;Ingin kupegang tangannya, menghentikan waktu, dan mengatakan padanya bahwa ini adalah saat yang sangat kurindukan. Saat untuk bersamanya. Jika saja saat ini adalah untuk selamanya, maka akan kuminta semesta untuk berhenti berputar saat itu. Membiarkan dia hanya untukku. Hanya untukku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7551881-108913810006779179?l=stanley-o.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://stanley-o.blogspot.com/feeds/108913810006779179/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7551881&amp;postID=108913810006779179' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7551881/posts/default/108913810006779179'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7551881/posts/default/108913810006779179'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://stanley-o.blogspot.com/2004/07/tentang-berlayar.html' title='tentang berlayar'/><author><name>stanley-O</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13041152574806417870</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7551881.post-108913799590830869</id><published>2004-07-06T11:19:00.000-07:00</published><updated>2004-07-06T11:19:55.906-07:00</updated><title type='text'>tentang gadis musim semi</title><content type='html'>Dahulu, sempat terbuka hati ini untuk seorang gadis yang kunamakan musim semi. Sebab dari matanya kulihat kebangkitan, keindahan, keteduhan untuk jiwaku yang meranggas karena sunyi. Dari tubuhnya tersibak wangi melati untuk dahaga yang kusimpan di jiwaku yang sepi. Dia seperti air yang mengalir di sungai rahasia itu. Dari jauh aku ingin berlari menghampirinya, haus ku yang mendesak membuatku ingin segera meminumnya, merasakan betapa segarnya cinta yang akan ia berikan, curahkan untuk jiwa kosong yang menari di bawah matahari jagad ini.&lt;br /&gt;Aku bukan pecinta ulung, romansa sejati, sang Don Juan, aku tak pandai merayu wanita. Tampang, perawakanku, bukan tampang pria pecinta yang diinginkan oleh banyak gadis yang mendambakan pangeran tampan berkuda putih menyelamatkan mereka dari mahluk buruk rupa yang menawan mereka selama ratusan purnama dan menjaga mereka dengan naga yang mampu menyemburkan api tiap kali ada yang mencoba menyelamatkan mereka dari puri siksaan itu. Aku hanya ada di pihak yang mampu mendambakan satu, serpihan cinta itu untuk jiwaku. Aku hanya mengamati beberapa cinta tumbuh di sekitarku tanpa mampu menjadi bagian dari salah satunya. Ataupun mencoba hidup di salah satunya. Aku tak punya apa-apa atas nama cinta untuk diberikan. Aku terlalu banyak bermimpi akan gadis yang akan mencintaiku itu. Terlalu banyak berharap. Terlalu banyak bermimpi. Semuanya Cuma angan. &lt;br /&gt;Waktu berlalu dan aku tak mampu menjangkaunya. Aku pernah mencoba mengeluarkannya dari puri itu, mengeluarkannya dari penjara mahluk buruk rupa. Kubunuh naga api itu. Tanpa terluka sedikitpun. Dengan semangat akan musim semi yang terus ia pancarkan untuk jiwaku yang sangat mendambakannya aku berlari menuju penjara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi ia tak mau kuselamatkan. Aku bukan pangeran yang ia nantikan. Dia menantikan penyelamat berkuda putih; pangeran tampan yang membunuh naga api dengan gagah. Melawan penyihir jahat sehingga kutukan akan hilang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak tahu semua itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku datang untuk menyelamatkannya. Aku datang tanpa apa-apa. Mencoba menyelamatkannya. Mengeluarkannya dari puri yang mengekang, mengurungnya selama ratusan malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia katakan ia akan menunggu pangeran lain yang dikirim ayahnya untuk menyelamatkannya. Saat itu, hilanglah wangi musim semi dari tubuhnya. Ia menjadi gadis yang tak pernah kulihat sebelumnya. Bukan gadis yang dulu sempat kulihat bergaun putih berlari menembus hutan di pagi hari, membawa anyelir dan meminum air di sungai itu. Aku melihatnya dari jauh. Dan aku jatuh cinta padanya. Aku menginginkan damai yang membawa aku tenggelam dalam tatapannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku pergi dari istana itu, meninggalkannya sendirian di sana. Membiarkan ia menunggu pangerannya. Kudaku sudah sekarat, ia tak mampu berjalan. Kutinggalkan dia untuk beristirahat, dan aku berjalan menuju rumahku. Mengutuk diri karena sudah dengan berani melakukan hal itu. Menyelamatkannya adalah sia-sia. Mungkin tidak sia-sia, setidaknya aku tahu bahwa musim semi itu indah.&lt;br /&gt;Tak lama, aku dengar ia menikah dengan pangeran tampan berkuda putih yang menyelamatkannya dari istana itu. Seluruh negeri berbahagia dengan pernikahan mereka. Sementara aku sudah jauh dari negeri itu. Mungkin dia bukan musim semi yang pernah kuimpikan, mungkin dia bukan gadis berbaju putih yang kulihat di hutan itu.mungkin aku masih harus mengembara jauh lagi, sampai aku bertemu dengan musim semi negeri lain. Mungkin di sana aku akan menemukan cintaku. Bagian dari cintaku yang sekarang berjalan separuh nyawa ini. Menantikan bagian lain untuk datang, memeluknya dan membunuh sunyi bersama.&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7551881-108913799590830869?l=stanley-o.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://stanley-o.blogspot.com/feeds/108913799590830869/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7551881&amp;postID=108913799590830869' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7551881/posts/default/108913799590830869'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7551881/posts/default/108913799590830869'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://stanley-o.blogspot.com/2004/07/tentang-gadis-musim-semi.html' title='tentang gadis musim semi'/><author><name>stanley-O</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13041152574806417870</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7551881.post-108913787906442255</id><published>2004-07-06T11:17:00.000-07:00</published><updated>2004-07-06T11:17:59.066-07:00</updated><title type='text'>tentang sepi</title><content type='html'>Kau begitu rindu akan dia. Jangan kau membayangkan masa nanti yang suram, kau belum menjalaninya. Kau takut tidak bisa memilikinya. Kau tidak ingin sedih menyiksamu lagi dan kau ingin gadis itu menemanimu menyanyikan lagu bahagia kalian, dan kau harapkan dia akan mengajakmu bermain ke hutan rahasia miliknya itu.&lt;br /&gt;Hatimu remuk saat kau tidak tahu di mana dia berada. Saat dia tidak tahu bahwa kau memikirkan dia tiap saat, merindukan dia, dan wangi tubuhnya yang disibak sang angin dan betapa kau ingin tertidur di tubuhnya yang diukir oleh keindahan Ibu bumi ini.&lt;br /&gt;Apakah kau pikir ini sudah saatnya bagi kita mengakhiri angan akan dia, karena kau terus berangan, kau tidak ingin sakit lagi. Terluka lagi. Terpuruk dalam kedukaan yang menyiksa dan mengerat kesadaranmu, menyiksaku karena aku tak mampu berbuat apapun untuk menyelamatkanmu dan kesadaranku yang terus tersiksa tiap kali kau menatap angin, malam, gelap, dan sunyi yang kosong. Kau tahu mereka tak punya jawaban akan kesedihanmu. Kau hanya melihat sebuah kesedihan lain yang kau sendiri tahu sudah tak mampu kau raih, kau sentuh, dan kau bawa kembali dalam peluk sang waktu.&lt;br /&gt;Tahukah kau. Saat-saat itu, saat kau tertegun dengan sedih dan lara yang tertawa di matamu, aku lebih memilih duduk jauh darimu, sebab aku takut akan sepi dan gelap yang terus menyiksamu, memaksamu untuk lebih tenggelam dalam sedihmu.mereka seperti racun yang menuangkan gelas-gelas berisi anggur terbaik dari gelapnya malam, yang penuh dengan sunyi, siksaan, dingin, tanpa akhir. Pada saat yang bersamaan dengan pesta yang kalian adakan mereka tertawa atas laramu. Kau tidak tahu? Jelaslah. Kau sangat mabuk dengan anggur-anggur malammu. Mereka mencegahku untuk menyadarkanmu. Membawamu kembali ke kesadaranmu. Membuka pintu agar aku bisa masuk dan menyadarkanmu betapa mereka sangat keji dengan rencana busuk yang sudah sering mereka lakukan padamu. Mereka menyiksamu selama ratusan malam tanpa kau tahu. Siksaan yang panjang, dingin, dan melelahkan.seperti pisau tajam yang merobek perutmu dan membawa lari semua bahagia yang pernah kau kumpul dan hidup akan itu.&lt;br /&gt;Ragaku, tidakkah kau tahu. Malam penuh dengan rahasia dan dalamnya tak tersentuh oleh sang waktu. Mahluk-mahluk jahat dan mengerikan yang tak terbayangkan oleh bumi pernah bangkit dari gelapnya malam dan membawa manusia ke dalamnya dan menyiksa mereka seperti yang mereka lakukan padamu. Dan aku yakin mereka masih bertahta dengan semua kesesakan yang mereka punya. Maka hati-hatilah saat malam menjelang. Sebab dari segala arah, bau mereka dapat kau cium dengan jelas. Aroma kesedihan, kesunyian, dingin yang tak terperikan, tajam menusuk, merobek, dan kemudian berpesta akan sedih yang menetes dari lukamu.jangan bermain-main dengan malam wahai ragaku. Mereka bak perompak yang mengambil semua harta kebahagiaan hidup yang pernah kau kumpulkan untuk mengarungi hidup ini dalam sekejap. Sesaat semua hilang. Dan kau mereka tinggalkan dengan kehampaan. Kesedihan yang semakin dalam.&lt;br /&gt;Jangan pernah kembali meraih tangan-tangan sunyi mereka. Mereka akan membawamu ke tempat yang tak bisa kujamah. Tempat yang tanpa kau tahu merenggut semua hasratmu untuk bisa melihat hari nanti dan tersenyum atas semua laramu.&lt;br /&gt;Sisakan kesadaranmu agar masih bisa nanti kuselamatkan kau dari hasutan mereka yang menyakitkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka bukan teman. Kau mencari teman untuk bisa tertawa bersama. Mengisi hampa yang dikorek dan dirobek oleh duka, dan masa lalu yang bahagia tapi terbakar oleh sedih.aku turut bersedih untukmu. Aku mengerti yang kau rasakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih baik kau tidur. Meski kau sendiri dalam mimpimu, aku masih bisa menyelamatkanmu. Sebab kau tak tersentuh oleh malam, dan gelap. Kau masih bisa meriah masa lalu untuk sesaat dan mengingat semua itu. Bahagia yang pernah kau lukis dalam hidupmu.foto itu yang selalu kau lihat.lihatlah lagi, asal saja kau tidak bermain dengan sang malam.bemainlah dengan masa lalu. Bermainlah ke dalam hutan rahasia bersama si gadis. Bermainlah dengan anak-anak dalam dirimu yang masih ingin bercanda dan tertawa bersamamu dalam hidup.tiuplah suling bahagia mu, dan ajaklah angin mendendangkan lagu yang serupa. Supaya dia tahu kau kesepian dan ingin bernyanyi bersama dengannya. Ajaklah ia bermain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7551881-108913787906442255?l=stanley-o.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://stanley-o.blogspot.com/feeds/108913787906442255/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7551881&amp;postID=108913787906442255' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7551881/posts/default/108913787906442255'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7551881/posts/default/108913787906442255'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://stanley-o.blogspot.com/2004/07/tentang-sepi_108913787906442255.html' title='tentang sepi'/><author><name>stanley-O</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13041152574806417870</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7551881.post-108913763758941695</id><published>2004-07-06T11:13:00.000-07:00</published><updated>2004-07-06T11:13:57.590-07:00</updated><title type='text'>tentang dia</title><content type='html'>Jiwa:&lt;br /&gt;Apa yang ingin kau katakan padaku sekarang ragaku? Kemana sedihmu kau simpan? sudahkah ia pergi?sudahkah kau mengerti mengapa hanya sebagian rohmu yang bersukacita sementara rohmu yang lain dirundung kedukaan tanpa mengerti kenapa ia harus berduka sebab sebagian dirinya masih bisa tersenyum.&lt;br /&gt;Aku rasa kau masih tak mengerti.&lt;br /&gt;Katakan padaku rundung dukamu wahai ragaku, sebab aku tak dapat hidup tanpamu, dan kau tak bisa berjalan di jagad ini tanpa aku.&lt;br /&gt;Kau rindu akan seseorang? Siapa dia, tahukah aku akan dia? Mengertikah aku akan lukisan senyumnya sampai kau teringat akan dia saat ini.indahkah matanya sampai kau tertegun dalam ingatan untuk menggambar wajahnya untukku?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ahhh.&lt;br /&gt;Aku tahu dia. Dia sangat cantik. Begitu rupawan. Matanya yang teduh menghembuskan angin sejuk bagi gundahnya hatimu, aku tahu itu, sebab tiap saat kau dipeluk oleh sunyi kau mencari dan berusaha memeluknya dalam tawamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang kau jarang tertawa. Ada apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu rupawan. Rambutnya tergerai panjang layaknya selimut yang dibentangkan oleh malam di atas jagad. Rambutnya seperti candu untuk laramu. Kau ingin memeluknya, memilikinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia seperti racun dan candu di saat bersamaan.tapi kau tetap rindu akan dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Raganya yang tidak sombong dan berperilaku, panas mataharipun tak sanggup menyentuhnya. Wajahnya tersiram oleh madu yang tak tampak, dan kemanisannya semerbak di udara yang kau napaskan. Akupun merasa manisnya jiwa yang kau rindukan ini.kemana dia saat ini? Biasanya kau selalu ingin bersamanya…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau tidak tahu? Tidak mengerti? Tidak berusaha tahu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah dia sedang bermain di hutan yang tak tampak, hutan yang tidak ada di dunia ini. Mengejar angin dan awan yang tertidur di bawah hangat matahari. Memetik bunga di hutan seribu tahun dan mengajak kelinci meniup daun dan memanggil angin agar ia bertiup sesaat supaya mereka tak begitu panas.apakah ia bermain di tepian sungai dan memasukan tangannya ke dalam untuk menyapa ikan-ikan yang tertegun pula oleh kemolekan raganya.&lt;br /&gt;Ia bermain ke dalam hutan. Berlari di antara batang-batang pohon yang besar, yang mencoba menangkap aroma tubuhnya yang mengikuti lari raganya di antara pohon, daun, lumut, rumput, angin, hewan-hewan di bawah, di atas, yang kelihatan, yang tidak kelihatan di hutan rahasia itu.hutan itu begitu sepi, hati-hati bermain di dalamnya. Kau bisa tersesat. Kau belum pernah ke situ. Dia bisa membuatmu tersesat. Dia begitu mengenal hutan itu. Dia sudah sering bermain di hutan itu. Lihat saja, ia berlari seperti angin, tanpa keraguan kemana ia akan melangkah, bahkan ia tak pernah jatuh.kabut tak bisa menghentikan larinya untuk masuk ke dalam hutan, ke dalam, bagian yang sangat jauh dari tapak kakimu sekarang ragaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wanita yang berani katamu? Aku tak bisa berkata apa-apa. Aku tak punya nilai dan selera soal wanita. Aku hanya melihat dunia ini lewat mata dan rongga matamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebentar lagi gelap, dan suara seruling angin sudah tak kudengar. Dia harus pulang. Gadis itu harus pulang jika ia tidak ingin tersesat dan dipeluk oleh kegelapan yang mengerikan.&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7551881-108913763758941695?l=stanley-o.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://stanley-o.blogspot.com/feeds/108913763758941695/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7551881&amp;postID=108913763758941695' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7551881/posts/default/108913763758941695'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7551881/posts/default/108913763758941695'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://stanley-o.blogspot.com/2004/07/tentang-dia.html' title='tentang dia'/><author><name>stanley-O</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13041152574806417870</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7551881.post-108913755441101128</id><published>2004-07-06T11:08:00.000-07:00</published><updated>2004-07-06T11:12:34.440-07:00</updated><title type='text'>tentang bunda</title><content type='html'>Foto itu seperti lembaran kusam yang tak mau robek dan hangus dimakan waktu, seperti cintanya yang begitu abadi pada kalian, cintamu akan dia tumbuh kembali saat kau bertemu dan menatap foto itu.&lt;br /&gt;Perjuangan yang tertanam di hatimu mulai kurasakan, kau ingin membahagiakan mereka. Untung saja cinta dan kasih itu tak termakan oleh sang waktu, dia tidak akan berkarat dan menjadi kusam. Entah kenapa, saat ini kurasakan kau ingin menangis, tertawa, tersenyum, berteriak, kecewa pada saat yang bersamaan. Bagimu ia seperti baru mengatakan selamat tinggal kemarin, padahal kalian tumbuh besar dalam kesedihan mendalam akan kepergian dia yang begitu cepat.&lt;br /&gt;Scenario hidup yang tanpa kasihan. Sahabatku, kau harus tabah, aku tahu banyak yang kau inginkan, harapkan, cita-citakan, dan kamu begitu tegar-aku tahu itu, tak banyak yang punya jiwa sepertimu-tersenyumlah menatap angin. Dia boleh pergi, dan kita akan sangat kehilangan dia, tapi dia pasti tahu di sini kalian sangat merindukan dia, bertanya-tanya kenapa dia harus pergi-diambil dan menyisakan sedih dan luka menganga yang tak bisa disembuhkan. Jiwa kalian seperti diikat dengan benang darah satu sama lain, dan satu akan mati jika jalinan itu putus.&lt;br /&gt;Sahabatku, aku tahu dia juga menangis untuk kalian, menangis karena harus pamit dahulu dari halaman hidup yang indah itu, meninggalkan bagiannya kosong, dan perannya tak tergantikan, walaupun hidup berkata lain.&lt;br /&gt;Dia sudah tak tersentuh oleh air mata dan tawamu, kita tak tahu di mana ia tinggal sekarang, walau akupun yakin dia bahagia di sana.&lt;br /&gt;Seperti burung api, selalu ada semangat baru yang lahir dari kehancuran, kurasa hidup itu harus seperti itu. Kesedihan kalian akan dia sangat bisa kumengerti.dan aku tahu saat kalian menceritakan ini pada dunia, mungkin dunia akan bersedih untuk kalian.&lt;br /&gt;Sahabat, kamu masih punya mereka, yang kamu cintai, walau kadang semua tak bisa dijelaskan.aku rasa kamu harus berjuang untuk mereka, jangan lupakan mereka sesaatpun.karena aku sadar, semangat hidupmu muncul saat kau melihat betapa sedih kalian saat itu.saat dia berpamitan untuk tak kembali, dan memilih jalan yang tak bisa kalian ikuti dan sentuh.&lt;br /&gt;Sekarang tutup matamu, dan tidurlah. Kamu sudah begitu lelah.&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7551881-108913755441101128?l=stanley-o.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://stanley-o.blogspot.com/feeds/108913755441101128/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7551881&amp;postID=108913755441101128' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7551881/posts/default/108913755441101128'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7551881/posts/default/108913755441101128'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://stanley-o.blogspot.com/2004/07/tentang-bunda.html' title='tentang bunda'/><author><name>stanley-O</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13041152574806417870</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7551881.post-108913716171175476</id><published>2004-07-06T11:05:00.000-07:00</published><updated>2004-07-06T11:06:01.710-07:00</updated><title type='text'>tentang sepi</title><content type='html'>Jiwa:&lt;br /&gt;Hari baru dan masih banyak, mungkin, kedukaan yang menari di hatimu?kamu tidak tahu?kalau begitu, mungkin benar yang orang itu katakan, jangan berkoar akan kedukaan yang sebenarnya biasa saja-masih banyak orang yang lebih menderita dari kamu.&lt;br /&gt;Kejam ya?masakan orang tidak bisa protes karena kedukaan yang mereka rasakan?aku rasa dia harus berpikir lebih dari 2 kali untk mengatakan itu padamu, aku tahu kamu-aku tinggal di dalammu, dia tidak, jadi dia tidak berhak mengatakan apa-apa-dia tidak tahu sedih yang kau rasakan. Sebenarnya dia harus membiarkanmu merasakan hal itu, tapi sepertinya dia terganggu sampai dia mengatakannya.&lt;br /&gt;Aku tahu kamu sangat menyayanginya, kamu bahkan mau berbuat apa saja untuk dia, hubungan yang aneh. Dan sebagai bagian tak terpisahkan dari mu aku juga sebenarnya tak mengerti kenapa kau sampai begitu sayang padanya.&lt;br /&gt;Dia bisa mengatakan bahwa dia juga punya pedih, tapi mungkin dia tidak bisa merasakan tidak benar-benar punya tempat untuk pulang, ketika semuanya terasa asing dan dia tidak tahu hidup seperti apa yang dia harus jalani, saat hidup hanya menjadi sebuah rutinitas mati yang mengubur jiwamu yang ingin beriak seperti air yang gembira dicium oleh angin dari timur.&lt;br /&gt;Jujur saja, aku juga sedih, kenapa kau sampai merasa tidak punya tempat untuk pulang, kamu punya rumah untuk pulang kan?kenapa kau merasa rumah itu tidak ada, tidak kau miliki?kau merasakan bahwa sebenarnya apa yang kau miliki sekarang bukan kepunyaanmu?kau merasa seperti tinggal di rumah sewaan?&lt;br /&gt;Mungkin aku ini jiwa yang bodoh, maaf  aku tidak bisa berbuat banyak atas beban yang kau rasakan. Kamu tau menarik nafas saja aku tidak bisa, itu hanya kamu yang bisa melakukannya. Menarik nafas, ya benar, menarik nafas, mungkin itu bisa sedikit membantu…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cuma sesaat? beban itu tidak hilang?tapi kan setidaknya kamu bisa lega untuk sejenak?kamu tidak bisa melupakannya.kamu ingin melupakannya tapi tidak bisa.aku dengar banyak orang yang bilang bahwa kau terlalu banyak berpikir-kenapa?&lt;br /&gt;Aku tahu bahwa kamu penasaran sekali kenapa beberapa raga lain yang hidup bersamamu mampu menari dengan santai di bawah matahari, kamu penasaran kenapa begitu banyak beban yang kamu pikirkan.&lt;br /&gt;Aku masih ingat hari-hari saat kau banyak berlari di bawah matahari dan memutuskan untuk menantang angin, dan menemukan sesuatu dari balik hembusannya yang kencang, menemukan titik di mana kamu harus berhenti, menemukan alasan untuk berhenti. Kau pergi ke tempat-tempat di mana raga-raga lain berteduh dan kau lebih memilih untuk bersama dengan mereka dripada menghirup kesunyian kamarmu-aku tahu itu sunyi dan aku merasa dipasung di sana, tiap kali kita ada di sana, kesedihan melandaku. Aku ingin keluar, melihat langit dan bercanda dengan angin-itu lebih menyenangkan.&lt;br /&gt;Aku tahu kamu ingin pulang, tapi kamu tidak tahu kemana harus pulang, aku tahu kamu selalu memikirkan dia tiap kali kamu merasa ingin pulang. Hanya dia yang bisa membuatmu begitu rindu akan pelukan.&lt;br /&gt;Maaf, aku belum lahir saat pikiranmu masih begitu penuh dengan cinta dan kehangatan yang ia berikan.kamu tahu aku lahir saat beban mulai memberati punggungmu, jadi aku tidak sempat merasakan betapa hangat kasih yang ia curahkan padamu.&lt;br /&gt;Apakah kamu begitu kesepian?&lt;br /&gt;Aku tidak tahu sepi itu seperti apa, aku hanya tahu dan sadar bahwa saat kamu diam dan duduk terlalu lama, aku seperti tercekik.&lt;br /&gt;Hidup itu seharusnya sederhana, iya kan? Itu kan yang kamu pikirkan-dan kamu kecewa karena kemudian ia menjadi begitu rumit, dengan kepergian,penyesalan, keputusan dan hal-hal lain yang tersentuh oleh waktu.&lt;br /&gt;Aku tidak bisa melarangmu untuk berhenti menatap foto itu, saat kau dan adik-adikmu masih begitu bahagia bersama dia-aku tahu kalian sangat kehilangan dia.saat itu aku masih ada di luar ragamu, sahabatku. Masih di luar.&lt;br /&gt;Kami ini hanya akan muncul saat kamu mulai merasakan beban dalam hidupmu.&lt;br /&gt;Foto yang masih kau tatap itu begitu indah, kalian begitu bahagia, kenapa Dia mengambilnya dari kalian aku tak tahu. Aku tahu kamu selalu merasa hidupmu tidak seimbang, dan sisi sebelah mana yang harus di tambah dan ditambah dengan apa supaya semuanya jadi seimbang kamu tak tahu.&lt;br /&gt;Aku tahu kamu ingin menambahnya dengan apa, tapi itu tidak mungkin, dan kita harus mencari alternatif lain-untuk bisa menghilangkan ketidakseimbangan itu.&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7551881-108913716171175476?l=stanley-o.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://stanley-o.blogspot.com/feeds/108913716171175476/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7551881&amp;postID=108913716171175476' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7551881/posts/default/108913716171175476'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7551881/posts/default/108913716171175476'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://stanley-o.blogspot.com/2004/07/tentang-sepi_06.html' title='tentang sepi'/><author><name>stanley-O</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13041152574806417870</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7551881.post-108913706751306209</id><published>2004-07-06T11:03:00.000-07:00</published><updated>2004-07-06T11:04:27.513-07:00</updated><title type='text'>tentang sepi</title><content type='html'>Jiwa:&lt;br /&gt;Hari baru dan masih banyak, mungkin, kedukaan yang menari di hatimu?kamu tidak tahu?kalau begitu, mungkin benar yang orang itu katakan, jangan berkoar akan kedukaan yang sebenarnya biasa saja-masih banyak orang yang lebih menderita dari kamu.&lt;br /&gt;Kejam ya?masakan orang tidak bisa protes karena kedukaan yang mereka rasakan?aku rasa dia harus berpikir lebih dari 2 kali untk mengatakan itu padamu, aku tahu kamu-aku tinggal di dalammu, dia tidak, jadi dia tidak berhak mengatakan apa-apa-dia tidak tahu sedih yang kau rasakan. Sebenarnya dia harus membiarkanmu merasakan hal itu, tapi sepertinya dia terganggu sampai dia mengatakannya.&lt;br /&gt;Aku tahu kamu sangat menyayanginya, kamu bahkan mau berbuat apa saja untuk dia, hubungan yang aneh. Dan sebagai bagian tak terpisahkan dari mu aku juga sebenarnya tak mengerti kenapa kau sampai begitu sayang padanya.&lt;br /&gt;Dia bisa mengatakan bahwa dia juga punya pedih, tapi mungkin dia tidak bisa merasakan tidak benar-benar punya tempat untuk pulang, ketika semuanya terasa asing dan dia tidak tahu hidup seperti apa yang dia harus jalani, saat hidup hanya menjadi sebuah rutinitas mati yang mengubur jiwamu yang ingin beriak seperti air yang gembira dicium oleh angin dari timur.&lt;br /&gt;Jujur saja, aku juga sedih, kenapa kau sampai merasa tidak punya tempat untuk pulang, kamu punya rumah untuk pulang kan?kenapa kau merasa rumah itu tidak ada, tidak kau miliki?kau merasakan bahwa sebenarnya apa yang kau miliki sekarang bukan kepunyaanmu?kau merasa seperti tinggal di rumah sewaan?&lt;br /&gt;Mungkin aku ini jiwa yang bodoh, maaf  aku tidak bisa berbuat banyak atas beban yang kau rasakan. Kamu tau menarik nafas saja aku tidak bisa, itu hanya kamu yang bisa melakukannya. Menarik nafas, ya benar, menarik nafas, mungkin itu bisa sedikit membantu…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cuma sesaat? beban itu tidak hilang?tapi kan setidaknya kamu bisa lega untuk sejenak?kamu tidak bisa melupakannya.kamu ingin melupakannya tapi tidak bisa.aku dengar banyak orang yang bilang bahwa kau terlalu banyak berpikir-kenapa?&lt;br /&gt;Aku tahu bahwa kamu penasaran sekali kenapa beberapa raga lain yang hidup bersamamu mampu menari dengan santai di bawah matahari, kamu penasaran kenapa begitu banyak beban yang kamu pikirkan.&lt;br /&gt;Aku masih ingat hari-hari saat kau banyak berlari di bawah matahari dan memutuskan untuk menantang angin, dan menemukan sesuatu dari balik hembusannya yang kencang, menemukan titik di mana kamu harus berhenti, menemukan alasan untuk berhenti. Kau pergi ke tempat-tempat di mana raga-raga lain berteduh dan kau lebih memilih untuk bersama dengan mereka dripada menghirup kesunyian kamarmu-aku tahu itu sunyi dan aku merasa dipasung di sana, tiap kali kita ada di sana, kesedihan melandaku. Aku ingin keluar, melihat langit dan bercanda dengan angin-itu lebih menyenangkan.&lt;br /&gt;Aku tahu kamu ingin pulang, tapi kamu tidak tahu kemana harus pulang, aku tahu kamu selalu memikirkan dia tiap kali kamu merasa ingin pulang. Hanya dia yang bisa membuatmu begitu rindu akan pelukan.&lt;br /&gt;Maaf, aku belum lahir saat pikiranmu masih begitu penuh dengan cinta dan kehangatan yang ia berikan.kamu tahu aku lahir saat beban mulai memberati punggungmu, jadi aku tidak sempat merasakan betapa hangat kasih yang ia curahkan padamu.&lt;br /&gt;Apakah kamu begitu kesepian?&lt;br /&gt;Aku tidak tahu sepi itu seperti apa, aku hanya tahu dan sadar bahwa saat kamu diam dan duduk terlalu lama, aku seperti tercekik.&lt;br /&gt;Hidup itu seharusnya sederhana, iya kan? Itu kan yang kamu pikirkan-dan kamu kecewa karena kemudian ia menjadi begitu rumit, dengan kepergian,penyesalan, keputusan dan hal-hal lain yang tersentuh oleh waktu.&lt;br /&gt;Aku tidak bisa melarangmu untuk berhenti menatap foto itu, saat kau dan adik-adikmu masih begitu bahagia bersama dia-aku tahu kalian sangat kehilangan dia.saat itu aku masih ada di luar ragamu, sahabatku. Masih di luar.&lt;br /&gt;Kami ini hanya akan muncul saat kamu mulai merasakan beban dalam hidupmu.&lt;br /&gt;Foto yang masih kau tatap itu begitu indah, kalian begitu bahagia, kenapa Dia mengambilnya dari kalian aku tak tahu. Aku tahu kamu selalu merasa hidupmu tidak seimbang, dan sisi sebelah mana yang harus di tambah dan ditambah dengan apa supaya semuanya jadi seimbang kamu tak tahu.&lt;br /&gt;Aku tahu kamu ingin menambahnya dengan apa, tapi itu tidak mungkin, dan kita harus mencari alternatif lain-untuk bisa menghilangkan ketidakseimbangan itu.&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7551881-108913706751306209?l=stanley-o.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://stanley-o.blogspot.com/feeds/108913706751306209/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7551881&amp;postID=108913706751306209' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7551881/posts/default/108913706751306209'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7551881/posts/default/108913706751306209'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://stanley-o.blogspot.com/2004/07/tentang-sepi.html' title='tentang sepi'/><author><name>stanley-O</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13041152574806417870</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7551881.post-108913696167130941</id><published>2004-07-06T10:59:00.000-07:00</published><updated>2004-07-06T11:02:41.673-07:00</updated><title type='text'>tentang malam</title><content type='html'>Raga: &lt;br /&gt;Jiwaku lelah, mataku masih ingin terpejam&lt;br /&gt;Salahku, semalam ku berteman dengan pagi dan melawan kantuk-&lt;br /&gt;Menantang malam yang marah karena aku tak kunjung lelap…&lt;br /&gt;Bukan salahku juga, karena wanita itu mengucap salam yang menggetarkan jiwaku&lt;br /&gt;Kututup jendela kamar agar aku tak melihat senyum nya yang pucat,&lt;br /&gt;Menertawakan ketakutanku akan tubuhnya yang habis termakan masa dan tak kunjung beristirahat dalam keabadian karena jagad menghukum jiwa mereka, dan mereka pun berteman dengan masa yang tak habis…&lt;br /&gt;Kalau kulihat senyumnya, seribu malampun akan kutemani pagi&lt;br /&gt;Menantang malam yang meniupkan kantuk ke dalam peraduanku…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ahhh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup begitu tak bersahabat, tapi tak mungkin Cuma aku yang merasa demikian &lt;br /&gt;Karena aku tahu, sadar, paham ada milyaran jiwa lain yang merasa Sang Kuasa tak adil dan lebih baik mereka mati kalau hidup begini terus,&lt;br /&gt;Jiwaku lelah merasa begini terus, merasa sendiri, kosong tanpa pegangan jiwa lain yang mencintai jiwamu yang merangkak dan terpuruk dalam sudut-sudut mati saat yang kau dengar hanya binatang malam bernanyi-mensenandungkan pujaan alam…&lt;br /&gt;Jiwaku takkan mampu membayangkan menutup mata dalam kehampaan, menjadi jiwa tak berguna yang menyesali nasib, berteriak-teriak seakan kesedihan ini lah yang patut dikasihani, kesedihan inilah yang mengutuk jiwaku-mengukung kesadaran dan menutup mataku dari melihat keindahan dunia.&lt;br /&gt;Terima kasih karena mengingatkanku kalau kesedihanku belum apa-apa, kalau kesedihanku masih jauh dari ratapan mereka yang rumahnya digusur penguasa dan harus kehilangan sadar, potongan daging, tetesan darah agar gubug mereka tak diinjak, dirubuhkan, tak diratakan dengan tanah-jiwaku sedih untuk kesedihan mereka.&lt;br /&gt;Jiwaku harusnya sedih karena aku tak bisa berbuat apa-apa untuk menyelamatkan jiwa mereka, karena sampai selamanya hidup akan menjadi tidak bersahabat.&lt;br /&gt;Jiwaku harusnya sedih karena aku tak bisa merasakan kesedihan mereka, tak bisa ikut larut dalam buaian air mata yang mungkin mereka tak tahu sangat ingin kulahirkan di ujung mata, karena kupikir hidup tak adil untukku..&lt;br /&gt;Jiwaku masih hadir separuh, karena tadi malam separuhnya kuhabiskan bersama pagi yang berbicara dengan keinginan raga untuk terjaga.&lt;br /&gt;Jiwaku masih terbayang panggilan lembut dari balik jendela tak bertirai kamarku, panggilan lembut dari sisi malam yang gelap dan meninggalkan bekas kengerian.&lt;br /&gt;Dan pagi selalu menyelimuti raga dengan kantuk saat kau terlalu sering berteman dengan pagi. Janganlah kau terlalu sering berteman dengan pagi, saat kau seharusnya ikut bersama jiwa-jiwa lain beristirahat menyongsong hari baru dan tenggelam dalam buaian malam, jangan terlalu sering-nanti kau kurus.&lt;br /&gt;Hidup ini tak kan begitu indah saat kau kurus tak berdaya, banyak  keindahan dunia yang handir dsalam sekerlip mata dan kau lewatkan karena kau terlalu lelah mengejarnya. Sekali lagi kubilang, dunia ini tak adil. Karena tetap akan ada ketidakadilan buat semua tipe orang, termasuk orang kurus.&lt;br /&gt;Bagaimana untuk jadi senang dan menikmati hidumu wahai jiwa yang teriris pedih?&lt;br /&gt;Jiwa: &lt;br /&gt;Apa kau harus bersinar dengan jutaan permata berjuntai di ragamu?&lt;br /&gt;Kegadisan yang tidur dalam peluk kerinduanmu akan cinta?&lt;br /&gt;Apa kau harus menutup tirai masa lalumu dan hadir menjadi orang dengan cerita aneh akan hidupnya yang tak bahagia.&lt;br /&gt;Jangan terlalu banyak bermimpi, menghayal-nanti kau sakit karena entah kapan hayalan dan inginmu yang muluk itu jadi kenyataan.&lt;br /&gt;Aku takkan menertawakanmu, karena sekarang saja kau lemas tanpa harapan karena inginmu itu.&lt;br /&gt;Ingat saat apalah namanya kesedihanmu itu berdiam di anganmu, jiwamu seakan tercabut dari sukma. Kau mengharapkan dunia mau mkendengar cerita sedihmu, begitu banyak yang ingin kau bagikan dalam guratan sedih, aku tahu-karena aku jiwamu, dan kau terikat pilu karena tak ada yang mendengar sedihmu, dan waktu berjalan begitu saja-dan saat itu tak ada yang berhenti untuk bertanya dan mendengarkan sedihmu.&lt;br /&gt;Begitu sesalkah dirimu-tubuh tempat jiwa ini berdiang? Larakah yang kau rasakan saat bermalam-malam kau nantikan waktu untuk berbagi cerita sedih itu dengan mereka.&lt;br /&gt;Kau menanti, menanti dan menanti-aku tahu, karena lewat matamu kulihat hanya malam yang kau renungkan, padahal aku tahu tak ada yang bisa kau ajak bicara saat itu, tak ada yang mampu menemanimu melewati kisah sedih itu.&lt;br /&gt;Aku diam saja, tak berbuat apa-apa, karena kau sendiri tahu, aku tak bisa berbuat apa-apa untukmu. Aku hanya berpikir, mungkin kau memang sedang perlu waktu untuk merenungkan perhentian ini, pergantian ini, kesendirian ini.&lt;br /&gt;Maaf, tapi aku tak bisa membuatmu menangis seperti yang kau harapkan, mempertanyakan kenapa,kenapa, dan kenapa.&lt;br /&gt;Meski kau tak sadar, aku ikut kedinginan saat kau putuskan untuk berdiam di luar sana itu dalam gelap. Kau putuskan untuk menantang dingin sang malam, kau pikir kau bisa mendapat, meraih, menangisi sesuatu dari situ, tapi kau tak dapat apa-apa.&lt;br /&gt;Aku tahu, kau berharap kau mendengar nyanyian yang membuat jiwamu mengembalikan ingatanmu ke saat semua nya masih tanpa beban bagimu, saat hidupmu masih bagaikan batang pohon-kau masih tergantung.&lt;br /&gt;Tapi aku tak bisa berbuat apa-apa. Maaf. Aku ingin menangis untukmu, ragaku. Aku tahu kerinduanmu yang begitu besar akan dia. Tapi aku tak bisa berbuat apa-apa. Dia sudah jauh dari raihmu, dan aku sendiri hanya punya wujud yang tak ada ini.&lt;br /&gt;Sama sepertimu, aku ingin menangis, karena kutahu betapa kau kehilangan dia, betapa kau marah karena saat dia harus pergi maka gelap yang kau rasakan. Kau hanya punya ingatan akan dia, senyumannya.potongan-potongan kebahagian yang hanya bagian masa lalu.&lt;br /&gt;Aku memang tak bisa mengharapkanmu untuk melupakan, karena kau sendiri akan marah jika kau lupa akan dia.&lt;br /&gt;Aku tak tahu harus membawamu kemana supaya kau agak senang sedikit, dan melupakan potongan-potongan bahagia yang membuatmu sedih itu untuk sesaat. Daratan sudah menjadi istana beton, dan cor-coran semen di mana-mana.mengikat kerinduan jiwa-jiwa lain sepertimu akan segar dan hijaunya hidup dulu. Saat kita masih bisa berteman dengan alam, dan tak punya niat apa-apa selain melestarikan mereka buat hidup selanjutnya. Tapi saat ini kau tahu, mereka pikir bumi ini masih cukup luas-penderitaan yang mereka sebabkan pada wajah jagad ini belum seberapa. Jadi jangan terlalu sedih akan alam yang meronta.&lt;br /&gt;Salah kita, hidup itu penuh ketergantungan.&lt;br /&gt;Kau pasti tak bisa menolak saat kukatakan bahwa kau senang melihat raga-raga telanjang itu, bermain dengan napsu, memuaskan mereka, dengan kelamin yang tanpa lelah mereka jadikan sajian satu sama lain.&lt;br /&gt;Kenapa mereka katakan itu hiburan tak sehat?mungkin kau sendiri tak tahu bagaimana menjawabnya. Kau tidak berpikir apakah itu sehat atau tidak, kau menikmatinya, kau bermain dengan napsumu sendiri saat kau lihat mereka melenguh, berpeluk dan mereguk raga lain dalam pelukan birahi.&lt;br /&gt;Aku tahu, saat ini kau tak memikirkan semua itu, biarlah katamu, kau yakin banyak juga yang menikmati tubuh-tubuh telanjang yang bertukar lendir itu.&lt;br /&gt;Kau bingung apa yang ingin kau ceritakan?&lt;br /&gt;Sepertinya iya, karena kau tiba-tiba melihat ke jendela dan menerawang ke sana. Bertanya pada sesuatu yang tidak ada.&lt;br /&gt;Apakah jiwa-jiwa lain bisa menikmati hidup mereka?&lt;br /&gt;Aku tak tahu, mungkin mereka sama sepertimu, hanya melalui hidup ini dengan usaha keras agar tak terpuruk.apakah kita harus berhenti sebentar?&lt;br /&gt;Kau ingin tidur?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Raga: ya. Aku sudah mengantuk. Nanti cerita kulanjutkan lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7551881-108913696167130941?l=stanley-o.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://stanley-o.blogspot.com/feeds/108913696167130941/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7551881&amp;postID=108913696167130941' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7551881/posts/default/108913696167130941'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7551881/posts/default/108913696167130941'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://stanley-o.blogspot.com/2004/07/tentang-malam.html' title='tentang malam'/><author><name>stanley-O</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13041152574806417870</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
